Para pengunjuk rasa membawa bendera dan panji-panji Rasulullah berwarna hitam dan putih. Beberapa poster dan spanduk mereka bawa bertuliskan pesan, "Kami ingin konstitusi dari syariah", "Khilafah satu-satunya cara untuk menciptakan revolusi industri dan teknologi", dan pesan-pesan lainnya.
Selain itu mereka meneriakkan kalimah dzikir, tahlil dan takbir, serta yel-yel "rakyat ingin menerapkan hukum syariah".
"Demokrasi yang mereka katakan adalah sumber kehancuran bagi negeri-negeri Islam, hal ini telah membuat kita terbelakang, bodoh, kemiskinan melanda dan diperbudak," kata seorang Muslimah yang ikut serta dalam aksi tersebut.
"Kami sebagai Muslim tidak berkumpul di sini hari ini untuk memvoting pelaksanaan hukum Allah, tapi kami di sini untuk mengatakan bahwa kami ingin membangun kembali Daulah Islamiyah," kata seorang pemuda aktivis Hizbut Tahrir yang ikut serta dalam aksi tersebut.
Menurutnya sumber syariah itu hanya pada kitabullah dan sunnah Nabi serta apa yang disandarkan kepada keduanya, yakni ijma' sahabat dan qiyas.
Ia mengkritik para penerus rezim sebelumnya yang belum juga mengambil konstitusi Islam.
"Hizbut Tahrir telah mempersiapkan sebuah konstitusi (dustur), sedangkan mereka (para politisi Tunisia) telah menghabiskan 113 atau 114 hari belum juga memunculkan satu bagian pun (dalam konstitusi)," tambahnya lagi.
"Kami telah mempersiapkan konstitusi Islam lengkap, dan isinya hanya dari Islam bukan dari yang lain. Tidak dipengaruhi oleh filasafat Yunani, Persia, atau India, tetapi murni hanya dari Islam saja," tegasnya lagi penuh dengan keyakinan.
Para pengunjuk rasa juga meneriakkan yel-yel bahwa hanya syariah saja satu-satunya sumber hukum. Mereka juga berteriak "tidak pan Arabisme, tidak juga nasionalisme, tetapi hanya Islam saja".
Mereka juga menyerukan kepada para tentara Muslim untuk memberikan nushroh (dukungan) bagi agama ini. Termasuk juga mereka mengecam Bashar al-Assad sang penjagal saudara mereka di Suriah, bahwa "darah Suriah tidaklah murah".
Demikianlah, kaum Muslim di Tunisia terus bergerak dan bangkit pasca lengsernya rezim diktator Ben Ali. Pengganti rezim belum memperlihatkan perubahan nyata, termasuk juga keengganannya menerapkan syariah. Maka, ribuwan kaum Muslim turun untuk menyerukan tuntutan mereka.
Semoga, seruang ini terus menggema di berbagai negeri Muslim sehingga batas-batas semu nasionalisme warisan penjajah hancur digantikan dengan persatuan kaum Muslim sedunia di bawah panji al-liwa dan ar-royah. Insya Allah, di bawah naungan Khilafah. Semakin dekat. [m/syababprod/syabab.com]
Selain itu mereka meneriakkan kalimah dzikir, tahlil dan takbir, serta yel-yel "rakyat ingin menerapkan hukum syariah".
"Demokrasi yang mereka katakan adalah sumber kehancuran bagi negeri-negeri Islam, hal ini telah membuat kita terbelakang, bodoh, kemiskinan melanda dan diperbudak," kata seorang Muslimah yang ikut serta dalam aksi tersebut.
"Kami sebagai Muslim tidak berkumpul di sini hari ini untuk memvoting pelaksanaan hukum Allah, tapi kami di sini untuk mengatakan bahwa kami ingin membangun kembali Daulah Islamiyah," kata seorang pemuda aktivis Hizbut Tahrir yang ikut serta dalam aksi tersebut.
Menurutnya sumber syariah itu hanya pada kitabullah dan sunnah Nabi serta apa yang disandarkan kepada keduanya, yakni ijma' sahabat dan qiyas.
Ia mengkritik para penerus rezim sebelumnya yang belum juga mengambil konstitusi Islam.
"Hizbut Tahrir telah mempersiapkan sebuah konstitusi (dustur), sedangkan mereka (para politisi Tunisia) telah menghabiskan 113 atau 114 hari belum juga memunculkan satu bagian pun (dalam konstitusi)," tambahnya lagi.
"Kami telah mempersiapkan konstitusi Islam lengkap, dan isinya hanya dari Islam bukan dari yang lain. Tidak dipengaruhi oleh filasafat Yunani, Persia, atau India, tetapi murni hanya dari Islam saja," tegasnya lagi penuh dengan keyakinan.
Para pengunjuk rasa juga meneriakkan yel-yel bahwa hanya syariah saja satu-satunya sumber hukum. Mereka juga berteriak "tidak pan Arabisme, tidak juga nasionalisme, tetapi hanya Islam saja".
Mereka juga menyerukan kepada para tentara Muslim untuk memberikan nushroh (dukungan) bagi agama ini. Termasuk juga mereka mengecam Bashar al-Assad sang penjagal saudara mereka di Suriah, bahwa "darah Suriah tidaklah murah".
Demikianlah, kaum Muslim di Tunisia terus bergerak dan bangkit pasca lengsernya rezim diktator Ben Ali. Pengganti rezim belum memperlihatkan perubahan nyata, termasuk juga keengganannya menerapkan syariah. Maka, ribuwan kaum Muslim turun untuk menyerukan tuntutan mereka.
Semoga, seruang ini terus menggema di berbagai negeri Muslim sehingga batas-batas semu nasionalisme warisan penjajah hancur digantikan dengan persatuan kaum Muslim sedunia di bawah panji al-liwa dan ar-royah. Insya Allah, di bawah naungan Khilafah. Semakin dekat. [m/syababprod/syabab.com]
Lihat Video:
Lihat Foto:

Post a Comment