Jakarta- Ketua Umum Dewan Dakwah Islam Indonesia Syuhada Bahri menyatakan ada dua cara yang dapat dilakukan oleh umat Islam untuk merubah negara yang sudah karut marut seperti Indonesia ini yakni merubah dari dalam atau revolusi.
“Kalau kita mau merubah dari dalam maka harus memenangkan partai Islam, atau mau inqilabi (revolusi) kita harus punya dana,” ujarnya kepada para petinggi DPP Hizbut Tahrir Indonesia yang datang untuk bersilaturahmi, Kamis (5/7) siang di ruang kerja Ketua Umum DDII, Gedung DDII Jalan Kramat Raya, Jakarta.
“Inqilabi yang belum dicoba,” timpal Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto.
Menurut Ismail, revolusi memang memerlukan dukungan umat. “Perubahan harus dilakukan dengan dasar akidah Islam, maka diperlukan proses pembinaan yang terus menerus,” ujarnya. Konferensi Tokoh Umat yang diselenggarakan di berbagai kota besar termasuk Jakarta beberapa waktu lalu pun dalam rangka itu.
Dalam konferensi itu digambarkan alur ekonomi yang tumbuh, stabil dan menyejahterakan ketika syariah Islam diterapkan dalam bingkai khilafah. Sedangkan dalam sistem yang diperlakukan sekarang, ekonomi tumbuh tapi tidak stabil, dan tidak menyejahterakan rakyat banyak.
“Subhanallah respon dari peserta luar biasa, mereka menginginkan segera diterapkannya sistem Islam yang halal dan berkah tersebut,” ujarnya.
Jadi cita-cita menegakkan syariah dalam bingkai khilafah bukan ancaman atau yang akan merusak bangsa dan negeri ini. “Jangan sampai ajaran Islam tersebut dianggap sebagai ancaman, kan tidak masuk akal, umat Islam kok menganggap agamanya sendiri sebagai ancaman,” ungkapnya.
Di samping itu, diperlukan pula dukungan dari pemilik pengaruh dan kekuatan riil atau militer (ashabul faaliyah/ahlul quwwah). Hingga mereka sadar bahwa kapitalisme, sekularisme dan demokrasi ini harus dihentikan, diganti dengan syariah dan khilafah.
“Jadi revolusi itu memang membutuhkan dukungan umat dan dukungan ahlul quwwah di tambah dengan dana tadi,” ujarnya.
Delegasi DPP HTI yang terdiri dari Rokhmat S Labib (Ketua); Muhammad Ismail Yusanto (Jubir); Abu Zaid; Budi Darmawan; dan Roni Ruslan tersebut disambut hangat oleh para petinggi DDII Pusat yakni Syuhada Bahri (Ketua Umum); Abdul Wahid Alwi (Waketum); Amlir Syaifa (Sekjen); Suwito Suprayogi; dan Zulfi Syukur.
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam, kedua ormas Islam tersebut dengan serius tapi santai membahas masalah-masalah terkait upaya menegakkan syariah Islam secara kaaffah.[] Joko Prasetyo
[www.globalmuslim.web.id]

Post a Comment