JAKARTA, - Kekhawatiran terhadap masa depan Indonesia sebagai negara gagal memang sangat beralasan. Sebab, rakyat melihat para pemimpin politik dan birokrasi negara sudah terperangkap dalam nikmat perselingkuhan dengan para mafia di berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian diungkapkan anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo. Lebih lanjut bambang mengatakan, eksistensi para mafia di negara ini langsung terlihat oleh publik setiap kali kasus-kasus hukum berskala besar terungkap. Dari kasus BLBI, megaskandal Bank Century, kasus Arthalita Suryani, kasus Mafia pajak Gayus Tambunan, hingga kasus Hakim Syafruddin, selalu merefleksikan peran dan kekuatan para mafia. Bahkan kini, mafia di lembaga pemilu (KPU) pun sudah mulai terkuak dengan munculnya kasus Andi Nurpati.
"Rakyat melihat bahwa keberanian dan kemauan politik para pemimpin memerangi mafia baru sebatas retorika dan pidato belaka, bukan dalam tindakan nyata. Buktinya, proses hukum megaskandal Bank Century dan mafia pajak nyaris tanpa progres," ungkapnya.
Menurut Alumni Lemhanas KSA XIII ini, kalau kemudian dimunculkan persepsi bahwa Indonesia berpotensi sebagai negara gagal, itu karena rakyat melihat para pemimpin politik dan birokrasi negara sudah tidak memiliki lagi keberanian politik untuk lepas darI cengkeraman para mafia. Mereka berselingkuh dan terperangkap dalam perselingkuhan itu.
Jika perselingkuhan birokrasi negara dengan para mafia tak bisa diakhiri, sendi-sendi negara akan terus melemah. Sebab, Kepedulian birokrasi negara tak lagi kepada negara dan rakyat, melainkan hanya untuk partner selingkuhan mereka, yakni para mafia. Jadi, tidak ada yang salah dengan kekhawatiran akan masa depan Indonesia sebagai negara gagal atau bangkrut.
"Di ruang publik saat ini, sudah muncul kesimpulan bersama bahwa pemerintah dan para pemimpin politik tidak berani memerangi mafia karena banyak kekuatan politik sudah menikmati keuntungan dari para mafia," tandasnya.[ACH]
RIMANEWS

Post a Comment