Kita sendiri bingung kenapa sampai dua kali persidangan berturut-turut wartawan Jamaah Ansharu Tauhid (JAT) kok sampai diusir. Padahal kita di sana tugasnya ingin meliput persidangan. Dan status kita sama dengan media-media lain sebenarnya, dengan Media Umat dan lain sebagainya. Hakim beralasan merasa terganggu karena kameranya menyorot hakim. Padahal kami menggunakan handycam kecil. Tidak pakai cahaya.Tidak pakai blitz segala itu.
Kalau merasa terganggu saya pikir media yang lain lebih besar kameranya juga terus mengarah ke hakim. Kelihatannya dia sudah bagaimana gitu. Satu lagi bahwa hakim boleh mengeluarkan kalau ada kegaduhan. Itu tidak ada kegaduhan. Tidak ada penghinaan kepada majelis hakim, tidak ada penghinaan kepada pengadilan.
Terkait dengan saksi, Ustadz Abu mengeluhkan banyak saksi yang tidak dikenalnya.Tentang Mufidz, ia banyak yang tidak tahu. Juga saksi bernama Ubaid yang mengaku melihat Ustadz Abu bertemu Dulmatin, ketika ditanya hakim, Ubaid jawab, "Ya mungkin saja bisa." Ini kan dugaan. sebagai seorang saksi mestinya dia melihat dan mendengar langsung apa yang dia saksikan. Tapi dia malah bercerita seperti itu. Apakah cerita ini adalah bentuk pengarahan?
Tapi untung saja ada saksi yang jujur, namanya Joko Sulistiyo alias Ma'ruf terdakwa kasus pelatihan Aceh. Ada dua hal yang penting ketika Ust Abu bertanya kepada dia dua pertanyaan. Pertanyaan pertama, apakah mengalami siksaan lahir maupun bathin ketika dalam proses penyidikan? Joko jawab, "Iya, saya mengalami penyiksaan."
Kemudian yang kedua ditanya apakah rakyat Aceh terteror dengan kegiatan pelatihan di Aceh itu. bia jawab, "Tidak terteror. Karena jarak pelatihan dengan kampung perahu sangat jauh dan tidak ada rasa teror. Bahkan mereka pun sering mengirimi bahan makanan kepada ikhwan-ikhwan yang melakukan pelatihan di Aceh."
Saya kira dua hal ini sangat penting sekali untuk diketahui oleh masyarakat bahwa selama ini pelatihan Aceh dianggap sebagai teroris ternyata terbantahkan dengan keterangan tersangka teroris dalam pelatihan Aceh itu. Jadi sebenarnya kalau boleh saya katakan ini merupakan dagelan persidangan yang tidak lucu.
ABDUR RAHIM BAASYIR, Putra Abu Bakar Baasyir
Ya, ini kan semakin kelihatan sebenarnya bahwa persidangan ini seperti yang sudah kita prediksi sejak awal bahwa persidangan ini tidak adil. Ini adalah bentuk penzaliman yang nyata terhadap salah satu ikon perjuangan syariat Islam di Indonesia ini. Dan semakin hari, pelan tapi pasti, semakin terlihat bagaimana penzaliman-penzaliman itu terbuka di hadapan mata kita.
Contohnya sejak dari penekanan bahwa beliau dituduh dengan pasal terorisme itu sudah kesan memaksakan sekali kan sudah kelihatan. Karena bagaimana pun kasus Aceh tidak bisa, bahkan dengan undang-undang sendiri pun tidak bisa dikategorikan sebagai tindak terorisme. Tidak memenuhi unsur-unsurnya. Tidak ada pihak yang diteror. Kecuali polisi sendiri. Dan itu polisi yang di Jakarta. Kalau polisi yang di Aceh, bahkan tidak pernah merasakan takut.
Kedua, ketika persidangan sudah dilaksankan kita melihat bagaimana pemaksaan dan pengondisian terhadap saksi-saksi kita. Kemudian dalam perjalanan juga kita sebenarnya melihat bagaimana wajah para saksi-saksi itu. Wajahnya kelihatan seperti orang-orang yang dipaksa. Kemudian setelah itu semakin hari semakin terungkap.
Sudah terungkap bahwa Surat pernyataan yang mereka bikin bahwa mereka akan memberikan kesaksian melalui teleconference itu bukan inisiatif dari mereka.
ACHMAD MICHDAN, Kuasa Hukum Abu Bakar Baasyir
Sebetulnya sejak awal Ustadz Abu sudah tidak mau mengikuti persidangan. Karena diduga jaksa mengubah dakwaan itu. Itu prinisip buat Ustadz. Tapi Ustadz memang toleran dan saksi-saksi yang menghendaki beliau hadir pada saat itu.
Ustadz setuju disidangkan tanpa penasihat hukum, itu tidak benar. Ustadz hanya mempertimbangkan keyakinannya kalau dia tidak mau sidang tetapi beliau mau hadir di persidangan jika saksi meminta. Jadi bukan hakim, bukan jaksa yang meminta.
Unsur penekan fisik-psikis terhadap saksi-saksi itu ada. Karena dia dalam memberikan jawaban, si saksi menyatakan, "Yang tahu itu adalah Allah dan saya."Itu berarti ada ancaman psikis. Dan kalau hakim ingin mencari keadilan, dia harus tajam dengan pernyataan itu. Hakim harus bertanya,"Ini maksudnya apa?" begitu. Tapi ini memang karena hakim mempunyai target-target tertentu jadi tidak mau menggali itu.
Dari proses persidangan itu tampak sekali bahwa hakim tidak imparsial dan transparan. Jadi jelas di sini bahwa semua orang mendapatkan yang lama dalam peradilan yang fair itu tidak ada. Jadi persidangan ini cuma mau menetapkan bahwa Ustadz sebagai orang yang bersalah dan menjatuhkan hukuman. Jadi hakim sudah berpihak sejak awal, ini peradilan yang tidak fair. Jadi proses persidangan ini di awali dengan unfair miss trail gitu.
Jadi saya melihat persidangan ini zalim. Kita tahu bahwa seseorang sebelum ada putusan itu dia harus dianggap orang yang tidak bersalah.
KH CHOLLIL RIDWAN, Ketua MUI Pusat
Ya susahlah kita memberikan pandangan terkait bom buku ini karena pelakunya belum diketahui oleh aparat. Hanya mungkin hikmahnya barangkali yaitu Gorries Mere dan Ahmad Dhani yang dikirimi bom buku itu supaya sadarlah mereka. Agar mereka tidak terlalu mendiskreditkan umat Islam dan Islam: Seperti Ulil kan merusak akidah umat dengan menyebarkan liberalismenya dan pluralismenya.
Tidak bisa dong langsung dikatakan yang membom itu orang yang mau mendirikan khilafah. Ansyaad Mbai tidak boleh dong menuduh tanpa bukti. Harus transparan dan harus jelas siapa yang mau mendirikan khilafah itu dan tangkap dulu orangnya. Betul tidak orang itu berhubungan dengan orang yang akan mendirikan khilafah.
Dia tidak boleh mendiskreditkan umat Islam atau kelompok umat Islam tertentu.Yang mau mendirikan khilafah itu kan HTI dan ada satu lagi di Cileungsi itu Hizbullah ya. Buktikan saja atau panggil HTI¬nya. Jangan bikin isu-isu yang meresahkan umat.
Umat Islam harus bersatu, kompak dan membuktikan bahwa itu bukan pekerjaan umat Islam. Kalaupun dia beragama Islam tetapi oknum, bukan atas nama umat Islam. Karena umat Islam kalau perang ya fair, ksatria tidak pakai kirim-kirim bom begitu kan. Satu lawan satu, muka lawan muka begitu terang-terangan kalau umat Islam itu. Kalau itu misalnya, dia mengaku beragama Islam dia kan hanya oknum. Presiden kita juga kan agamanya Islam, Ansyaad Mbai juga agamanya Islam.
AC MANULLANG, Pengamat Intelijen
Jadi sengaja buku itu ditulis dan diantar lengkap dengan alamat dan nama pengirimnya yang semuanya itu merupakan Deception Operation Intelegent atau penyesatan. Bom buku itu sesuatu technical operation daripada teroris itu. Sudah sejak lama nama Islam ini diobok-obok. Maka apa yang terjadi luar biasa menyakitkan, mengerikan dan mendiskreditkan nama Islam. Islam dianggap menjadi penyebab teroris itu.
Nah pertanyaan saya sebagai intelejen. Pertama, mengapa tidak ada data-data informasi intelijen atau indikator-indikator akan terjadi itu. Sebab dari segi intelijen, bukan setelah peristiwa baru diumumkan. Sebelum peristiwa itu sudah ada namanya early warning system, peringatan dini atas sesuatu yang terjadi.
Harus ada peringatan terdahulu dan juga kenapa juga Islam dan yang lainnya itu dibelah. Atau katakanlah orang bukan Islam dan diperkirakan lagi dimuat berita-berita, musuh kita Yahudi dan segala macam. Tidak ada hubungannya. Siapa yang tidak tahu bahwa Yahudi itu adalah brengsek? Kenapa itu dicontoh-contohkan dalam peristiwa dalam bom buku itu? Apa maksudnya? Itu merupakan keinginan sponsornya atau intelektualnya itu. Maksudnya agar yang dituduh sebagai pelakunya adalah lslam.
KOMBES POL BAHARUDIN DJAFAR, Kadiv Humas Polda Metro Jaya
Bom buku atau paket bom, sejak tanggal 15 Maret hari Selasa, seingat saya itu sampai dengan sekarang (Jumat (25/3) hanya ada empat yang ada bomnya. Bomnya bukan mercon atau petasan karena terlihat ada rangkaian bom dan bahan peledaknya. Empat itu yang ada di KBH 68, kemudian BNN, di rumah Pak Yapto, dan Ahmad Dhani. Setelah itu tidak ada bom, rangkaian bom sampai dengan hari ini. Yang ada adalah paket yang warga curigai. Paket yang dicurigai ada rangkaian di dalamnya. Kemudian setelah ditangani oleh pihak Gegana oleh seluruh jajaran. Alhamdulillah tidak ada.
Sampai dengan sekarang kita belum tahu motif dari bom buku atau bom paket itu. Karena Badan Intelijen Negara (BIN) yang bekerja masih melakukan pencarian. Masih melihat dari pada semua saksi-saksi yang ada ditempat kejadian bahkan disinkronkan dengan orang-orang yang masih menjadi target polisi. Jadi belum bisa disimpulkan apa-apa.
Post a Comment