Pemerintah Uzbekistan Melarang Pakaian Agama


Meningkatkan pengawasan terhadap umat Muslim, pemerintah Uzbekistan telah melarang penjualan pakaian keagamaan, khususnya jilbab dan cadar, sehingga memaksa beberapa pasar Tashken menjual pakaian secara rahasia, Eurasia Net melaporkan pada Jumat pekan lalu.
"Pakaian Islam dijual di bawah meja," kata pengusaha Mutabar Tashkent, yang mengimpor barang dari Turki dan Uni Emirat Arab,.
"Saya menjualnya dari rumah, tetapi hanya untuk pelanggan yang dipercaya."
Larangan itu datang sebagai efek awal bulan ini setelah para pedagang mengatakan mereka menerima perintah lisan dari pemerintah Uzbekistan.
Vendor di beberapa pasar, termasuk pasar besar Chorsu, telah menarik jilbab dan pakaian muslimah lainnya dari rak mereka.
Pemerintah setempat dilaporkan menyita beberapa pakaian, tetapi mereka tidak mengkonfirmasi laporan tentang adanya pelarangan jilbab.
"Ada larangan penjualan pakaian Islam, tapi saya tidak bisa mendiskusikan soal jilbab," kata seorang pejabat di pasar Chorsu, yang meminta anonimitas.
Petugas pajak daerah, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan pemerintah Uzbekistan ingin menjaga larangan berlangsung tenang.
"Tidak ada yang akan membahas masalah ini secara terbuka sekarang," katanya.
"Ini sama dengan kafe halal, yang telah ditutup."
Tidak ada ketentuan hukum yang melarang penjualan jilbab, tapi undang-undang yang disahkan pada tahun 1998 memaparkan denda dan hukuman penjara singkat bagi warga yang mengenakan pakaian keagamaan di depan umum. Hukuman berkisar dari denda lima sampai 10 kali upah minimum bulanan sampai 15 hari di penjara.
Dalam penuntutan pertama yang diketahui di bawah hukum yang ada, pengadilan di wilayah Syrdarya mendenda seorang wanita setara dengan 155 dolar AS karena mengenakan jilbab.
Seiring dengan pelarangan jilbab, otoritas Uzbekistan memasang kamera di dalam dan di sekitar 181 masjid di daerah Namangan.
"Pemerintah berusaha untuk mengendalikan apa yang terjadi selama shalat, untuk melacak apa yang imam katakan kepada para jamaah dan untuk melihat apakah anak muda menghadiri shalat," kata seorang imam Uzbek yang tinggal di seberang perbatasan di Kyrgyzstan.
Pihak berwenang menyatakan pemasangan kamera keamanan menyusul maraknya pencurian di beberapa masjid.
Uzbekistan, negara Asia Tengah yang paling padat penduduknya, adalah jantung dari perebutan kekuasaan geopolitik antara Barat dan Rusia.
Negara ini, di mana Muslim membentuk 88 persen dari populasi 28 juta, merupakan salah satu produsen terbesar kapas di dunia dan memiliki gas alam yang besar dan cadangan mineral.
Kelompok HAM telah lama menuduh Uzbekistan mengekang kebebasan agama dengan melakukan tekanan sebagai bagian dari kampanye melawan ekstremisme Islam.
Dalam laporan tahun 2012, Human Rights Watch menuduh pemerintah Uzbekistan tak henti-hentinya melakukan penangkapan, penahanan dan penyiksaan terhadap Muslim yang mempraktekkan iman mereka di luar kontrol negara.(fq/oi)