Menyikapi semakin mengkhawatirkannya tindak kekerasan di tengah masyarakat, mulai dari sengketa pertanahan, penggusuran PKL, konflik beragama, premanisme, demontrasi yang berakhir anarkis dll, HTI Jabar dalam Halqah Islam dan Peradaban Edisi ke-27, Minggu (26/02), menjadikannya tema diskusi bertajuk “Kekerasan Negara Vs Kekerasan Masyarakat, Bagaimana Pandangan Islam?”. Acara yang diselenggarakan di gedung Ad-Dakwah ini menghadirkan 3 pembicara: Kol. (Purn.) Herman Ibrahim (Pengamat Politik), Dr. Fahmy Lukman (Dosen Unpad) dan Ust. M. Riyan M.Ag (DPD 1 HTI Jabar).
Dalam analisisnya, Herman Ibrahim menganggap bahwa isu kekerasan yang saat ini marak, sebenarnya ditujukan kepada Islam. “SBY pernah mengatakan kita hapus premanisme. Premanisme adalah kekerasan. Kekerasan adalah FPI. FPI adalah Islam. Islam yah kita semua!, “ ujarnya.
Meskipun tak jarang kekerasan merupakan hasil rekayasa, namun beliau tak menampik jika ada juga yang merupakan keniscayaan. “Kekerasan terjadi seiring perubahan,” ungkapnya.
Mengamini hal tersebut, Fahmy Lukman juga mencurigai bahwa kata kekerasan memang selalu dikaitkan dengan kelompok tertentu.”Ujung dari kata kekerasan (yang saat ini banyak digembar-gemborkan-red), berujung pada kelompok tertentu dengan ideologi tetentu”, katanya.
Menurutnya, yang saat ini harus dilakukan adalah mencerdaskan masyarakat agar tidak tertipu dengan istilah ini. Ia pun beranggapan bahwa negaralah yang paling bertanggungjawab memicu terjadinya tindak kekerasan di masayarakat.
“Lahirnya undang-undang yang merugikan masyarakat adalah penyebab terjadinya kekerasan,” tuturnya.
Hal ini pun menurutnya menujukkan kegagalan ideologi. “Kekerasan yang ada menujukkan adanya kegagalan ideologi yang dianut negara, sehingga solusinya haruslah bersifat ideologis, yakni (menggantinya -red) dengan ideologi Islam,” ujarnya.
Sementara itu M. Riyan menganggap bahwa akar kekeerasan di masyarakat karena masyarkat tidak memiliki pendidikan politik yang benar. Menyikapi rekayasa yang ada, beliau mengajak agar setiap rekayasa, yang merugikan Islam -seperti halnya kekerasan yang terjadi- dilawan pula oleh rekayasa. “Rekayasa yang dimaksud haruslah sesuai dengan perjuangan yang dicontohkan rasulullah,” ujarnya.
Acara yang dipandu oleh ponsen sindu prawito ini menyimpulkan bahwa kekerasan memiliki dua dimensi yakni dimensi masyarakat dan negara. Namun, dari 2 dimensi ini background-nya satu, yakni ideologi yang diterapkan bukanllah Islam. Karena negaralah yang menerapkan ideologi yang salah tersebut, maka negaralah yang sejatinya menjadi sumber kekerasan. (Nazar Ali)

Post a Comment