Istana Makin Panik

JAKARTA – Lobi yang kian gencar dan intensif terhadap para tokoh partai politik (parpol) mitra koalisi menjelang hasil akhir Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century menunjukkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan elite Partai Demokrat mulai panik. Pendapat itu disampaikan sejumlah kalangan yang dihubungi di Jakarta, Minggu (28/2). Seperti diketahui, sejumlah petinggi Partai Demokrat dan dua staf khusus presiden, Andi Arief dan Felix Wanggai, telah melakukan pertemuan dengan berbagai tokoh parpol mitra koalisi.
Mereka yang memberikan komentarnya yakni anggota Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century dari Fraksi Partai Hanura Akbar Faisal, pengamat politik dari Universitas Indonesia Boni Hargens, pengamat politik dari Universitas Paramadina Yudi Latif, dan aktivis Gerakan Indonesia Bangkit Adhie Massardi.
Andi Arief dan Felix Wanggai antara lain bertemu dengan Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN Amien Rais, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung, Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung, dan Wakil Ketua DPR yang juga Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso.
Akbar Faisal menyatakan, Presiden SBY, orang-orang dekat SBY, dan sejumlah elite Partai Demokrat memperlihatkan kepanikan secara terbuka, sehingga melakukan segala cara untuk menutupi hasil akhir Pansus. Akbar menjelaskan, karena panik, maka segala cara dilakukan.
Selain lobi yang makin gencar, juga ada upaya untuk memunculkan berbagai tekanan kepada parpol mitra koalisi. Misalnya, tiba-tiba muncul isu reshuffle kabinet, reposisi koalisi, dan kasus pajak.
“Ini membuat kita bingung. Padahal, Pansus sudah terbuka sejak awal, dan data serta fakta sudah terbuka,” kata Akbar yang mengingatkan DPR melaksanakan fungsi kontrol dan DPR bukan mitra pemerintah.
Akbar kemudian menyoroti Staf Khusus Presiden Bidang Lingkungan Hidup Andi Arief, yang belakangan ini giat melobi sejumlah petinggi partai. “Andi Arief itu urusannya bencana. Seharusnya, dia di Ciwidey. Kenapa malah melakukan lobi politik. Ini kebablasan,” katanya.
Boni Hargens menilai, kunjungan Andi Arief dan Felix Wanggai ke sejumlah tokoh parpol mitra koalisi menjelang Rapat Paripurna DPR yang membahas rekomendasi akhir Pansus adalah tindakan sia-sia. “Roadshow Andi Arief dan Felix Wanggai ke tokoh-tokoh nasional itu overacting, berlebihan,” ujarnya.
Di kalangan aktivis, menurut Boni, rekam jejak (track record) Andi Arief kurang begitu bagus apabila dibanding aktivis lain, seperti di HMI. Terkadang, Andi melakukan tindakan di luar kebijakan ataupun yang disepakati para aktivis. “Di kalangan aktivis, Andi Arief tak masuk hitungan,” katanya.
Seharusnya, kata Boni, Presiden menghentikan apa yang dilakukan oleh Andi Arief dan Felix Wanggai. Menurut Boni, tak pantas lobi-lobi tingkat tinggi itu dilakukan oleh orang sekelas Andi Arief. “Lobi-lobi untuk memengaruhi hasil akhir Pansus bukan dikerjakan oleh orang sekelas Andi Arief,” ujar Boni.
Ia kemudian menyoroti langkah Andi Arief yang berniat melaporkan anggota Pansus dari Fraksi PKS, Misbakhum, kepada polisi terkait letter of credit dari Bank Century.
“Kalau dia (Andi Arief) punya data soal L/C fiktif, kenapa tidak dari awal kasus itu dibuka ke publik. Kenapa baru sekarang saat Pansus Bank Century akan berakhir. Tindakan itu justru tidak produktif dan berlawanan dengan upaya lobi yang dilakukannya,” kata Boni.
Yudi Latif menyarankan, Presiden sebaiknya menindaklanjuti hasil akhir rekomendasi Pansus ketimbang memengaruhi atau bahkan melemahkannya. Apalagi, akibat kasus skandal Bank Century, berbagai klaim keberhasilan program kerja 100 hari pemerintahannya menjadi sia-sia.
“Kalau SBY ingin mengembalikan citranya sebagai pemimpin yang bersih dan bertanggung jawab, maka ia harus menuntaskan kasus Bank Century. Bukan sebaliknya, SBY melalui staf khususnya dan elite partai melakukan lobi politik untuk meredam serangan DPR dalam kaitan Pansus Bank Century,” tuturnya.
Yudi Latif mengingatkan, skandal Bank Century harus dituntaskan. Jika tidak, kasus ini akan selalu menjadi luka bagi kelanjutan pembangunan. “Presiden, parlemen, dan aparat hukum harus bersama-sama menjadikan kasus ini selesai seadil-adilnya. Parpol juga harus konsisten, jangan sampai masyarakat kecewa,” ujarnya.
Adhie Massardi mengingatkan, parpol mitra koalisi agar tidak terpengaruh dengan lobi-lobi yang dilakukan orang-orang dekat SBY dan elite Partai Demokrat. Publik sangat berharap parpol menggunakan kasus skandal Bank Century sebagai momen untuk menciptakan sistem pemerintahan yang bersih.
“Saya melihat lobi-lobi itu tidak akan efektif karena saya yakin Pansus akan konsisten melaksanakan rekomendasi itu,” tuturnya.
Parpol yang belum tegas bersikap mungkin saja akan menerima dampak buruk bagi pribadi dan juga partai pada 2014. “Pansus telah menjadi investasi politik yang efektif untuk pengenalan publik. Jika ada unsur pragmatisme dan oportunisme, maka akan menurunkan harapan publik pada 2014,” ujarnya.
Sementara itu, Andi Arief dan Felix Wanggai mengatakan, sejumlah tokoh yang berhasil mereka temui telah menyatakan sepakat bahwa penyelesaian kasus Bank Century pascalaporan dan rekomendasi akhir Pansus DPR berada di ranah hukum.
Hal itu disampaikan Andi Arif dan Felix Wanggai kepada wartawan, Sabtu (27/2), usai bertemu Amien Rais. “Kita sepakat dengan tokoh-tokoh bahwa persoalan yang benar harus ditunjukkan yang benar dan yang salah harus ditunjukkan yang salah serta siapa pun yang tersangkut dalam persoalan penyalahgunaan wewenang harus di proses dalam wilayah hukum,” kata Felix.
Ia menambahkan, pertemuan dengan para tokoh itu tidak khusus membahas perkembangan penanganan kasus Bank Century, tetapi juga membicarakan berbagai hal. “Beberapa hari terakhir ini kami coba untuk membangun tali silaturahmi dengan tokoh-tokoh nasional, baik yang berlatar belakang politik maupun ormas. Maksudnya, yang pertama membangun tali silaturahmi yang lebih erat lagi dengan tokoh-tokoh itu. Kedua, sesuai amanat dari Presiden agar kita selalu membangun komunikasi dengan berbagai tokoh masyarakat juga dengan simpul-simpul masyarakat,” katanya.
Andi Arief mengatakan, pembicaraan dengan Pramono Anung, Priyo Budi Santoso, Akbar Tandjung, Syafi`i Maarif, dan Amien Rais memang tidak dapat dihindari untuk membicarakan perkembangan kasus Bank Century, karena situasi politik saat ini berhubungan dengan Bank Century.
“Saya dan Felix coba memberi informasi, seperti tim sembilan memberi informasi untuk beberapa tokoh ini. Karena informasi kami berbeda dengan cara pandang tim sembilan,” katanya. Ia membantah lobi itu dilakukan untuk memperlemah hasil akhir atau rekomendasi Pansus.
Sementara itu, pakar hukum tata negara Irman Putrasidin mengatakan, pekerjaan Panitia Khusus Hak Angket DPR untuk kasus Bank Century bukan untuk menjatuhkan Wakil Presiden Boediono dan Menkeu Sri Mulyani. Dinamika itu mencerminkan kerinduan bangsa terhadap seorang pemimpin.
“Kita ini tidak ada yang membenci Boediono dan Sri Mulyani, hanya bangsa ini sedang rindu seorang pemimpin,” kata Irman.
Menurut dia, sebenarnya pemerintah tidak perlu takut dengan proses di Pansus karena hal itu diatur dalam konstitusi. “Sekarang, ini konstitusi sedang ‘menjewer Presiden’. Dan, konstitusi itu sedang gentayangan di Pansus,” kata Irman. (Suara Karya)
Ditulis oleh K@barNet di/pada 01/03/2010