Menteri Dalam Negeri Suriah, Mohammed al-Shaar, yang terluka dalam serangan bom jibaku pada 12 Desember lalu di Damaskus dan dibawa ke Beirut untuk perawatan medis sepekan yang lalu, meninggalkan rumah sakit lebih awal dan terbang pulang ke Damaskus dengan jet pribadi, pejabat di Bandara Internasional Rafik Hariri Beirut.
Seorang pejabat keamanan Libanon mengatakan kepada The Associated Press bahwa al-Shaar dilarikan keluar dari Libanon setelah pihak berwenang disana menerima informasi bahwa surat perintah penangkapan internasional dapat dikeluarkan terhadap dia karena perannya dalam pembantaian terhadap para pengunjuk rasa di Suriah.
Selama sepekan terakhir, beberapa pejabat dan individu Libanon juga menyerukan penangkapan al-Shaar untuk perannya dalam serangan berdarah di kota Tripoli Libanon pada tahun 1986.
Pada 1980-an, al-Shaar adalah seorang pejabat intelijen di Libanon utara ketika pasukan Suriah menyerbu Tripoli dan menghancurkan sebuah kelompok Muslim Sunni yang mendukung Organisasi Pembebasan Palestina pimpinan Yasser Arafat. Ratusan orang tewas dalam pembantaian tersebut, dan sejak saat itu, banyak warga di Lebanon utara telah menyebut al-Shaar sebagai "tukang jagal dari Tripoli."
"Para pejabat Libanon pro Assad menghubungi pihak berwenang Suriah, dan itu mempercepat kepergiannya," kata pejabat keamanan, menambahkan bahwa tim medis Libanon diharapkan untuk pergi ke Damaskus untuk melanjutkan pengobatan al-Shaar di sana. "Jika surat perintah penangkapan tersebut dikeluarkan, pihak berwenang kehakiman Libanon harus menangkapnya, dan ini bisa menjadi hal memalukan bagi negara."
Para pejabat bandara dan keamanan tersebut berbicara dengan syarat anonim karena mereka tidak berwenang untuk berbicara kepada media.
"Kaburnya" Menteri Dalam Negeri Suriah dari Libanon saat melakukan perawatan medis adalah bukti betapa secara internasional rezim Assad telah terisolasi bahkan di Libanon, sebuah negara yang dikontrol selama beberapa dekade Suriah, menjadikan para pejabat pemerintah Suriah tidak bisa merasa nyaman.
Pasukan Suriah sendiri bergerak ke Libanon pada tahun 1976 sebagai pasukan penjaga perdamaian setelah negara itu tersapu ke dalam perang saudara antara milisi Kristen dan Muslim. Selama hampir 30 tahun berikutnya, warga Libanon hidup di bawah dominasi militer dan politik Suriah. Damaskus akhirnya dipaksa untuk menarik pasukannya, tetapi telah mempertahankan pengaruh yang cukup besar di Libanon. (by/AP/www.globalmuslim.web.id)

Post a Comment