Jalan Karl Marx Menjadi Iblis (1)

Sangat disayangkan, setelah mengalami suatu peristiwa gaib pada usia 18 tahun, Marx berubah menjadi seorang pengikut setan. Ini terlihat jelas dari puisi konvesionalnya, panggilan anggota keluarga terhadap dirinya (iblis tercinta dan gembala), sealiran yang mengelilinginya, model rambutnya, cara Marx berdoa, menantu yang direstuinya dari aliran setan, serta pilihannya pada tanah pemakaman bagi para pengikut setan.

Jika dilihat dari data yang ada sekarang, mungkin sekali setan telah menampakkan diri di hadapannya saat ia terhanyut kegirangan dalam dunia khayal nafsu birahi dan berfoya-foya, dan itu membuat Marx percaya bahwa dialah orang pilihan setan sebagai pewarta di tengah umat manusia. Misinya membangkitkan si raja teror, dengan bujuk rayunya mengenai ‘kehidupan yang bahagia’ dengan membuat umat manusia berdalih ‘tidak percaya Tuhan’ dan kemudian ‘menentang Tuhan’ sehingga terjerumus ke dalam neraka.




Masih berusia 18, Marx telah menetapkan rencana untuk sisa hayatnya --- Ia tidak ber-utopia melakukan pelayanan bagi umat manusia, kaum proletariat, atau sosialisme. Ia hendak bekerja bagi iblis: mengutuk semua umat manusia agar jatuh ke neraka. Ia ingin menghancurkan dunia ini, membangun singgasana kerajaannya berlandaskan kegoncangan, penderitaan, dan bergejolaknya dunia. (WIKIPEDIA)



Sejak 200 tahun yang lalu Marx dipilih setan, lalu siapa yang dipilih setan pada kehidupan kali ini? Di dalam karya sastranya, Marx secara jelas telah menyatakan, bahwa para pengikut partai komunis ‘akan menemui Marx setelah mati,’ mereka semua akan diberi tanda, dan mulai saat ini mereka semua akan masuk neraka “untuk menemani saya.”

Jenderal Sergius Riis warga AS yang merupakan salah seorang pengagum Karl Marx, secara khusus mendatangi kediaman Marx di London setelah Marx meninggal dunia. Semua keluarga Marx sudah pindah dari sana, satu-satunya yang dapat ditemuinya saat itu hanyalah pembantu Marx bernama Helen.

Fakta yang dikatakan Helen sungguh mengejutkan Riis: “Ia seorang yang sangat taat pada Tuhan. Saat sakit keras, ia mengurung diri di dalam kamar, membebat kepalanya dengan kain, dan berdoa sambil menghadap sebaris lilin yang menyala.” Jenderal AS ini ragu: kepada siapakah Karl Marx berdoa? Mana ada ritual keagamaan yang aneh seperti itu?


Sepenggal kalimat ini diterjemahkan dari buku yang berjudul Marx and Satan (Marx dan Setan) karya Von Richard Wurmbrand yang diterbitkan pada 1986, oleh penerbit Living Sacrifice. Artikel tersebut mengacu pada sejumlah artikel lainnya yang berasal dari situs
www.marxists.org yang berjudul “Pengultusan Marx - Berasal Dari Satanisme”, Was Karl Marx A Satanist? (Apakah Marx Seorang Pengikut Setan?), dan lain-lainnya.

Awalnya Umat Kristiani

Pada awalnya Marx merupakan umat Kristen. Pada salah satu bait AlKitab “Johannes 15 : 1-14 Manunggal: Makna Menjadi Satu, Keharusan dan Dampaknya”, ia menulis: “menjadi satu dengan Kristus, yakni di tengah persahabatanNya yang akrab dan menyegarkan, di tengah kenyataan seperti ini: Ia selalu ada di hadapan kita dan di dalam hati kita.”


Ayahnya Henry Marx, seorang pengacara senior menggantungkan harapan sangat besar terhadap putra berbakatnya Karl Marx. Rolv Heuer di dalam bukunya yang berjudul “Genius dan Hartawan” mengatakan: “Pengacara senior Henry Marx memberikan 700 uang perak setiap tahunnya kepada Karl Marx sebagai uang jajannya sewaktu di perguruan tinggi, sementara di saat itu sangat sedikit orang yang memiliki pendapatan tahunan melebihi 300 uang perak.”


Mahasiswa dari kalangan darah biru seperti dirinya tentu sulit untuk menjalani penderitaan hidup sesuai doktrin Kristen. Victor Hugo dalam buku ‘Les Miserables’ (Tragedi Dunia) pernah menggambarkan sekelompok mahasiswa yang berhura-hura semasa studi mereka, padahal kekuatan finansial para mahasiswa tersebut masih kalah jauh dibandingkan Marx.


Kehidupannya di perguruan tinggi yang glamour membuat Marx merasa terkekang dengan segala larangan di dalam agama ortodoks, ia mendambakan seks bebas sejati, dan bersamaan dengan itu suatu aliran setan yang diam-diam menyebar di dataran Eropa tepat memenuhi keinginannya itu. Marx pun menghamburkan uangnya untuk berhura-hura, sehingga terlibat perselisihan tiada berkesudahan dengan kedua orang tuanya, hilangnya rasa kekeluargaan, jiwa yang hampa, sehingga menjerumuskannya ke dalam jerat organisasi rahasia pengikut setan.


Bergabung Aliran Sesat


Tak lama setelah itu, suatu peristiwa gaib terjadi. Dalam suatu naskah yang ditulisnya di masa kuliah, terdapat jawabannya. Naskah itu berjudul Oulanem.


Di dalam aliran setan ada suatu ritual persembahan yang disebut ‘pertemuan hitam.’ Pemimpin ritual tersebut akan membaca mantera di tengah malam. Lilin hitam akan diletakkan terbalik di altar persembahan, pemimpin ritual mengenakan jubah hitam secara terbalik, dan membaca sesuai buku mantera, namun urutan pembacaan sama sekali terbalik, termasuk nama Yesus, Maria, dan nama suci lainnya semua dibacakan terbalik. Sebuah salib diletakkan terbalik atau diinjak di bawah telapak kaki, sebuah alat yang dicuri dari gereja diukirkan nama setan, guna pencegahan pemalsuan.


Di tengah ‘pertemuan hitam’ ini, sebuah Alkitab akan dibakar. Lalu semua peserta ritual akan bersumpah untuk melakukan 7 dosa besar yang dilarang dalam agama Kristiani, dan selamanya tidak akan berbuat baik. Lalu mereka akan berpesta melampiaskan hawa nafsu.


Oulanem ialah nama suci Emmanuel yang ditulis secara ngawur dan terbalik. Emmanuel sendiri merupakan salah satu nama Yesus di dalam Alkitab, yang artinya ‘Tuhan beserta kita’ di dalam bahasa Hibrani. Aliran iblis hitam berpendapat bahwa penulisan terbalik seperti ini lebih efektif. Dalam puisi Sang Pemeran di dalam buku Oulanem, Marx menuliskan pengakuan yang aneh sebagai


“Hawa neraka menguap dan memenuhi otak saya, hingga saya menggila, hati saya berubah sama sekali. Lihat pedang ini? Raja Kegelapan menjualnya kepada saya, ia memecut waktu bagi saya, dan memberikan tanda pada saya, tarian kematian saya bawakan dengan semakin nekat.”

Dari tulisan ini semakin jelas menunjukkan bahwa Marx telah menandatangani kontrak dengan setan.

Perkataan ini memiliki makna khusus: di tengah ritual penghubung dalam aliran setan, sebilah pedang yang telah disihir dan dapat memastikan suatu keberhasilan, akan dijual kepada sang penghubung. Lalu yang harus dibayar oleh sang penghubung adalah menandatangani perjanjian dengan setan menggunakan darah yang berasal dari urat nadinya sendiri, sehingga setelah ia mati nanti, maka arwahnya akan menjadi milik setan.


Seorang penganut Marxisme bernama Franz Mehring dalam bukunya berjudul 'Karl Marx' menulis, “Henry Marx sama sekali tidak mengira bahwa kekayaan bertumpuk yang diwariskannya pada Karl Marx akan membantu mewujudkan hal yang paling ditakutinya, namun samar-samar ia sepertinya telah menyadari bahwa putra kesayangannya telah dirasuki iblis.”


Pada 2 Maret 1837, ayah Karl Marx mengirim surat yang mengatakan: “Saya pernah mendambakan suatu hari nanti engkau akan membawa nama besar dan meraih keberhasilan, namun ini bukanlah satu-satunya harapan di dalam hati saya. Semua ini pernah menjadi harapan jangka panjang saya, namun kini saya beritahu padamu, terwujudnya harapan tersebut tidak akan membuat saya bahagia. Hanya dengan menjaga kesucian hatimu, berdetak dengan penuh sifat kemanusiaan, tidak membiarkan hatimu dirasuki setan, hanya dengan demikian dapat membuat saya bahagia.”


Akhirnya saat di perguruan tinggi Marx bergabung dengan Gereja Setan pimpinan Joanna Southcott, dan menjadi pengikutnya. Pada 10 November 1837, ia membalas surat ayahnya:


“Selapis cangkang luar telah terkelupas, sisi yang suci pada diri saya terpaksa meninggalkan saya, suatu arwah baru pasti akan menggantikannya. Suatu kegilaan yang sesungguhnya telah menguasai saya, saya tidak dapat menenangkan roh jahat ini.” 

Marx Hendak Musnahkan Manusia

Berikut ini kutipan naskah Oulanem :

“Kedua lengan muda saya telah dipenuhi dengan kekuatan, dengan terjangan dahsyat akan menggenggam dan menghancurkanmu - wahai manusia. Di tengah kegelapan, pintu neraka tanpa dasar terbuka bagi kau dan aku, kau akan jatuh ke dalamnya, aku akan tertawa terbahak dan mengikutimu, dan berbisik di telingamu: turunlah dan temani aku, kawan!”

Dalam Alkitab yang dipelajari Marx di sekolah menengah dikatakan, iblis dijebloskan ke dalam neraka tanpa dasar oleh seorang malaikat (Alkitab – Wahyu 20:3). Neraka tanpa dasar ini dipersiapkan bagi iblis dan para malaikat yang berubah jahat, dan Marx justru hendak menjerumuskan seluruh umat manusia ke dalam neraka ini.

Dari perkataan pemuda ini kita memiliki dalih untuk berpikir demikian: ia memimpikan umat manusia akan terjerumus ke dalam neraka tanpa dasar, sementara ia sendiri, akan tertawa terbahak dan mengikuti para manusia tak ber-Tuhan yang tertipu oleh paham ateis itu. Selain sang penghubung dalam Gereja Setan, di dunia ini tidak ada tempat yang memiliki pemikiran seperti ini.

Setelah Oulanem mati, Marx menulis: “Hancur, hancur. Waktuku telah tiba. Jam berhenti berdetak, bangunan kecil itu telah runtuh. Aku akan segera merangkul keabadian, dan seiring dengan suatu auman liar, akan terucap kutukan kepada seluruh umat manusia.”

Saat menulis Oulanem, Marx masih berusia 18 tahun. Waktu itu rencana hidupnya yang telah digariskannya sudah sangat jelas. Ia tidak berangan-angan untuk bekerja melayani umat manusia, kaum proletariat, ataupun sosialisme, ia hanya ingin bekerja bagi iblis; mengutuk manusia agar terjerumus ke dalam neraka. Ia hendak menghancurkan dunia ini, membangun singgasana kerajaannya dengan berlandaskan kegocangan, penderitaan, dan bergejolaknya dunia.

Marx sangat menyukai kata-kata iblis jahat Mephistopheles dalam The Fused dari Goethe:

“Segala sesuatu yang eksis seharusnya dimusnahkan.” Segala sesuatu - termasuk para buruh dan orang-orang yang berjuang demi paham komunisme itu sendiri. Marx sangat suka mengutip perkataan itu, sementara Stalin justru menjalankannya dengan setia, bahkan rela menghancurkan keluarganya sendiri.

Kita mulai memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada pemuda bernama Karl Marx ini. Dulunya ia pernah mempunyai idealisme dalam agama Kristen, namun sama sekali tidak melaksanakannya. Dalam korespondensi dengan sang ayah membuktikan, ia telah menghamburkan banyak uang untuk berfoya-foya, yang menyebabkan keretakan hubungan dengan kedua orang tuanya serta bentrok dan konflik tiada akhir.

Dalam keadaan seperti ini, ia telah terjerumus ke dalam jerat organisasi pengikut organisasi ajaran setan, dan sudah pernah menjalani ritual persembahan. Setan dapat menampakkan diri di dalam halusinasi para pengikutnya saat mereka sedang melampiaskan nafsu dan kegilaan mereka, dan dapat berbicara melalui mulut mereka. Saat Marx mengatakan: “Saya akan membalas dendam pada Tuhan”, nyata sekali bahwa ia telah menjadi juru bicara setan.


Di zaman Marx, kaum pria umumnya memelihara kumis, namun bentuk kumis mereka berbeda dengan Marx, dan tidak berambut gondrong. Penampilan Marx waktu itu adalah simbol pengikut setia Joanna Southcott, pemimpin perempuan dalam organisasi pengikut ajaran setan. Meskipun partai komunis mengklaim sebagai ateis, namun sejak awal hingga akhir Karl Marx sendiri adalah umat Kristiani yang taat. Sampai usia 17 tahun ia adalah seorang umat Kristiani dan dalam karya tulis kelulusan SMA ia menulis: 'Jika tidak ada kepercayaan terhadap Tuhan, dan tidak sejalan dengan Kristus, maka umat manusia tidak akan memiliki moralitas sempurna, dan tidak akan merasa puas dalam mengejar kebenaran dan pencerahan. Hanya Tuhanlah yang dapat menyelamatkan kita.' (WIKIPEDIA)


Paham Sosialisme Hanyalah Perangkap Setan

Setelah Marx merampungkan Oulanem dan sejumlah puisinya di masa awal (di dalam puisinya Marx sendiri mengaku telah menandatangani kontrak dengan iblis), bukan saja ia tak memiliki konsep sosialisme, bahkan ia menentang keras paham tersebut.

Waktu itu ia adalah redaktur utama Rheinische Zeitung dalam bahasa Jerman, media cetak ini “sama sekali tidak menolerir paham komunis dalam bentuk apa pun bahkan hanya sekedar teori sekalipun, apalagi menerapkannya? Bagaimana pun juga hal ini sama sekali tidak mungkin…”

Tapi setelah itu, Marx bertemu dengan Moses Hess. Orang ini memainkan peran paling penting dalam kehidupan Marx, dialah yang membawa Marx pada konsep pemikiran paham sosialisme. Dalam sepucuk suratnya kepada B. Auerbach (1841), Hess menyebutkan bahwa Marx adalah “paling agung bahkan mungkin satu-satunya, tokoh filosofi muda (24) yang akan memberikan pukulan telak terhadap agama dan ilmu filsafat.”

Bisa dilihat, tujuan utamanya adalah menyerang agama dan bukan mewujudkan paham sosialisme. Kenyataannya, Marx sangat membenci segala sesuatu yang bersifat Ketuhanan, dan tidak ingin mendengar kata-kata Tuhan. Paham sosialisme hanyalah suatu perangkap untuk memancing para kaum proletariat dan kaum cendekia untuk mewujudkan idealisme setan saja.

Seorang teman Marx lainnya yakni Georg Jung pada 1841 secara lebih jelas lagi menuliskan, Marx pasti akan mengusir Tuhan dari surga, dan bahkan akan menggugat Tuhan. Pada akhirnya Marx secara konsekwen tidak mengakui keberadaan Sang Pencipta. Dan jika Sang Pencipta tidak eksis, maka tidak akan ada lagi orang yang akan membuat larangan terhadap kita, sehingga tidak perlu bertanggung jawab kepada siapa pun. Manifesto Marx “pengikut komunisme sama sekali tidak mempropagandakan moral” memastikan hal ini.

Di zaman Marx, kaum pria umumnya memelihara kumis, namun bentuk kumis mereka berbeda dengan Marx, dan tidak berambut gondrong. Penampilan Marx waktu itu adalah simbol pengikut setia Joanna Southcott, pemimpin perempuan dalam organisasi pengikut ajaran setan. Ia mengaku bisa berkomunikasi dengan Shiloh si iblis jahat. Ia meninggal pada 1814, dan 60 tahun kemudian, seorang aktivis bernama James White, mengembangkan doktrin Joanna, dengan memberikan bumbu-bumbu paham komunisme di dalamnya.

Marx agak jarang membicarakan masalah metafisika secara terbuka, tapi dari orang-orang yang berhubungan dengannya dapat kita kumpulkan informasi mengenai pandangannya. Marx dan seorang pengikut anarkisme dari Rusia yang bernama Mikhail Bakunin bersama-sama membentuk “Internasional Pertama”. Bakunin menulis:

“Pemimpin iblis itu adalah setan pemberontak terhadap Tuhan. Di dalam pemberontakan itu, kebebasan umat manusia akan terjadi di mana-mana, itulah revolusi. Para pengikut paham sosialisme bersemboyan: ‘atas nama pemimpin yang diperlakukan salah’. Setan, sebagai pemberontak sejati, adalah penyelamat dunia dan pemikir paham kebebasan pertama, setan membuat manusia merasa malu dengan ketidak tahuan dan kepatuhan mereka; setan membebaskan manusia, memberi tanda kebebasan dan kemanusiaan di kening setiap manusia, membuat manusia memberontak dan memakan buah pengetahuan.”

Bakunin tidak hanya memuja Lucifer, ia juga memiliki rencana revolusi yang konkrit, akan tetapi rencana ini tidak akan bisa membebaskan rakyat miskin yang terus diperas. Ia menulis: “Di tengah revolusi ini, kita harus membangunkan iblis jahat di dalam diri setiap manusia, agar dapat membangkitkan emosi yang paling bengis dalam diri mereka. Misi kita adalah menghancurkan, dan bukan membimbing mereka. Gairah akan kehancuran adalah gairah yang inovatif.” (TheEpoch Times/lie)