JAKARTA-Menyusul pemberian gelar Doktor HC kepada Raja Saudi yang dinilai kontroversial dan transaksional, Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Soemantri merasa terancam kedudukannya. Barangkali cacat sudah nama baik Gumilar dengan kasus Raja Saudi yang diberinya gelar Doktor HC. Kini Gumliar sibuk menangkis serangan publik dan koleganya di UI. Bahkan Gumilar bisa tenggelam dan UI runtuh kredibilitasnya. Pasalnya, gelar Doctor Honoris Causa itu sudah diplesetkan berbagai kalangan menjadi Doctor Humoris Causa.
Gumilar akan memberikan penjelasan kepada publik terkait penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa/HC) kepada Raja Arab Saudi.
"Kalau soal itu (penganugerahan gelar doktor) minggu depan rektor akan berikan penjelasan secara langsung kepada publik dengan mengundang media," ujar Deputi Direktur Corporate Communication UI Devie Rahmawati, Jumat (2/9/2011).
Rektor juga akan menanggapi kritikan beberapa kalangan masyarakat khususnya protes yang akan digelar sejumlah guru besar UI soal pemberian gelar doktor tersebut. Yang jelas, plesetan gelar Doctor Honoris Causa oleh berbagai kalangan menjadi Doctor Humoris Causa, merupakan olok-olok yang harus dicamkan dan dicermati kalangan akademisi UI.
Agar di masa depan tak terulang kembali. Kejadian ini jelas menggerus prestasi dan performance Gumilar selama ini.
Seperti diketahui, Rektor UI Prof Dr Gumilar Rusliwa Soemantri menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan kepada Raja Abdullah bin Abdul-Azis di Istana Kerajaan, 21 Agustus 2011.
Pemberian gelar tersebut mendapat protes dari sejumlah guru besar UI. Pada Senin 5 September 2011, mereka akan melakukan aksi dengan tajuk "Sengkarut Rektor, Raja dan Ruyati" di Kampus UI, Depok.
Dalam aksi tersebut jga direncanakan akan ada aksi menaruh batu di Rektorat UI tuliskan TKI/TKW untuk mengingat penderitaan pahlawan devisa kita di Arab Saudi.
Seperti ditulis di laman ini, boleh jadi para pengeritik hanya melihat bahwa Raja Abdullah sebagai salah seorang raja terkaya di dunia. Kecenderungan Raja dan orang kaya, mau membeli apa saja, termasuk kehormatan ataupun gelar kehormatan akademik.
Maka atas dasar itu, dalam rangka memuaskan rasa hausnya atas kehormatan, Raja lantas melakukan ”shopping” ataupun perburuan gelar ke berbagai negara. Hasilnya, ternyata hanya UI yang "menjual" gelar kehormatan. Sehingga terlaksanalah "transaksi" tersebut.
Munculnya protes publik atas Gumilar pun pantas dipahami. Sebab dalam beberapa tahun terakhir ini, eksistensi Arab Saudi di Indonesia, sedang kurang populer. Ada dua masalah yang menjadi penyebabnya, soal haji dan kasus pelecehan terhadap TKI yang bekerja di negara tersebut.
Tetapi yang tidak bisa dipahami adalah adanya keterbatasan pengetahuan oleh para pengeritik tentang siapa sebetulnya Raja Arab Saudi. Para pengeritik telah meremehkan kontribusi Raja Abdullah bagi kepentingan umat manusia, tanpa kecua
Yang jelas, apapun kiat Gumilar untuk berkelit, ia tak bisa menghindari persepsi publik yang terlanjur miring atas langkahnya memberikan gelar ''Doctor Humoris Causa'' tersebut- meminjam istilah para aktivis. '' Gumilar membuat blunder dengan langkah tersebut, ia melawan persepsi publik yang negatif atas performance dan citra Raja Saudi di panggung Timur Tengah maupun dunia,'' kata Umar Hamdani, Direktur Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan Jakarta.
Dengan pelajaran pahit ini, Gumilar harus lebih arif, wise dan hati-hati, sebab yang ia hadapi adalah persepsi publik itu sendiri. Gumilar sudah bertaruh dan taruhannya adalah kredibilitas UI sendiri. Tapi seberapa banyak alumni UI dan civitas academica UI masih perduli? Biarlah sejarah yang menjawabnya !

Post a Comment