Sejarah Gerakan Theosofi di Indonesia: Persentuhannya dengan Elit Modern Indonesia (6)


Tokoh Gerakan Theosofi di Hindia Belanda, disebut-sebut sebagai donatur bagi Jong Sumatranen Bond (Perhimpunan Pemuda Sumatra). Para petinggi Jong Sumatra ini juga banyak dikenal dengan Theosofi, bahkan sebagian menjadi anggotanya. Inilah bukti, bahwa Theosofi berusaha mendekat berbagai organisasi kepemudaan pada masa pra kemerdekaan. Sehingga banyak kader pemuda, yang kemudian menjadi elit nasional, adalah para kader Theosofi.
Oleh: Artawijaya, Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia"
Diantara organisasi kepemudaan selain Jong Java, yang didirikan oleh para murid Sekolah STOVIA di Batavia adalah Jong Sumatranen Bond (Perhimpunan Pemuda Sumatera). Organisasi ini didirikan di Batavia, pada 9 Desember 1917. Diantara tokoh penggerak berdirinya organisasi ini adalah Tengku Mansur dan Mohammad Amir, dua orang yang dikenal dekat dengan kalangan Theosofi. Amir bahkan tercatat sebagai anggota Theosofi, sebagaimana keterangan Mohammad Hatta dalam memoirnya, seperti dikutip dalam tulisan ini sebelumnya.
Tokoh-tokoh Jong Sumantranen Bond lainnya adalah Mohammad Yamin, Bahder Djohan, Abu Hanifah, A.K Gani, dan lain-lain. Yamin, Bahder Djohan, dan Abu Hanifah, bahkan dekat dengan Teosofi. Dalam buku Tales of A Revolution, Abu Hanifah menulis, "Waktu itu rasanya kami ada juga merasakan kekosongan batin. Karena itulah, Yamin misalnya dekat sekali kepada Gerakan Teosofi...Aneh tidak pernah kami didekati oleh kaum ulama Islam. Saya sendiri mulai tahun 1926 masuk kursus filsafat yang diberikan 3 kali seminggu di gedung Blavatsky+" ujar Abu Hanifah, sambil mengatakan bahwa ia ikut kursus Teosofi semata-mata untuk mengisi kekosongan batin.
Abu Hanifah adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1949-1950 dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat. Ia dilahirkan di Padang Panjang, Sumatra Barat, tahun 1906. Abu Hanifah juga pernah aktif di Partai Masyumi, partai yang dimotori oleh Mohammad Natsir. Kursus filsafat yang disebut Abu Hanifah diselenggarakan di Kompleks Blavatsky Park (Medan Merdeka Barat sekarang) tak lain mempelajari doktrin-doktrin Theosofi tentang Tuhan, alam dan kemanusiaan. Theosofi juga mengajarkan tentang okultisme, kabbalah, dan filsafat esoteris (batin) dan eksoteris (lahiriah). Meski mengaku bukan agama baru, namun ujung dari Theosofi adalah menihilkan ajaran-ajaran agama, kemudian mengikat anggotanya dalam "persaudaraan universal" dengan humanisme sebagai ajaran pokoknya. Abu Hanifah memang tak seperti tokoh nasional lainnya yang benar-benar tenggelam dalam Theosofi. Ia, sebagaimana dikatakannya, mungkin mempelajari Theosofi untuk mengisi kekosongan batin.
Seperti halnya Abu Hanifah, tokoh Sumatra Barat lainnya seperti Haji Agus Salim juga pernah terlibat dalam Gerakan Theosofi dan menjadi pembantu dalam Majalah Pewarta Theosofie. Ia juga terlibat dalam menerjemahkan buku berjudul "Text Book of Theosophy" yang kemudian ia diterjemahkan menjadi "Kitab Theosofie". Buku ini ditulis oleh Charles Webster Leadbeater, seorang tokoh Theosofi dunia yang pernah melakukan kunjungan dan penelitian di Pulau Jawa, dan kemudian menerbitkan buku berjudul, "The Occult History of Java" (Sejarah Gaib Pulau Jawa). Buku yang diterjemahkan Haji Agus Salim diterbitkan di Buitenzorg (Bogor) dan danai oleh seorang pengusaha yang juga aktifis Theosofi, A.F Folkersma. Dalam kata pengantar buku itu ditulis, "Sjahdan jang mengerdjakan kebanjakan terdjamah kitab ini, jaitoe t. Hadji A. Salim, maka atas oesahanja itoe kami poen mengoecapkan banjak terima kasih."
Jong Sumatranen Bond (JSB) yang lahir dari para pemuda penerima beasiswa sekolah-sekolah Belanda memang tak lepas dari pengaruh Theosofi. Tercatat, tokoh-tokoh Theosofi seperti Ir. Fournier dan Van Leeuwen adalah sosok-sosok yang begitu dekat dengan para aktifis organisasi ini. Mohammad Hatta dalam memoirnya menulis tentang kedekatan JSB dengan tokoh Theosofi berikut ini,
"Di masa itu, selagi Bahder Djohan dan aku biasa berjalan-jalan tiap petang sabtu sekali-sekali dibicarakan juga masalah kerjasama antara penduduk pulau dalam lingkungan Nusantara. Keluarlah pertanyaan dalam hati kami, "Apa tidak mungkin pergerakan-pergerakan pemuda, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa dan Jong Ambon dalam suatu waktu bersatu dan menjelma menjadi Jong Indie?" Lepas dari kami berdua, pikiran yang serupa pula dijelajah oleh Amir dan Basuki dari Jong Java. Mereka berdua dalam pertemuan yang lebih luas membentangkan pula ide Jong Indie itu. Mereka mendapat inspirasi dari Ir. Fournier, Ketua Gerakan Theosofi di Hindia Belanda. Ir. Fournier mengemukakan pendapat itu dengan mencontoh pergerakan pemuda di India, untuk mencapai persatuan India... " (Memoir Mohammad Hatta, Penerbit Panitia 100 Tahun Moh. Hatta, hal. 73)
Kemudian Hatta juga menceritakan, pada Desember 1919, saat berlangsung Kongres JSB kedua, acara tersebut dilangsungkan di sebuah Gedung Loge di pojok Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Tokoh Gerakan Theosofi di Hindia Belanda, Ir. Fournier, juga disebut Hatta sebagai donatur JSB. Hatta menulis, "Kongres JSB yang kedua, sebagaimana biasa di gedung loge di pojok Waterlooplein. Lapangan Banteng sekarang. Sekarang gedung itu namanya Kimia Farma. Tengku Mansyur membuka kongres itu dengan pidato yang menarik...diantara donatur yang bicara dengan memberikan anjuran dan nasehat, ialah Pater van Rijkevoorsel dan Ir. Fournier. Dalam pidatonya Ir. Fournier menganjurkan, supaya JSB giat bekerjasama dengan Jong Java untuk mencapai terbentuknya "Jong Indie" sebagaimana gerakan pemuda di India sudah dapat mendirikan "Young India" (Memoir Mohammad Hatta, hal. 81-82).
Selain Jong Sumatranen Bond, organisasi yang digerakkan oleh tokoh Minangkabau dan terpengaruh oleh Theosofi adalah Sarikat Adat Alam Minangkabau (SAAM) yang didirikan pada 1916, oleh Datuk Sutan Maharadja. SAAM bertujuan melestarikan adat Minangkabau dan menghalau upaya-upaya kelompok Paderi atau Wahabi yang dianggap membawa misi Arabisasi di Tanah Minang. Padahal, apa yang dilakukan para tetua agama pada waktu itu, yang baru pulang dari Makkah, adalah berupaya menghapus segala bentuk adat istiadat yang bertentangan dengan Islam.
Sutan Maharadja juga kerap mempropagandakan Theosofi di Surat KabarOetoesan Melaju yang dikelolanya.Ia juga dikenal sebagai salah seorang tokoh pers nasional. Sejarawan Deliar Noer, menyebut Datuk Sutan Maharadja sebagai orang yang sengit dalam menentang kelompok Islam. Bersama Abdoel Karim, tokoh Theosofi Minangkabau lainnya, Sutan Maharadja menentang pelajaran agama Islam yang berkaitan dengan hukum fikih atau syara'. Mereka hanya setuju pelajaran Islam yang mengajarkan kesucian hati, perbaikan diri dan budi pekerti saja. Mereka khawatir, pelajaran keislaman hanya akan membawa tradisi dan budaya Arab dan akan menghapus adat dan tradisi Minang. Sebuah kekhawatiran yang berlebihan, mengingat Islam sangat menghargai adat istiadat, selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat.
Jadi, jauh sebelum aktivis Theosofi menyusup dalam JSB, mereka telah lebih dulu mempengaruhi kaum adat di Minangkabau dan membentuk Sarikat Adat Alam Minangkabau (SAAM). Jika JSB bergerak secara nasional, maka SAAM bergerak di tingkat lokal, membendung kelompok yang mereka sebut sebagai "Wahabi" atau "Paderi". Sebuah stigma yang kemudian sangat menguntungkan bagi kolonial Belanda....(bersambung)