Yahya Abdurrahman, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI
Pernyataan Wakil Presiden Boediono yang meminta agar “pengurus masjid membawa Islam sebagai agama yang toleran, mengajarkan jalan terbaik adalah jalan tengah” sekilas tampak baik padahal pernyataan itu mengandung racun yang membahayakan akidah umat dan bermuatan pesanan asing penjajah. Benarkah? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia Yahya Abdurrahman. Berikut petikannya.
Boediono meminta pengurus masjid membawa agama yang toleran dan mengajarkan “jalan tengah”, komentar Anda?
Dalam Islam tidak ada yang namanya jalan tengah, kompromi. Yang ada benar atau salah, iman atau kufur, halal atau haram, tidak ada jalan tengah, tidak ada setengah benar dan setengah salah, setengah iman dan setengah kufur, setengah halal dan setengah haram.
Tidak ada kompromi dalam semua itu. Jadi ajaran jalan tengah itu bukan ajaran Islam. Ajaran jalan tengah itu adalah ajaran sekulerisme kapitalisme sebab akidah sekulerisme kapitalisme itu sendiri adalah produk dari “jalan tengah” atau kompromi itu.
Jadi “jalan tengah” yang dimaksud Boediono itu “moderat” ala Barat bukanummatan washathan ala Alquran?
Istilah “jalan tengah” selama ini memang diidentikkan dengan “moderat”. Istilah moderat jika dikaitkan dengan Islam maka yang dimaksudkan adalah Islam versi Barat. Yaitu Islam menurut cara pandang Barat, yang menerima ide-ide Barat, tidak memusuhi Barat dengan segala agendanya, tidak melawan penjajahan Barat dan di antara yang terpenting adalah tidak menginginkan syariah diterapkan secara formal dalam institusi negara.
Islam “jalan tengah” atau Islam moderat itu justru merupakan penyimpangan terhadap Islam. Islam moderat itu justru penafsiran Islam menurut Barat yang sejatinya adalah musuh Islam. Tentu itu bukan ajaran Islam yang sesungguhnya.
Hubungannya dengan ummatan washathan?
Tidak ada hubungannya sama sekali dengan istilah ummatan wasathan yang dinyatakan di dalam surat al-Baqarah ayat 143. Seperti yang dijelaskan oleh al-‘Alim Atha’ Abu Rasytah dalam tafsirnya Taysir fi Ushul at-Tafsir, istilahwasathan itu bukan berarti jalan tengah, melainkan adil.
Jadi ummatan wasathan itu adalah umat yang adil dan itu dikatakan Alquran menjadi karakter atau sifat umat Islam. Yaitu umat Islam adalah umat yang adil. Pengertian itu yang lebih tepat jika ayat tersebut dibaca secara keseluruhan. Sebab setelahnya dikatakan umat Islam dijadikan ummatan wasathan supaya nanti umat Islam menjadi saksi bagi umat lainnya dan saksi itu syaratnya harus adil.
Di dalam riwayat dikatakan nanti di akhirat umat Islam akan memberikan kesaksian bahwa para nabi terdahulu telah menyampaikan risalah kepada umatnya. Nah dari situ juga bisa ditarik mafhum bahwa umat Islam diperintahkan untuk menyampaikan Islam kepada umat lain sehingga nanti di akhirat bisa menjadi saksi telah sampainya risalah Islam kepada umat lain itu. Itulah pengertian ummatan wasathan yang dinyatakan Alquran.
Boediono pun meminta pengaturan pengeras suara untuk adzan di masjid, komentar Anda?
Rasulullah SAW justru memerintahkan agar muadzin mengeraskan suaranya ketika mengumandangkan adzan. Bahkan muadzin diberi petunjuk agar mengedarkan suaranya ke kiri dan kanan. Jadi kalau diatur dalam arti dilirihkan, tidak keras dan sayup-sayup terdengar dari kejauhan seperti yang dikatakan wapres, itu menyalahi petunjuk Rasulullah.
Di samping itu adzan itu panggilan shalat dan untuk menyeru orang agar menunaikan shalat terutama shalat berjamaah di masjid, bagaimana mungkin suara adzan justru diminta untuk diatur dalam arti dilirihkan? Itu bertentangan dengan maksud dikumandangkannya adzan itu sendiri.
Jika itu terjadi, makin sedikit orang yang mendengar lantunan adzan dan itu sama saja membatasi adzan, membatasi seruan dan ajakan menunaikan shalat untuk bisa sampai pada sebanyak mungkin Muslim.
Dalam pidatonya, ia pun menyatakan masjid jangan jatuh ke tangan penyebar radikalisme dan terorisme. Sejatinya yang disebut “radikalisme” oleh Boediono itu orang-orang yang selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan atau orang-orang yang ingin syariah Islam tegak secara kafah?
Kalau mengikuti pengertian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) maka yang dimaksudkan bukan hanya orang yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Tetapi justru lebih menyasar mereka yang ingin syariah diformalkan secara total. Sebab di antara indikasi yang dipakai untuk mengidentifikasi radikalisme di antaranya adalah memperjuangkan formalisasi syariah dalam negara dan menganggap Amerika sebagai biang kezaliman global.
Dan itu juga dikonfirmasi oleh uslub-uslub yang ditawarkan oleh ketua BNPT Ansyad Mbai yang di antaranya mencakup pemberdayaan tokoh-tokoh moderat agama untuk menyebarluaskan ajaran moderat, interfaith dialogue, sebarkan buku-buku ajaran agama moderat, dan sebagainya. Dan semua itu lebih jelas lagi dalam prakteknya.
Penyataan “radikalisme”, “terorisme” dan “jalan tengah” yang dilontarkan Boediono itu sejalan dengan perang global melawan teroris (GWOT) ala Amerika?
Ya. Memang sejak awal istilah-istilah itulah yang dipasarkan dan disuntikkan ke tubuh umat Islam dengan pengertiannya menurut Barat khususnya Amerika. Apa yang disampaikan oleh Wapres tentu tidak akan jauh dari apa yang dikembangkan oleh BNPT sebagai lembaga resmi yang menangani masalah itu.
Selama ini apa yang berjalan di negeri ini yang dikoordinasikan oleh BNPT terlihat sangat mirip kalau tidak bisa dikatakan menyalin dengan sedikit perubahan apa yang dilakukan Amerika. Bahkan cara-cara deradikalisasi yang dikembangkan BNPT juga sangat mirip bahkan cenderung menyalin rekomendasi strategi yang diusulkan oleh RAND Corporation. Maka tentu saja yang dilontarkan Wapres itu tidak bertentangan dengan yang dikemukakan oleh BNPT yang faktanya memang sejalan dengan perang melawan terorisme ala Amerika.
Artinya, Boediono anteknya Amerika?
Antek atau bukan, tapi yang jelas sadar atau tidak wapres telah menyerukan suara Barat dan menyampaikan gagasan yang dibuat dan diusung oleh Barat, tentu itu menguntungkan kepentingan Barat. Jadi sadar atau tidak yang telah disuarakan adalah kepentinga Barat, bukan kepentingan umat Islam.
Jadi sebenarnya yang berbahaya itu?
Yang berbahaya itu sebenarnya adalah sekulerisme, demokrasi, kapitalisme yang dibawa Barat dan tengah diterapkan di negeri mayoritas berpenduduk Muslim ini. Sebab semua itu adalah pangkal bencana dan kesengsaraan umat ini bahkan umat manusia pada umumnya.
Allah mengingatkan dalam surat Thaha ayat 124 yang artinya : Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
Tegas, Allah menyatakan keberpalingan dari peringatan yakni dari wahyu Allah akan mendatangkan kesempitan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Itu artinya berpaling dari wahyu atau tuntunan Allah itulah yang sebenarnya berbahaya bagi pelakunya dan bagi umat manusia.
Nah sekulerisme, demokrasi, kapitalisme itu adalah biangnya keberpalingan dari wahyu Allah. Karena itu, sekulerisme, demokrasi, kapitalisme itulah yang berbahaya bahkan sangat berbahaya.[www.globalmuslim.web.id]

Post a Comment