Gaddafi Akhirnya Dibunuh oleh Temannya Sendiri (2)


Pertemuan Gaddafi dan Obama tahun 2010
“Washington mendukung penyelidikan yang mungkin dilakukan PBB atas kematian pemimpin Libya Muamar Gaddafi. Saya sangat mendukung penyelidikan baik yang dilakukan PBB maupun Dewan Transisi Nasional (NTC)"
Ucapan diatas dikatakan oleh Hillary Clinton, Menlu AS, pada program NBC "Meet the Press”. Perkataan isteri mantan presiden Bill Clinton itu ditujukan kepada penguasa sementara Libya saat ini. Hillary menganggap penyelidikan patut dilakukan, sebagai bagian dari sebuah proses yang akan memberi Libya peluang terbaik menuju masa depan yang stabil, aman, dan demokratis. Dan hal itu hanya bisa dimulai dari penegakkan hukum perihal teka-teki dari kematian Gaddafi.
Sinyalemen Hillary yang mewakili pemerintahan paman Sam sebenarnya penuh dengan kenaifan. Kenapa? Karena sejatinya Amerika Serikat sendirilah yang berada dibalik kematian Gaddafi. Amerika adalah fihak yang pertama kali memuntahan 112 rudal dari serangan udara ke tanah Libya bersama Inggris.
Tidak hanya itu, kita tentu masih ingat bagaimana Hillary Clinton memprovokasi pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC) di Libya untuk tidak saja menggulingkan Moammar Khadafi, tapi juga membunuh secepatnya. Sekali lagi membunuh secepatnya.
Bagi Hillary Clinton, hal ini menjadi penting. Memastikan Gaddafi dan kroninya tidak lagi mengganggu pemerintahan Libya yang baru adalah tongkat maju bagi Negara di belahan Afrika Utara itu.
"Kami berharap Gaddafi akan tertangkap atau terbunuh dengan cepat, sehingga masyarakat tidak perlu takut akan kehadiran dirinya lagi ," ujar Clinton saat berkunjung ke Libya, seperti dikutip Pan Armenian, Rabu (19/10/2011).
Dan sekarang ia berteriak di media agar memproses kematian Gaddafi sebagai penegakan hukum di bumi Libya? Lupakanlah.
Kita tentu sepakat, bahwa jatuhnya rezim beringas Gaddafi adalah anugerah yang harus disyukuri. Namun meruntuhkan Gaddafi lalu menggantikannya dengan sistem demokrasi Amerika adalah anomali.
Fakta ditemukannya dokumen CIA di Libya bukanlah satu kasus yang menjadi sederet bukti penguat akan “perkawanan” AS dengan pemerintahan Gaddafi. Sebab pada realitanya, jalinan kerjasama Libya-Amerika, tidak saja dilakukan oleh pihak pemerintah (baca: Demokrat) tapi juga seterunya dari Republik.
Kita ketahui bersama, sebelumnya pada tahun 2009, John McCain, berjanji untuk membantu Libya Gaddafi untuk memperoleh perangkat keras militer AS di 2009. Tidak tanggung-tanggung, McCain menggorganisir anggota kongres lainnya untuk seiya sekata.
Sebuah data yang pernah dirilis oleh wikileaks menyatakan bahwa para anggota kongres Amerika Serikat yang berada dalam satu pikiran McCain diantaranya adalah Sens Lindsey Graham (RS.C.), Susan Collins (R-Maine) dan Joe Lieberman ( I-Conn.).
Dalam pertemuan tersebut, Muatassim Qadhafi, putra pemimpin Libya kelima dan penasehat keamanan nasional, meminta bantuan AS dalam mendapatkan perlengkapan militer, baik senjata mematikan maupun tidak.
Disana McCain berusaha meyakinkan Muatassim bahwa Amerika Serikat ingin sekali menyediakan peralatan senjata yang dibutuhkan bagi keamanan Libya. Ia kemudian menyatakan perlunya bagi Libya untuk meng-upgrade beberapa Pesawat Hercules C-130 Libya yang dibeli dari Amerika.
Sebelumnya, pada tahun 1970-an, Libya pernah membeli delapan kapal kargo militer dari Amerika. Namun ketika hubungan bilateral antara kedua Negara mulai memburuk, maka penjualan perangkat militer ke Libya berhenti. Dan McCain berjanji untuk melakukan apapun yang ia bisa agar penjualan pesawat dari Amerika menuju Libya disetujui kongres.
Lebih jauh daripada itu, tahun 2007 pun adalah masa dimana sedang merekahnya jalinan persahabatan antara Amerika dengan Libya. Kantor berita Libya, Jana pada maret 2007 melaporkan, General Rakyat Umum-semacam parlemennya Libya-sudah menyetujui kerjasama pembangunan instalasi nuklir yang sudah ditandatangi sehari sebelumnya oleh menteri luar negeri dan perwakilan AS. Kerjasama ini merupakan penghargaan terhadap Gaddafi dan menjadi tanda sejauh mana hubungan AS dan Libya selama ini.
Guma El Gamaty, salah seorang pemerhati Libya ternama menyatakan bahwa Gaddafi sudah menjadi sekutu AS yang setia dalam 'perang melawan teror' dengan memberikan informasi tentang kelompok-kelompok Islam di seluruh dunia yang dicurigai akan menjadi ancaman bagi AS.
"Hal ini memberikan sinyal diplomatik bagi negara-negara lain yang lebih krusial, seperti Iran dan Korea Utara. Jika mereka mencontoh Libya, menyerah dengan syarat atau menyerah begitu saja pada tekanan AS dan mengikuti apa yang diinginkan AS... Mereka akan diberi penghargaan, " papar el-Gamaty kala itu.
Namun apa yang tetjadi air susu dibalas dengan air tuba. Bentuk loyal Libya kepada Amerika tidak berarti apa-apa. Diktum dalam politik bahwa tidak ada kawan dan lawan abadi adalah benar adanya.
Pasca konflik yang mulai meluas di Libya, Amerika berbalik menyerang Gaddafi. Dua minggu pasca serang udara Amerika Serikat, NATO mengambil alih komando operasi udara di Libya, dan CIA mengambil alih operasi di darat. Agen-agen CIA juga melakukan kerjasama dilapangan dengan pejuang oposisi yang mengalami hambatan ketika mereka bergerak maju menuju ke Tripoli. Ya, CIA yang sebelumnya bekerja sama dengan pemerintahan Gaddafi dalam aksi kontra terorisme.
Tidak hanya itu, Barack Obama pun memberikan ultimatum kepada Gaddafi untuk menghentikan perlawanannya. Bahkan sebelum melakukan invasi ke Libya, AS sudah meminta Arab Saudi untuk menyediakan persenjataan bagi kelompok anti-Qaddafi di Benghazi. AS nampaknya tahu betul kalau Raja Abdullah di Saudi sangat membenci pemimpin Libya itu karena ditengarai Gaddafi pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Raja Abdullah setahun yang lalu.
Sial betul memang nasib Gaddafi. Mungkin inilah dampak dari ketelodarannya yang terlalu berani bermain dengan api. Atau mungkin ini hanyalah ekses dari kekeliruannya mengidentifikasi siapa kawan, siapa lawan? Padahal ia sudah mengaku-ngaku sakti sebagai “utusan” Tuhan. “Wahai Nabi Allah … apakah engkau juga menggembala kambing?”. Gaddafi menjawab : “Ya, tentu…. Tidak ada satu Nabi pun yang tidak menggembala kambing”. (“Qaddafi : Messenger of Dessert” tulisan Mirella Bianco halaman 241). (Pz/bersambung)