Banyak Politisi ‘PALSU’ dan BUSUK

Jakarta – Pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Tubagus Januar Soemawinata menilai, banyak politisi yang berkelakuan oportunis alias bunglon. Mereka tidak untuk memperjuangkan aspirasi rakyat yang tertindas, melainkan hanya bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri dan bahkan melakukan deal-deal dengan penguasa.
“Sebagian anggota DPR tidak berkiprah sebagaimana tugasnya selaku wakil rakyat. Mereka hanya pura-pura vokal alias ‘palsu’ memperjuangkan kepentingan rakyat, dan menggunakan posisi jabatannya sebagai anggota Dewan untuk melobi penguasa dan bila perlu menjadi bunglon,” ungkapnya kepada jakartapress.com, Selasa (31./8/2010).
Menurut Januar, akibat banyak anggota DPR yang sibuk dengan permainannya sendiri maka tugas utamanya banyak tyang terbengkalai. Contohnya, kinerja DPR masih rendah dapat terlihat dari target penyelesaian prolegnas 2010 yang mencapai 70 Rancangan Undang-Undang (RUU) hingga Agustus ini ternyata baru tujuh RUU yang diselesaikan.
“Kinerja anggota DPR memang belum optimal, masih ada anggota DPR yang malas, bolos saat sidang-sidang komisi dan rapat paripurna, atau tidur di ruang rapat paripurna. Kelakuan jelek ini semua harus dirubah. Mereka harus sadar bahwa gaji yang diterima selama ini adalah uang rakyat yang diwakilinya, bukan uang dari penguasa,” tutur mantan aktivis ini.
Januar juga menduga ada anggota DPR yang sengaja dipasang bosnya di partai politik untuk menyelamatkan perusahaannya. “Dia dipasang di komisi tertentu, dengan harapan untuk melakukan lobi-lobi dengan menteri atau pejabat di instansi pemerintah yang terkait dengan perusahaan bosnya, Dari sinilah cincai atau kongkalikong bisa dimainkan antara panguasa dan pengusaha, sehingga merugikan rakyat dan negara,” tegas pengamat Unas.
Lebih lanjut, ia pun tidak simpati terhadap politisi oportunis alias bunglon yang jumlahnya tidak sedikit pula. “Ada yang sebelumnya setiap hari mengejek dan menghujat SBY, tetapi setelah diberi proyek dan fasilitas oleh penguasa, gantian dia membela kebijakan SBY dan hampir tidak pernah lagi mengkritisi pemerintahan SBY dan bersuara keras seperti sebelumnya,” ungkap Januar.
Namun, lanjutnya, setelah si politisi itu tidak dipakai lagi, dia pun bersuara lantang dan vokal kembali mengkritik SBY. “Artinya, politisi macam itu bacotnya tidak bersuara untuk kepentingan rakyat, melainkan hanya berteriak-teriak untuk kepentingan sendiri agar dikasih proyek atau ‘dipakai’ oleh penguasa setelah dia pura-pura bersuara vokal menghujat penguasa,” beber Januar yang juga paranormal asal Banten ini.