Showing posts with label haji. Show all posts


Mungkin sebuah keajaiban dalam sebuah peristiwa yang sangat langka, seorang yang telah 20 tahun tidak bisa berbicara dan mendengar, akhirnya bisa normal seperti semula setelah meminum air zam-zam.
Surat kabar Saudi Al-Wathan melaporkan hari Ahad kemarin (14/11) bahwa seorang pria Somalia bernama Ali Abdul Rahman Asy-Syarif (42 tahun) mengatakan bahwa dirinya sejak dua puluh tahun yang lalu sudah tidak bisa berbicara dan mendengar orang berbicara akibat terluka karena tembakan dalam perang saudara di Somalia.
Ia dan keluarganya akhirnya terpaksa pindah ke Inggris agar dapat hidup dengan aman dan melakukan pengobatan terhadap kebisuan dan ketulian yang ia derita. Di Inggris ia tinggal dengan istrinya dan dikarunia dengan empat orang anak, dan seorang dokter telah memberikannya kartu pengenal yang menjelaskan bahwa dirinya seorang yang tuli dan bisu.
Selama di Inggris, ia menjelaskan bahwa dirinya telah berobat dengan berbagai macam dokter spesialis, namun mereka gagal mendeteksi dan mengobati kebisuan dan ketulian yang ia alami.
Asy-Syarif menyatakan keanehannya yang ia alami tersebut bermula setelah ia meminum air zam-zam setelah melakukan ihram, dan pada waktu subuh ia mendengar suara adzan berkumandang dari masjidil haram dan ia pun bergegas memberitahukan kepala delegasi hajinya bahwa dirinya telah bisa mendengar dan berbicara. Hal tersebut membuat heran dan bingung teman-teman satu kloternya.
Syarif menjelaskan bahwa mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat bahkan mereka membawa Syarif ke rumah sakit di Mekkah untuk diperiksa kembali dan dokter di sana menyatakan positif bahwa Syarif telah bisa mendengar dan berbicara kembali.
Dr. Muhammad Razali seorang Konsultan Telinga Hidung dan Tenggorokan Rumah Sakit Raja Faisal di Mekkah, mengatakan bahwa biasanya kejadian seperti ini dapat pulih total selama enam bulan, tetapi ada kasus yang jarang terjadi di mana orang yang tuli dan bisu dapat kembali normal seperti semula atas izin Allah SWT, dan kasus Syarif merupakan salah satu kasus langka yang dapatkan.
Dr. Razali juga menjelaskan bahwa kasus seperti Syarif ini bukan kasus pertama, beberapa waktu yang lalu ada seorang jamaah yang kemana-mana harus mengenakan kacamata namun setelah meminum air zam-zam sewaktu ia menunaikan ibadah haji, dirinya tidak lagi memerlukan kacamata.(fq/imo) eramuslim.com

Arafah Hujan Tangis dan Keharuan Saat WukufREPUBLIKA.CO.ID,ARAFAH--Suasana Wukuf di Lembah Arafah sungguh sangat mengharukan. Rombongan-rombongan jamaah yang sudah datang sejak semalam, Ahad (14/11) malam, tidak pernah meninggalkan aktifitas ibadah. Sejak semalam, tenda-tenda selalu dipenuhi jamaah yang sedang berdzikir dan bertafakkur dengan dipandu oleh masing-masing kiai atau ustadz melalui pengeras suara.

Sementara di luar tenda, di antara sela-sela lorong tenda, trotoar-trotoar dan ruangan-ruangan terbuka atau di bawah-bawah pohon, hampir-hampir tidak ada yang sepi dari jamaah yang sedang berdoa, berdzikir maupun membaca al-Qur`an. Pemandangan seperti ini berlangsung hingga sore hari, Senin (15/11).

Bahkan sejak Senin siang tadi, ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat dan waktu Sholat Dzuhur dimulai, kegiatan ibadah wukuf di Arafah mencapai puncaknya. Tenda-tenda semakin penuh dan ruang-ruang di luar tenda juga semakin padat. Di tenda-tenda jamaah Indonesia, kita dapat melihat suasana yang seragam, semua jamaah tertunduk dalam doa dan kekhuyukan.

Meski tidak ada larangan untuk berdiam atau melakukan ibadah wukuf di dalam tenda, namun beberapa jamaah lebih memilih berdzikir dan bertafakkur di luar tenda. Sejak melaksanakan Sholat Dzuhur, hampir semua jamaah tidak lagi beranjak dari tempatnya masing-masing. Dengan berjamaah atau sendiri-sendiri mereka terus menerus berdoa dan berdzikir kepada Allah SWT. Masing-masing terpekur dengan pikiran dan persiimpuhan munajatnya masing-masing.

Namun pemandangan ini rupanya tidak berlangsung lebih lama dari waktu Dhuhur. Sebentar kemudian, ketika bayang-bayang mentari telah melebihi benda-benda di atas bumi, dan waktu Sholat Ashar mulai menjelang, pemandangan mendadak berubah. Suasana haru kini meliputi wajah setiap jamaah, mata-mata menjadi sembab memerah dan suara-suara tertahan dalam isak parau. Sementara lantunan doa terus mengalun di setiap tenda meningkahi air mata yang bercucuran dari tiap pasang mata jamaah.

Ketika matahari semakin rendah, padang Arafah pun berubah menjadi menjadi lembah yang dipenuhi keharuan oleh hujan tangis. Dengan dikomando oleh ustadz atau kiainya masing-masing, para jamaah haji di semua tenda hampir serempak berdiri dan bersalam-salaman. Mereka berbaris berjajar dan saling berpelukan dengan mata berkaca-kaca.

Suami-isteri saling berpelukan dan bermaaf-maafan dalam tangis-tangis tertahan. Mereka yang bersahabat dengan teman-temannya juga saling bersalaman dan mulai saling berusaha mencoba memanggil nama baru teman-temannya dengan embel-embel gelar haji di depannya.

Karena rata-rata jamaah Indonesia sudah menunaikan Sholat Ashar dengan Jama` Taqdim, maka suasana ini tampak utuh dan tidak terpotong oleh kegiatan jamaah yang meninggalkan tempat untuk mengambil Wudhu Sholat Ashar. Hingga akhirnya keharuan berangsur reda dengan sendirinya.

Sementara itu sore mulai menjelang, di tenda-tenda petugas, kesibukan telah dimulai. Mereka yang akan bertugas ke Muzdalifah demi malayani para jamaah yang akan mabit (bermalam/menginap) di sana, akan segera berangkat lebih awal sebelum matahari terbenam.


Syabab.Com - Jutaan kaum Muslim dari seluruh dunia berkumpul di Mekkah untuk melaksanakan ziarah tahunan terbesar di dunia, ibadah haji.  Hari ini, Senin, 14 November 2010, bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1431 H, sekitar 2,5 juta jamaah haji akan berkumpul di Arafah untuk melaksanakan wukuf. Sehari sebelumnya, mereka telah tiba di Mekkah untuk memulai secara resmi ibadah haji dengan pergi ke Mina pada hari kedepalan Dzulhijjah, bulan terakhir di dalam Islam.
Pihak berwenang Saudi mengatakan mereka telah memberikan izin bagi 1,7 juta orang jamaah haji dari luar negeri dan sekitar 200.000 dari Arab Saudi dan negeri tetangganya.

Pengurus haji setempat menetapkan aturan ketat bagi para jamaah dan memberikan fasilitas lebih banyak dan sistem transfortasi yang lebih baik.

Para pengangkut jamaah haji yang tidak sah akan didenda 2,667 US dolar untuk setiap individu. Sedangkan kapasitas di bawah 25 penumpang dilarang memasuki tempat haji.

Tahap pertama dari kereta api Mishair baru atau metro Mekkah, akan mengangkut para jamaah antara Mina dan bukit Arafah melalui Muzdalifah, di mana terletak di antara Gunung Arafah dan mina, tahun ini.

Di tempat pelemparan Jumrah, juga telah diperluas hingga lima tingkat dengan gerakan yang disalurkan dalam satu arah. Sementara masalah keamanan masih mengkhawatirkan pihak otoritas.

Hanya saja, sayang ibadah haji yang semestinya bukan semata ibadah ritual, di mana kaum Muslim bersatu dalam satu tujuan telah kehilangan makna ketika pelaksanaan ibadah haji dijauhkan dari sisi siyasah.

Bahkan pihak penguasa Arab telah memberikan peringatan kemungkinan adanya 'sabotase' al-Qaida. Raja Arab Saudi, Abdullah, telah menunjuk wakil kedua Perdana Menterinya Pangeran Nayef untuk mengawasi haji.

Walaupun ibadah haji telah dilaksanakan selama bertahun-tahun oleh kaum Muslim, namun tidak ada sedikitpun bentuk perlawanan dalam bentuk gerakan yang besar dari jamaah haji yang hadir di Makkah.
Aksi protes oleh sabagian kecil kaum Muslim saat mengerjakan haji tentu tidak berpengaruh sedikit pun malah dianggapanya sebagai pengacau oleh pihak keamanan Makkah. Seharusnya kebangkitan ini harus terjadi di seluruh tingkat agar dapat menunjukkan ke sesuatu hal yang harus dipandang serius oleh kaum Muslim di seluruh dunia.

Bila sepanjang sejarah zaman pemerintahan Islam, musim haji merupakan tempat berkumpulnya umat Islam bersama Khilafah untuk duduk bersama dan membicangkan perkara berkaitan dengan kepentingan kaum Muslim, tetapi pada masa ini, pertemuan haji bukan saja hanya memperlihatkan aspek ritual di kalangan jamaah belaka, namun juga menunjukkan dengan jelas sentime ashobiyyah di kalangan jamaah.

Insya Allah, suatu saat nanti Khilafah akan mengembalikan ingatan kita kepada perjuangan Rasulullah Saw di Makkah dan jamaah haji akan berkumpul di Makkah bersama amirul mukminin mereka, Khalifah Rasyidin. Amin. [m/f/prstv/syabab.com]


Al-Qaidah di Semenanjung Arab (AQAP) yang berbasis di Yaman pada hari Ahad ini (14/11) membantah akan melakukan serangan yang bertepatan dengan Muslim ibadah haji ke Arab Saudi setelah Menteri Saudi mengatakan kemungkinan operasi semacam itu tidak dapat dikesampingkan.
Hanya lebih dari seminggu yang lalu, AQAP mengaku berencana mengirimkan dua bom paket ke Amerika Serikat yang menyebabkan peringatan keamanan global. Bahan peledak dicegat di Dubai dan Inggris sebelum mereka bisa diledakkan berikut ada peringatan dari Arab Saudi.
"Kami menentang setiap kejahatan terhadap jamaah haji ... haji merupakan pilar Islam dan kami tidak ingin menumpahkan darah umat Islam, dimanapun mereka berada. Mekkah adalah lebih suci daripada tempat lain," kata AQAP di pernyataan yang diposting di sebuah situs Islam sering digunakan oleh kaum Jihadis.
Pernyataan itu datang menyusul pernyataan minggu lalu oleh menteri dalam negeri Saudi di mana ia memperingatkan bahwa Al-Qaidah mungkin akan menyerang sekitar dua juta Muslim yang akan mulai melakukan ibadah haji mereka di Arab Saudi pada hari Ahad ini.
Ditanya apakah al-Qaidah mungkin bertahap melakukan serangan terhadap haji atau menggunakan acara ibadah haji untuk mencoba dan memasukkan pejuang dari Yaman ke dalam kerajaan, Pangeran Nayef bin Abdulaziz berkata: "Kami tidak dapat mengesampingkan operasi itu, tapi kami siap untuk menggagalkannya"
Arab Saudi khawatir tentang adanya nfiltrasi di perbatasan 1.500 km (900 mil) dengan Yaman dan yang dikenal karena penyelundupan. . Sayap Al-Qaidah di daerah Yaman telah menyatakan ingin menggulingkan keluarga penguasa Saudi.
"Upaya putus asa Al Saud untuk membasmi mujahidin telah membuat mereka memalsukan semua pernyataan mereka, termasuk pernyataan dari menteri dalam negeri Saudi tentang kemungkinan tindakan merusak oleh mujahidin terhadap jamaah haji," kata AQAP dalam pernyataannya.
Pada bulan Agustus 2009, seorang pembom bunuh diri AQAP mencoba membunuh Pangeran Muhammad bin Nayef, yang memimpin kampanye anti-terorisme Arab Saudi dan merupakan anggota keluarga kerajaan Saudi.
Dalam pernyataannya, kelompok itu juga mengutuk kerjasama intelijen AS-Saudi yang menyebabkan penemuan plot bom paket.
"Apa yang membuktikan bahwa Al Saud bekerja sama dengan dan memiliki kesetiaan penuh terhadap Amerika dan Yahudi adalah bahwa mereka memberitahu mereka tentang adanya paket peledak, yang diperuntukkan bagi orang Yahudi dan Amerika," katanya dalam pernyataannya. (fq/hrzt) eramuslim.com

Surabaya (voa-islam.com) - Umat Islam yang hendak melaksanakan rukun Islam kelima harus bersabar. Meski Kementerian Agama tahun ini mensyaratkan setoran awal atau ongkos naik haji (ONH) sebesar Rp 25 juta —naik Rp 5 juta dari tahun sebelumnya— namun umat tidak lantas bisa langsung berangkat karena mereka yang mendaftar tahun ini baru akan bisa berangkat 2018.

Dengan kata lain, saat ini dibutuhkan waktu delapan tahun untuk menunggu keberangkatan. Itu pun harus dipastikan dengan menggengam nomor porsi.

Dengan lamanya waktu tunggu berangkat haji ini, jika sudah berniat naik haji sebaiknya harus menjaga kesehatan. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan hingga batal berangkat, tidak mudah menggantinya.
...Bagi yang mendaftar haji tahun ini dipastikan baru bisa berangkat tahun 2018,” jelas Hikmah Hasan...
"Sebaiknya memang semua harus bersabar. Dari tahun ke tahun, peminat selalu meningkat. Di satu sisi mengindikasikan ekonomi Indonesia membaik. Bagi yang mendaftar haji tahun ini dipastikan baru bisa berangkat tahun 2018,” jelas Hikmah Hasan, Plt kepala Bidang Urusan Haji Kanwil Kementrian Agama Jatim, Kamis (11/11/2010), di Surabaya.

Kepastian tersebut didapat setelah makin banyaknya pendaftar yang hendak naik haji. Sebagaimana data yang disampaikan Panitia Pelaksanaan Ibadah Haji, rata-rata jumlah kuota haji di Jatim hampir 34.000, tepatnya 33.935 kursi. Jumlah ini sudah bertahan hingga tiga tahun terakhir. Diprediksi, jumlah ini tidak mengalami perubahan hingga beberapa tahun mendatang.

Lamanya antrean pemberangkatan haji hingga delapan tahun ini tidak terlepas dari semakin banyaknya peminat. Sampai detik ini, calon jemaah haji yang sudah mendapat kartu porsi sudah terpenuhi hingga tahun 2017. Artinya, mereka yang mendaftar tahun ini akan dimasukkan dalam kartu porsi untuk diterbangkan pada tahun berikutnya.

“Hitungannya begini, porsi Jatim setiap tahun memberangkatkan sekitar 34.000. Pendaftar ke 34.001 masuk di tahun berikutnya. Demikian seterusnya hingga saat ini sudah terpenuhi kuota hingga tujuh tahun mendatang. Bahkan, untuk tahun kedelapan sudah ada pendaftar mencapai 5.000 orang,” terang Fatchul Arif.

Tambahan Kuota
Dalam hitungan calon jemaah haji, saat ini yang inden untuk diberangkatkan sudah mencapai 238.000 lebih. Sebenarnya, masih ada kabar baik agar bisa merebut sisa-sisa untuk menjadi calon jemaah haji. Pemerintah setiap tahun memberi tambahan kuota hingga 10.000 kursi sesuai yang dikehendaki pemerintah Arab Saudi.

Namun jumlah ini tampaknya lebih banyak diperuntukkan bagi penyetor ONH plus. Sebab, dalam aturan Kementrian Agama, 6.500 merupakan enyetor ONH plus. Sementara sisanya sebanyak 3.500 kursi diperuntukkan bagi peserta reguler atau ONH yang menyetor awal Rp 25 juta.

Mereka yang sudah menyetor setoran awal ini bisa langsung menyerahkan bukti setoran ke Kantor Kemenag kabupaten/kota. Setelah itu pendaftar akan mencapat nomor porsi dan SPPH. Mereka harus menyertakan foto. Setelahnya diminta melunasi kekurangan dan mendapat surat pengantar untuk mengurus paspor. Setelah disetorkan kekurangan mendapat visa.

“Soal besaran total setoran haji tetap disesuaikan dengan kurs rupiah atas dollar. Kalau nilai rupiah stabil seperti saat ini, kira-kira total ongkos naik haji di kisaran Rp 32 juta,” lanjut Arif.

Sementara itu, hasil evaluasi pelaksanaan ibadah haji melalui embarkasi Surabaya, pelayanan kesehatan menjadi catatan. Dari 40.125 calon jemaah haji, 41 persennya masuk resiko tinggi. Namun hanya ada satu mobil ambulans yang ada.

Pernah satu mobil ini mengangkut empat jemaah sakit hingga ke Bandara Juanda. Selain itu, jemaah juga mengeluhkan lamanya masa tunggu di Juanda. Kalau pesawat terlambat atau belum ada sebaiknya tetap di asrama dulu. (LieM/trb)

Makkah - Ini sudah 9 hari Hajah Nurmian bersabar di Makkah. Tahun 2010 ini Hajah Nurmian naik haji untuk yang kedua kali. Tapi haji yang kedua ini, ibu hajah benar-benar harus sabar.

Soal bersabar tentu Hajah Nurmian sudah sangat paham. Jamaah kloter 9 Batam ini tahu melaksanakan ibadah haji akan menemui banyak ujian termasuk dalam hal kesabaran.

Maka ketika Sabtu (6/11/2010) siang, kloter 9 embarkasi Batam, berdemo di Kantor Haji Indonesia Makkah, Hajah Nurmian tampak tenang meski tidak bisa menyembunyikan kekecewaan yang sudah dipendam satu minggu lebih.

Jamaah asal Riau termasuk Hajah Nurmian datang ke Daker Makkah untuk memprotes kondisi pemondokan mereka yang buruk. Di Daker, sebagian dari mereka duduk di lantai, di kursi dan beberapa tempat ruang kerja staf PPIH Daker Mekkah. Mereka kembali datang karena sudah sepekan keluhan mereka  tidak ditanggapi.

Sejumlah jamaah laki-laki marah dan berteriak-teriak memprotes Kepala Daerah Kerja Mekkah Cepy Supriyatna. Tapi Hajah Nurmian memilih tidak emosional.

Saat ditanya wartawan, baru dengan suara yang tenang, Hajah Nurmian menuturkan kondisi buruk pemondokannya. Ia juga menceritakan, perjalanan dari pemondokan menuju Masjidil Haram sungguh tidak ringan terlebih bagi nenek seusia Nurmian.

Hajah Nurmian tinggal di rumah 313 Aziziah Samaliah, yang jaraknya sekitar 6 kilometer dari Masjidil Haram. Rumah itu dihuni sekitar 2.000 jamaah. Kondisi pemondokan menyedihkan, air sering macet dan fasilitas MCK tidak memadai. Satu kamar dihuni 7-9 jamaah. Sementara fasilitas kamar mandi hanya ada dua untuk 30 jamaah.

"Kami harus bangun jam satu pagi untuk antre  mandi. Subuh air sudah mati, nak," tutur Hajah Nurmian dengan suara datar.

Setelah bersabar mengantre mandi sekitar satu jam, nenek 69 tahun ini pun harus kembali sabar mendapatkan angkutan. Nenek kurus ini berjalan sekitar 200 meter dari pemondokan untuk mendapatkan bus.

"Bus tidak mau masuk karena pemondokan kami ada di dalam gang. Kami naik bus dua kali dan berdesak-desakan dan sering harus berdiri," curhat Ibu Hajah ini.

Turun dari bus, nenek-nenek ini berjalan lagi 1 kilometer lebih untuk sampai di Masjidil Haram.

Selain perjalanan yang berat dari pemondokan ke Masjidil Haram, Hajah Nurmian juga mengeluhkan tentang kesulitan makanan. Di pemondokan memang disediakan dapur dengan kompor gas, tapi gasnya tidak ada dan ia tidak tahu harus kemana bila ingin membelinya.

"Yang kami sedihkan ada orang Indonesia jualan nasi, tapi kemarin saat  datang diburu polisi. Bagaimana kami bisa makan?" kata Nurmian.

Menurut Katua Rombongan (Karom) 2 kloter 9 Batam, Jamal, separuh dari  jamaah di kloternya merupakan jamaah usia lanjut. Jamal meminta kloternya bisa dipindah ke pemondokan yang lebih dekat.

Sementara Cepy berjanji akan meninjau pemondokan jamaah dan meminta pemilik pemondokan agar memperbaiki fasilitasnya terutama air.

"Kami akan panggil pemilik rumahnya agar memperbaiki fasilitas," kata Cepy.

Para jamaah laki-laki tetap tidak terima dengan penjelasan Cepy. Mereka meminta agar mendapat pengembalian uang untuk ganti transportasi.

"Selesaikan hari ini. Atau kalau tidak bisa kembalikan uang kami. 1.200 riyal per jamaah. Pondok di sekitar situ harganya 2.200 riyal, sementara pondok 313 yang kami tempati harga yang harus dibayar 3.400 riyal," kata Jamal.

Hajah Nurmian menyatakan ia ikut datang memprotes Daker Mekkah bukan berarti ia tidak bersabar. Ia mengaku ingin tahu kenapa jamaah Indonesia yang jumlahnya besar mendapatkan pemondokan yang jauh dan buruk dibandingkan jamaah negara lain.

"Kenapa jamaah Indonesia mendapatkan pemondokan yang paling jauh? Jamaah Iran dan Irak yang jumlahnya sedikit bisa mendapat pemondokan di tengah," ujar Hajah Nurmian.


Sindikat Pencuri Mulai Beroperasi di Pondokan Makkah
Pemondokan jamaah haji Indonesia
REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH--Aksi sindikat pencurian barang milik jamaah di pemondokan mulai terjadi. Setidaknya hal ini dialami empat jamaah haji indonesia menjadi korban aksi pencurian di pemondokan sektor enam wilayah Jumaizah, Mekkah.

"Total kerugian mencapai Rp 11,75 juta dan 1.120 riyal. Kejadiannya di kamar 103 dan 102 pemondokkan nomor 607," kata Kepala Seksi Pengamanan (PAM) Daerah Kerja Makkah, Firman Hakim, di kantor Misi Haji Indonesia, Mekkah, kemarin.

Menurut data yang dimiliki Firman, hingga saat ini, diluar empat korban tersebut, total uang yang berhasil digondol pelaku kriminal di Mekkah berjumlah Rp 40,392 juta,  6.600 riyal, dan 800 dolar AS.

Menurut dia hingga saat ini pihak keamanan (Askar) telah mengidentifikasi melalui sidik jari pelaku. Indikasinya pelaku adalah orang Banglades yang kemungkinan melakukan kerjasama dengan penjaga pemondokkan yang juga sama-sama orang Bangladesh.

Firman menjelaskan aksi pencurian berlangsung pada saat jamaah haji menunaikan ibadah Shalat Subuh ke Masjdil Haram. Pihaknya bersama keamanan setempat akan terus meningkatkan kewaspadaan dan menelusuri kasus ini sekaligus akan membongkar jaringan pelakunya.

Berdasarkan catatan, mereka yang menjadi korban pencurian adalah Halidi bin Lowan, Ratna binti Sabran, Niah binti Sabar dan Abdul Samad bin Matjan.

Kesulitan sangat dirasakan ketika petugas dan jamaah calon haji ke kamar kecil dan mengambil air wudhu

Hidayatullah.com--Air ledeng di Bandara Haji King Abdul Aziz Jeddah masih belum mengalir menyebabkan para Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dan jamaah calon haji dari Tanah Air yang baru tiba di bandara tersebut Kamis mengalami kesulitan air.

Kesulitan sangat dirasakan ketika petugas dan jamaah calon haji ke kamar kecil dan mengambil air wudhu.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Jeddah, Ahda Barori, Kamis, mengatakan, keadaan ini diharapkan segera berakhir jika pipa ledeng besar yang pecah segera diperbaiki. Pihak otoritas di Bandara tersebut masih berusaha memperbaiki kerusakan pipa tersebut.

Untuk mengatasi keadaan itu, pihak bandara setempat telah mengerahkan sejumlah mobil pembawa air bersih yang kemudian airnya di tuangkan ke dalam bak penampungan sementara.

"Keadaan itu yang bisa dilakukan pihak bandara," kata Ahda sambil minta pengertian agar semua pihak dapat memahami kesulitan yang dialami pihak bandara atas kasus tersebut.

Sebetulnya, untuk pengganti wudhu, bisa pula dengan cara tayamum. "Saya kira, untuk jamaah hal ini sudah bisa dilakukan mana kala keadaan darurat terjadi. Dalam pelajaran manasik haji, toh sudah ada," katanya menjelaskan.

Kapan pipa ledeng yang pecah tersebut dapat berfungsi kembali, hingga kini belum dapat dipastikan, katanya.[ant/hidayatullah.com]

Jeddah - Jumlah korban tewas akibat banjir bandang yang melanda Jeddah, Arab Saudi, terus bertambah. Hingga kemarin, tercatat 83 orang menjadi korban musibah tersebut. Angka ini diperkirakan akan semakin membengkak karena masih banyaknya warga yang melaporkan kehilangan anggota keluarga mereka. Jeddah terletak di Arab Saudi sebelah barat dan berjarak 80 km dari Mekkah.

Jeddah merupakan gerbang utama menuju Kota Suci Mekkah yang kini dipadati tidak kurang dari 3 juta umat Islam yang tengah melaksanakan ibadah haji. Namun, pejabat Jeddah memastikan tidak ada satu pun korban tewas merupakan jamaah haji. Banjir bandang di Kota Jeddah juga tidak terlalu berpengaruh pada pelaksanaan ibadah haji.
Meski hujan sempat turun di Mekkah, Arafah, dan Mina serta membasahi tenda dan karpet di dalamnya, prosesi wukuf ataupun melempar jumrah tidak mengalami kendala berarti. Banjir bandang terjadi akibat hujan lebat yang mengguyur Jeddah sejak tiga hari lalu. Selama tiga hari kemarin, curah hujan di Jeddah diperkirakan mencapai 70 mm. Angka ini terbilang sangat tinggi mengingat curah hujan ratarata sepanjang tahun di Jeddah hanya 67 mm.

Hujan lebat di Jeddah memang jarang terjadi mengingat Arab Saudi beriklim kering/gurun dengan curah hujan sangat rendah. Hujan lebat biasanya hanya terjadi pada bulan Desember. Namun, tahun ini hujan lebat justru turun pada November dan menimbulkan banjir terburuk dalam 27 tahun terakhir.

Di beberapa sudut Kota Jeddah, ketinggian air diperkirakan mencapai lebih dari 1 meter. Banjir juga menghancurkan jalan dan jembatan hingga membuat banyak orang yang sedang melintas tewas dan terseret banjir. Beberapa wilayah yang mengalami banjir paling parah terletak di sebelah timur jalur tol Jeddah- Mekkah seperti Al-Muntazahat, Quaizah,Al-Adl, Al-Sulaimaniyah, dan Al-Jamaa.
Di wilayah itu, banjir bahkan merusak jalur Al-Harmain Expressway yang sebenarnya baru akan diresmikan dalam waktu dekat. Di Distrik Abraq Al-Raghama sejumlah warga terpaksa harus naik ke atap-atap rumah mereka untuk menghindari banjir sambil menunggu pertolongan. Akibat banjir ini, sejumlah rumah sakit tergenang dan sempat berhenti beroperasi. Namun, semua rumah sakit kini sudah beroperasi kembali, kecuali Rabigh General Hospital.

Juru bicara Kantor Pertahanan Sipil Jeddah Kapten Abdullah Al- Amri mengatakan, dari 83 jenazah, 71 jenazah sudah diambil keluarganya untuk dimakamkan. Untuk mencari kemungkinan adanya korban tambahan, Pemerintah Arab Saudi sudah menerjunkan 120 tim SAR. Hingga kemarin siang, mereka terus menyisir sejumlah lokasi yang terdampak paling parah. Pemerintah juga mengerahkan 1.000 pekerja dan 130 mesin penyedot air untuk mengurangi genangan.

Untuk menampung korban banjir, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil sedang menyiapkan apartemen khusus. Hingga kini, baru 20 keluarga yang sudah menempati apartemen penampungan itu. Selain menampung korban banjir, pemerintah juga sudah mengungsikan 900 orang yang menderita banjir.

Warga Jeddah mengkhawatirkan banjir bandang ini akan membuat danau penampung limbah yang berada di kota itu jebol. Namun, kekhawatiran tersebut ditepis juru bicara Wali Kota Jeddah Ahmad al-Ghamdi. Dia meyakinkan bahwa danau itu aman dari banjir. Saat debit air di danau tersebut mencapai ketinggian 90 cm, Al-Ghamdi mengakui sempat cemas, tapi kekhawatirannya hilang setelah melihat debit air yang semakin berkurang.

Selain curah hujan yang tinggi, buruknya sistem drainase di Kota Jeddah disinyalir menjadi penyebab banjir.Pemerintah Arab Saudi sebenarnya sudah memulai proyek raksasa untuk membenahi drainase tersebut. Sekretaris Kota Madya Jeddah Bidang Konstruksi dan Proyek Ibrahim Kutubkhanah mengatakan, proyek itu sudah berjalan dan diperkirakan membutuhkan dana tak kurang dari sekitar 3 miliar real atau sekitar Rp3 triliun. "Pembangunan proyek drainase baru berjalan 30 persen,"` jelas Kutubkhanah.

Prosesi Haji Lancar
Sementara itu, meski sempat dikhawatirkan terganggu hujan dan banjir, pelaksanaan rukun ibadah haji paling pokok, wukuf, yang dilakukan 3 juta jamaah dari seluruh dunia sebagai rangkaian ritual ibadah haji tahun ini berlangsung lancar. Justru hujan deras yang sempat mengguyur sehari sebelum wukuf menjadi berkah tersendiri.

Guyuran hujan yang sempat membasahi tenda-tenda dan karpet membuat suasana di Arafah menjadi sejuk. Dalam tenda masing-masing, jamaah haji Indonesia mengoptimal kan waktu wukuf dengan berzikir, berdoa, membaca Alquran, dan mengikuti tausiah yang dibawakan para pembimbing rohani. Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Ali Mustafa Yaqub dalam tausiahnya di Arafah mengimbau jamaah untuk lebih mengutamakan ibadah sosial, selain ibadah individual.

"Sepanjang hidupnya Nabi Muhammad memiliki tiga kesempatan berhaji dan ratusan bahkan ribuan kesempatan untuk melakukan umrah. Namun dalam hidupnya beliau hanya berhaji sekali dan berumrah sunah dua kali saja. Beliau lebih banyak menyantuni anak yatim dan fakir miskin," ujarnya. Selain berdoa dan mengikuti tausiah dalam tenda, sebagian jamaah memilih duduk bermunajat di luar tenda.

Banyak jamaah saat memanjatkan doa dan zikir meneteskan air mata. Selain menempati tenda dan ruang-ruang terbuka sekitarnya, tidak sedikit jamaah yang mendaki bukit-bukit batu sekitar Arafah dan berdoa di sana. Bukit Jabal Rahmah dari kejauhan tampak memutih oleh jamaah yang menyemut di atasnya. Selama di Arafah,jamaah mendapatkan konsumsi dengan sistem prasmanan.

Satu meja makan diperuntukkan bagi sekitar 350 jamaah. Antrean yang diatur per rombongan (per 45 jamaah) bisa berjalan tertib. Saat waktu magrib yang menandakan waktu wukuf telah berakhir, sebagian besar jamaah saling bersalaman dan berpelukan. Wukuf yang merupakan ritual utama ibadah haji telah dilalui dengan lancar. Selepas menunaikan salat magrib dan isya dalam satu waktu (jamak qasar), jamaah secara bergantian diangkut dengan bus-bus menuju Muzdalifah yang berjarak 9 km dari Arafah.

Bus berjalan bolak-balik Arafah-Muzdalifah hingga semua jamaah terangkut. Di Muzdalifah, sekitar 201.000 jamaah asal Indonesia menempati area yang telah diperuntukkan bagi Indonesia. Beralas tikar dan alas-alas plastik yang mereka bawa, jamaah menjalani prosesi mabit (singgah) hingga lewat tengah malam. Jamaah juga mengumpulkan kerikil-kerikil untuk lempar jumrah di Mina.

Selepas pukul 24.00, jamaah kembali diangkut dengan bus menuju Mina. Setelah menaruh barang bawaan di tenda masing-masing, jamaah berjalan menuju tempat lempar jumrah. Sebagian jamaah memilih berjalan kaki dari Muzdalifah menuju Mina. Jarak Muzdalifah-Mina yang sekitar 7 km tidak terasa karena kondisi cuaca yang sejuk ditambah dengan pergerakan jutaan jamaah dari negara lain laksana aliran sungai menuju muaranya.

Di jamarat, lempar jumrah juga berjalan lancar. Bangunan jamarat yang terdiri dari lima lantai terlihat megah diterangi lampu-lampu berkekuatan megawatt. Tangga-tangga berjalan (eskalator) di tiap pintu-pintu masuk membuat jamaah mudah mencapai tugu jamarat. Dengan kerikil-kerikil yang dibawa dari Muzdalifah, jamaah tujuh kali melakukan lemparan di tugu jumrah aqabah tanpa antre berdesak-desakan.

Seusai lempar jumrah, para jamaah berdoa sejenak, kemudian memotong beberapa helai rambut (tahalul) yang menandakan mereka kini sudah bisa terlepas dari sejumlah larangan dalam berihram. "Alhamdulillah," ucap para jamaah. Selanjutnya, sebagian jamaah kembali ke tenda masing-masing di Mina dan sebagian lagi memilih langsung menuju Masjidilharam untuk melakukan prosesi tawaf ifadah dan sai.

Meski jarak jamarat dengan Masjidilharam sekitar 7 km, sebagian jamaah memilih berjalan kaki mengingat kondisi jalan dari Mina ke Masjidilharam macet total. Adapun cuaca Kota Mekkah, Jumat (27/11/2009), relatif sejuk karena matahari tidak menampakkan sinarnya. (arbn/sm)

Memasuki musim haji tahun ini, kaum Muslim disibukkan oleh keprihatinan terkait berbagai persoalan dalam agama mereka, serta berbagai bencana dan tragedi yang masih terbuka lebar di depan pintu-pintu mereka.

Sementara jutaan kaum Muslim pergi menunaikan ibadah haji dengan membawa semua keprihatinan ini agar mereka dapat mengadukan penderitaan dan kesedihannya yang mendalam kepada Allah, dan agar mereka dapat berdiri di depan pintu al-Multazim, yaitu tempat di mana Allah tidak akan menolak seruan (doa) seorang hamba yang berdiri di pintunya, dan berilindung di sampingnya.

Kaum Muslim pergi menunaikan ibadah haji, sementara masih segar dalam ingatan mereka tentang pembantaian Amerika terhadap kaum Muslim di Afghanistan, Irak, dan di berbagai tempat lainnya; pembantaian Yahudi di Palestina, yang karena kebenciannya telah menodorongnya melakukan setiap kejahatan; pembantaian Rusia terhadap kaum Muslim Chechnya; dan pembantaian kaum Hindu, penyembah sapi, terhadap kaum Muslim Kashmir …!

Kaum Muslim pergi menunaikan ibadah haji untuk mengadukan kepada Tuhan mereka tentang para penguasa mereka yang sudah dan sedang berkoalisis dengan para musuh untuk menghancurkan kaum Muslim; mengadukan para penguasa yang sedang membantu Barat, Yahudi, Rusia, dan Hindu dalam memerangi mereka, yang menyerukan kepada Islam …!

Kaum Muslim pergi menunaikan ibadah haji, namun mereka tidak pernah melupakan kejahatan penguasa Suriah, dan pembantaian yang dilakukannya di penjara Sednaya, yaitu pembunuhan terhadap para tahanan dan keluarga mereka.

Kaum Muslim pergi menunaikan ibadah haji, sedang mereka tidak pernah melupakan sikap para penguasa kaum Muslim terkait dengan masalah Darfur di Sudan, yang menilai masalah Darfur hanya sebagai masalah internal.

Kaum Muslim pergi menunaikan ibadah haji, sementara dalam pikiran mereka masih segar ingatan tentang pengkhianatan para penguasa Arab terhadap kaum Muslim di Palestina, yang tidak tergerak, dan hanya berdiam diri saja melihat semua kejahatan yang dilakukan Yahudi setiap hari, bahkan mereka mencegah kaum Muslim yang hendak bergerak melawan Yahudi.

Kaum Muslim pergi menunaikan ibadah haji, namun hati mereka hancur, tangan mereka tidak berdaya, lidah mereka terus mengingatkannya, dan mereka meneteskan air mata sambil memohon kepada Allah agar membuka tabir penyiksaan dan penghinaan yang menimpa mereka, melepas belenggu yang mengikat mereka, menghilangkan semua duka ini dari mereka, dan mengambil kekuasaan dari para penguasa mereka yang selama ini telah banyak melakukan kemaksiatan.

Ya benar, kaum Muslim berkumpul untuk menunaikan ibadah haji. Namun, mereka dalam keadaan seperti ini, tidak lagi bertemu dengan pemimpin yang mencintai mereka dan mereka mencintainya; pemimpin yang mendoakan mereka dan mereka mendoakannya; pemimpin yang akan berkhothbah di tengah-tengah mereka; dan pemimpin yang akan menasihati mereka, seperti yang dilakukan Rasulullah SAW dalam khotbahnya di Arafah pada Haji Wada’, begitu juga yang dilakukan oleh para Khalifah, di mana mereka bertemu dengan para walinya untuk mengetahui kondisi rakyat dan kemajuan yang dicapainya, dan mereka juga mendengarkan berbagai keluhan yang disampaikan kaum Muslim tentang penganiayaan yang dilakukan oleh sebagian wali dan amil agar Khalifah memberi hukuman yang setimpal kepada mereka …!

Sungguh telah berubah keadaan kaum Muslim, mereka tidak lagi memiliki Khalifah yang mengurusi urusan-urusan mereka dengan syariah Islam, memimpin mereka dengan adil, dan membawa mereka pada puncak kemuliaan dengan berjihad. Saat ini, kaum Muslim menjadi rakyat bagi para penguasa ilegal, yang hanya melayani kepentingan diri mereka sendiri, tidak mempedulikan kepentingan kaum Muslim; mereka mengangkat diri mereka sendiri untuk menguasai kaum Muslim; mereka memaksa kaum Muslim menelan perihnya kezaliman dan kehinaan; dan mereka menjadikan kaum Muslim sebagai umat yang terendah kualitasnya dan terbelakang…. Akibatnya, umat Islam pun melaknat mereka, membenci mereka, dan berusaha untuk mebebaskan diri dari mereka. Sekarang mereka telah datang untuk menunaikan ibadah haji, dan sebagai langkah awal atas keprihatinan mereka, adalah mereka mengadukan kezaliman para penguasa itu kepada Allah, mendo’akan keburukan kepada mereka agar kaum Muslim dapat beristirahat dari kejahatan yang selama ini mereka lakukan.

Ritual ibadah haji merupakan bagian dari syiar agama Allah, di mana semua kaum Muslim berkumpul dalam level yang sama. Dan di dalam ritual ibadah haji banyak sekali indikasi yang mencerminkan kesatuan kaum Muslim: kesatuan ritual, kesatuan perasaan, kesatuan tujuan, dan kesatuan dalam segala hal; tidak ada nasionalisme, rasisme, atau fanatisme terhadap warna kulit, ras, atau kelas sosial; mereka memiliki satu Tuhan, satu agama, satu kiblat, dan satu umat. Meskipun dalam hal ini, kaum kafir telah menanamkan di tengah-tengah kaum Muslim faktor-faktor yang dapat memecah-belah kaum Muslim, dan meskipun kaum kafir telah mengangkat untuk kaum Muslim para penguasa zalim, yang tidak peduli terhadap nasib kaum Muslim, dan tidak pula mengindahkan perjanjian.

Sesungguhnya di dalam ritual ibadah haji terdapat hikmah-hikmah (tujuan) penting yang dapat diambil sebagai inspirasi oleh kaum Muslim, yaitu mengubah realitas kaum Muslim, serta mengubahnya dari umat yang mengeluh dan menangis kepada Allah menjadi umat yang melalui tangannya Allah mendatangkan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Sesungguhnya semua syiar ibadah haji, di mana seorang Muslim pergi untuk mengagungkannya terkait erat dengan alasan di balik pensyariatannya. Dan apabila seorang yang menunaikan ibadah haji itu tidak dapat mengambil hikmah-hikmah (tujuan) di balik ritual ibadah haji, dan tidak dapat menghubungkan suasan pelaksanaan ibadah haji dengan suasana kehidupan yang ia jalani, maka ibadah hajinya itu tidak lebih dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang hanya menggugurkan kewajiban, namun ia tidak mendatangkan pahala.

Sesungguhnya ritual ibadah haji dan manasiknya itu mengingatkan seorang Muslim akan kebesaran kekuasaan Allah, mengingatkannya akan kehidupan akhirat, mengingatkannya akan kewajiban melaksanakan perintah-perintah Allah di dunia serta beraktivitas untuk menolong agama-Nya, berkorban di jalan-Nya, berusaha untuk meraih ridho-Nya, hanya berserah diri (bertawakkal) kepada-Nya, dan percaya dengan semua janji-Nya. Dengan kata lain bahwa ritual ibadah haji menghubungkan kehidupan dunia dengan akhirat melalui ikatan ketaatan kepada Allah, dan hanya kepada-Nya menyerahkan semua urusan, beristighfar kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya dari setiap dosa, memohon kepada-Nya dengan sikap tunduk yang meneteskan air mata karena takut akan siksa-Nya, dan berharap dikabulkan doanya dengan mendapatkan surga-Nya.

Ya benar, semua ritual ibadah haji mendorong untuk mengabdi kepada Allah, dan menyikapi hidup ini dengan sikap yang benar dan penuh keyakinan. Sehingga mulai dari memakai kain ihram, yang mengingatkan kepada kain kafan dan kematian, hingga talbiah dan gerakan thawaf yang mengingatkan agar kita senantiasa terikat dengan hukum Islam dimanapun berada.

Begitu juga dengan sai, wukuf di Arafah, melempar jumra untuk meleyapkan Iblis dan bala tentaranya, sebaliknya merealisasikan kebenaran dan para pengikutnya; dan kemudian ifadah dan wada’, yang masing-masing dari semua itu membawa pada berkumpulnya kaum Muslim, mereka datang berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Mereka berkumpul pada level yang sama, dan bertabliah dengan suara yang sama. Labbaika Allahumma Labbaika Labbaika La Syarika Laka Labbaika Innal Hamda Wan Nikmata Laka Wal Mulka La Syarika Laka (Aku sambut panggilan-Mu dan siap menerima perintah-Mu. Ya Allah, aku sambut panggilan-Mu dan siap menerima perintah-Mu. Aku sambut panggilan-Mu dan siap menerima perintah-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku sambut panggilan-Mu dan siap menerima perintah-Mu. Sesungguhnya segala puji, kenikmatan, dan kekuasaan hanya milik-Mu. Tidak aka sekutu bagi-Mu).

Inilah ritual ibadah haji yang menegaskan realitas umat Islam, bahwa umat Islam masih sebagai umat yang satu meskipun mereka hidup di bawah kekuasaan para tiran dan penindas. Inilah ritual ibadah haji yang membuat gemetar kaum kafir ketika melihat kerumunan orang-orang yang menunaikan ibadah haji, di mana mereka berthawaf di sekeliling Baitullah (Ka’bah) yang sama, bersai (berlari-lari kecil) di jalan yang sama, dan berwukuf di tempat yang sama.

Oleh karena itu kaum kafir dan para anteknya sengaja untuk merusak pertemuan kaum Muslim dalam rituan ibadah haji, dengan menghilangkan hakikat, kekuatan dan kesatuan dari ritual ibadah haji ini, baik dalam hal bentuk maupun isinya. Maka, pertama yang mereka lakukan, adalah mereka bersatu membuat tipu daya dalam berbagai peperangan, berkonspirasi, dan pembentukan para antek sehingga mereka berhasil melenyapkan Khilafah pada awal abad yang lalu. Dengan demikian, mereka telah berhasil menghilangkan kekuatan pertemuan para jamaah haji dalam menunaikan ritual ibadah hajinya, sebab mereka berkumpul berdasarkan asal negaranya, sehingga satu negara menjadi satu jamaah yang dipimpin oleh seorang pemimpin, maka jadilah mereka itu sebagai kelompok yang tercerai-berai, yang berkumpul dalam ritual ibadah haji, dan setelah itu mereka kembali tercerai-berai, di bawah kekuasaan negeri-negeri kecil dari kekuasaan yang diturunkan Allah, di mana di antara mereka saling berebut kekuasaan sehingga energi kaum Muslim lebih banyak digunakan untuk itu, daripada digunakan untuk menghadapi para musuh mereka.

Namun demikian, berkumpulnya kaum Muslim dalam melaksanakan ritual ibadah haji di satu tempat sungguh masih tetap mengganggu tidur kaum kafir dan para anteknya, di mana mereka sangat ketakutan dengan pertemuan seperti ini, seperti halnya mereka ketakutan dengan apa yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu mereka terpaksa melakukan segala cara untuk menghalangi setiap orang yang hendak pergi menjalankan ritual ibadah haji, sehingga mereka membatasi jumlahnya, dan menetapkan umur bagi mereka yang mengajukan untuk pergi berhaji. Di sebagian besar negeri-negeri kaum Muslim, tidak diperkenankan untuk pergi haji kecuali orang yang telah mencapai umur dewasa. Bahkan mereka masih mencari berbagai kendala (penghalang) untuk ritual ibadah haji ini selama mereka masih menemukan cara untuk itu.

Sesungguhnya ritual ibadah haji adalah bukti persatuan kaum Muslim, yaitu jeritan minta tolong agar mereka kembali untuk melindunginya, mendirikan negaranya, dan membaiat khalifahnya, agar mereka kembali menjadi kelompok yang kokoh, kuat dan diperhitungkan, dengan dipimpin oleh seorang khalifah yang mereka baiat, yang akan menerapkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka, dan berjihad bersama mereka di jalan Allah.

Inilah ritual ibadah haji, dan inilah keagungannya, serta inilah yang dituntut dari pelaksanaan ritual ibadah haji, apakah kalian telah melakukannya?

Sumber: Majalah Al-Waie edisi Arab

Jakarta - Mantan Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni menegaskan bahwa tugas penyelenggaraan haji merupakan tugas paling ringan bagi Departemen Agama. ”Tugas penyelenggaraan haji merupakan tugas paling ringan bagi Departemen Agama. Sayangnya kenapa tiap tahun penyelenggaraan haji selalu bermasalah,” tegas Maftuh dalam acara Pisah Kenal mantan Menteri agama dengan Menteri Agama Suryadharma Ali di Gedung Baru Depag Jakarta, Rabu malam (28/10).

”Ini tidak lain karena tangan-tangan kotor. Sehingga tugas kita adalah membersihkan tangan-tangan kotor ini. Kalau sampai hari ini permasalahan haji masih belum beres juga, itu artinya tangan saya terlalu kecil bila dibanding tangan-tangan kotor pada penyelenggaraan haji tersebut. Tentunya nanti tugas membersihkan tangan-tangan kotor ini diteruskan oleh Pak Suryadharma Ali,” tegas Maftuh.

Ditambahkan Maftuh, penyelenggaraan haji dapat dikatakan sebagai tugas yang paling mudah karena tidak ada kendala dari segi pembiayaan dan pendanaan. ”Kalau urusan haji ini, uangnya numpuk. sampai bisa menghanyutkan iman seseorang. Sehingga terkesan penyelenggaraan haji ini sulitnya bukan main,” tegas Maftuh yang berbicara di depan pejabat eselon satu, dua dan tiga di lingkungan Depag.

Good governance jadi Prioritas

Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama Suryadharma Ali dalam sambutannya menegaskan akan melanjutkan apa-apa yang telah dilakukan oleh Maftuh Basyuni. Ia meminta agar seluruh jajaran Depag bisa bekerjasama dengan baik. ”Saya akan melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Pak Maftuh. Saya harap kita semua dapat bekerjasama dengan baik. Tanpa itu, sulit tentunya meraih sukses,” tegas Menag. ”Perbaikan-perbaikan dan tata kelola pemerintahan yang baik harus diutamakan,” tambahnya.

Ditegaskan Suryadharma, jika Depag melakukan kesalahan, tentu cacian dan makian yang didapat dari masyarakat akan lebih hebat dibanding dengan departemen lain yang melakukan kesalahan yang sama.

”Kalau saja dalam lima tahun ke depan nanti apa yang kita lakukan sama dengan apa yang dilakukan dalam kepemimpinan pak maftuh, itu berarti sebuah kemunduran. Apalagi kalau kurang dari itu. Karena itu saya minta jajaran aparatur Depag bisa lebih baik,” papar Suryadharma. ”Saya yakin bahwa kita semua tahu betul apa yang perlu diperbaiki dan apa yang perlu ditingkatkan,” tambah Menag. (Republika/hti)
Powered by Blogger.