Guru besar Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fisipol UGM Prof. Dr. Susetiawan mengatakan, jerih payah petani dan produk pertanian tidak mendapat ganti sepadan. Karena itu orang tua dan anak-anak petani di pedesaan menganggap hidup menjadi petani sama halnya hidup tanpa masa depan.
Saat diskusi di Pusat Studi Pedesaan dan Kawaasan, dia mengatakan petani dengan terpaksa menjual tanah mereka. Uangnya tidak diinvestasikan ke tanah lagi melainkan sebagai modal membiayai anaknya sekolah supaya sang anak kelak tidak menjadi petani seperti ayahnya. Anak-anak petani disetting mejnadi pegawai negeri sipil, tentara atau hidup apapun uang mendapat bayaran tetap.
"Petani yang mempertahankan sepetak tanah seperti seperempat hektar, mereka menjadikannya sebagai lahan menggantungkan hidup. Padi yang mereka tanam tidak dijual, melainkan untuk menyambung hidup sendiri dan keluarga," ujar dia, Senin (24/10).
Menurut dia petani sama sekali tidak berdaya. Mereka mengalami kemiskinan sistematis. Biaya produksi bagi petani yang masih memberdayakan tanahnya, tidak seimbang dengan nilai produk pertaniannya. Pupuk dan obat-obat tanaman lainnya justru makin membebani dan memberatkan hidup petani bukan sebaliknya.
Situasi tersebut mencerminkan pemerintah bisa swasembada beras atau pangan lain, tetapi membiarkan para petani hidup miskin. Ini foto yang jelas tentang kegagalan pembangunan pertanian. (Tg/PRLM/rima)

Post a Comment