Setelah shalat Subuh, khalifah Mu'awiyah duduk mendengar penuturnya menuturkan ceritanya hingga selesai. Setelah itu, Mu'awiyah pun masuk ruangan. Petugas membawakan Mushof-nya, lalu dia membaca juz bacaannya. Setelah itu, dia masuk rumahnya kemudian memberikan sejumlah instruksi. Kemudian shalat empat rakaat, setelah itu dia keluar ke majelisnya untuk memberi izin kepada orang-orang tertentu. Mu'awiyah pun menuturkan sesuatu kepada mereka dan mereka membalasnya. Para wazir-nya pun menemuinya, memberikan laporan kepadanya mengenai kebijakan yang hendak mereka lakukan dari pagi itu hingga petang.
Kemudian datanglah petugas menghidangkan makanan ringan pada siang itu, yang notobene merupakan sisa makan malamnya. Mu'awiyah pun berbicara panjang lebar dengan mereka, lalu memasuki rumahnya. Setelah itu, dia pun keluar dan memanggil ajudannya: "Wahai Ghulom, bawakanlah kursi." Dia pun keluar menuju masjid, kemudian kursi itu diletakkan di masjid. Mu'awiyah pun menyandarkan punggungnya ke sandaran, sambil duduk di atas kursi. Beberapa orang tuna netra pun berdiri, lalu menghadaplah kepadanya orang-orang yang lemah, anak-anak kecil (yatim), para janda, termasuk orang-orang Badui. Mu'awiyah berkata: "Aku telah berbuat zalim? Maka muliakanlah dia." Dia berkata lagi: "Dia telah melakukan sesuatu untukku. Maka, perhatikanlah urusannya."
Ketika tidak ada lagi yang tersisa, Mu'awiyah pun masuk ke rumahnya, istirahat di atas tempat tidurnya, kemudian berkata: "Izinkanlah orang-orang untuk masuk sesuai dengan tempat tinggal mereka, dan jangan ada satupun yang menyibukkanku untuk membalas salam”, Ketika ada yang bertanya: "Bagaimana kondisi Amirul Mukminin, semoga Allah memanjangkan umur dan kekuasaannya?" Maka, Mu'awiyah pun menjawab: "Dengan nikmat Allah."
Ketika mereka sudah duduk berjajar, dia berkata: "Bagaimana mereka? Kalian disebut orang-orang terhormat,
karena kalian telah memuliakan orang-orang lain di majelis ini. Sampaikanlah kebutuhan siapapun yang tidak sampai ke sini kepada kami." Berdirilah seorang pria lalu berkata: "Si Fulan ingin mati syahid." Mu'awiyah berkata: "Kembalikan kepada anaknya." Yang lain lagi berkata: "Si Fulan meninggalkan keluarganya." Mu'awiyah berkata: "Berikanlah komitmen kepada mereka, berilah santunan, penuhi kebutuhannya, dan bantulah mereka." Lalu, makan siang pun dihidangkan kepada mereka.
Sekretaris Mu'awiyah pun menghampirinya, kemudian ada seorang pria maju menghadapnya. Mu'awiyah pun mempersilakannya: "Duduklah di kursi." Mu'awiyah juga duduk, mengulurkan tangannya, sembari makan dua suap atau tiga, sedangkan sekretarisnya terus membacakan catatannya. Mu'awiyah pun memberikan instruksi terkait urusan pria tersebut. Setelah selesai, kemudian ada, petugas yang memanggil: "Wahai hamba Allah, berikutnya." Kemudian yang lain berdiri dan maju menghadapnya sehingga semua orang yang mempunyai kebutuhan tersebut bisa diselesaikan semuanya. Terkadang ada 40 orang yang menghadapnya. Setelah selesai, ada petugas yang memberikan aba-aba: "Sudah selesai." Mereka pun keluar meninggalkan ruangan tersebut. Mu'awiyah pun masuk ke rumahnya dan tak ada seorang pun yang masih mempunyai kebutuhan tinggal di sana.
Panggilan adzan Dhuhur pun dikumandangkan. Mu'awiyah ke masjid untuk shalat berjamaah. Dia pun shalat Dhuhur, kemudian duduk dan memberikan izin kepada orang-orang tertentu. Jika mereka datang pada musim kemarau panjang, maka Mu'awiyah pun membekali mereka. Mulai dari pakaian, makanan dan sebagainya. Jika mereka datang di musim semi, maka Mu'awiyah membekali mereka dengan buah-buah yang basah.
Mu'awiyah duduk bersama mereka dan para wazir-nya hingga tiba waktu Ashar, kemudian keluar ke masjid untuk menunaikan shalat Ashar. Setelah itu, dia masuk ke rumahnya. Memasuki akhir waktu Ashar, dia pun keluar dan istirahat di atas tempat tidurnya. Orang-orang diizinkan untuk masuk, sesuai dengan tempat tinggalnya. Mereka dijamu jamuan makan malam, hingga kira-kira panggilan adzan Maghrib dikumandangkan. Setelah jamuan diangkat, adzan Maghrib pun dikumandangkan. Mu'awiyah pun keluar menuju ke masjid untuk shalat. Ketika shalat, dia membaca 50 ayat tiap rakaatnya, terkadang dengan keras dan terkadang pelan. Lalu, masuk ke rumahnya hingga ada panggilan adzan shalat Isya'. Dia pun keluar untuk shalat berjamaah. Setelah itu, dia mengizinkan orang-orang tertentu,wazir dan pembantunya.
Para wazir-nya melaporkan apa yang hendak mereka laporkan mulai dari permulaan malam. Mu'awiyah pun terus mendengarkan berbagai laporan hingga sepertiga malam, baik tentang berita dan peristiwa bangsa Arab, non-Arab, para raja dan kebijakan mereka terhadap rakyatnya, biografi raja-raja itu, peperangan, strategi dan kebijakan mereka terhadap rakyatnya, termasuk berbagai informasi tentang bangsa-bangsa/umat terdahulu. Dari ujung barat, dari para istrinya, datanglah kue dan makanan ringan lainnya. Setalah itu, Mu'awiyah masuk rumah, tidur sebentar di sepertiga malam. Setelahnya, dia bangun, duduk dan sejumlah kertas catatan tentang raja-raja tersebut sudah siap di sisinya. Para pembantunya pun siap membacakannya secara berurutan. Ada yang ditugaskan untuk menyimpan dan membacakannya. Setiap malam, Mu'awiyah pun selalu mendengarkan berbagai berita, biografi, kebijakan dan sejumlah pengalaman. Setelah itu, dia pun keluar dan shalat Subuh. Lalu, kembali mengerjakan rutinitasnya, sebagaimana yang dijelaskan di atas setiap hari.
Begitulah, cara Mu'awiyah memimpin kekhilafahannya, mengisi waktu dan hari-harinya untuk mengurus urusan umat. Begitulah cara Mu'awiyah memonitor peristiwa dan perkembangan dunia, sehingga di tangannya khilafah menjadi adidaya, dan zamannya dikenal sebagai era penaklukan yang luar biasa (Disadur dari Al Allamah Al Mas'udi, Muruj Ad Dzahab: Min Akhlaqi Mu'awiyah wa Siyasatihi)

Post a Comment