Intervensi Pasukan Arab Saudi Warnai Protes Bahrain



MANAMA (Berita SuaraMedia) – Dalam sebuah upaya untuk menopang sekutu dekatnya, Arab Saudi mengirim ratusan pasukan masuk ke dalam Bahrain pada Senin (14/3) waktu setempat, dalam sebuah tawaran untuk membantu pemerintah mendamaikan protes anti-rejim.
Intervensi tersebut datang "setelah seruan berulang-ulang oleh pemerintah Bahrain untuk dialog, yang berlangsung tanpa terjawab" oleh pihak oposisi, seorang pejabat Arab Saudi mengatakan kepada kantor berita Agence France-Presse (AFP).
Pasukan tersebut, yang masuk kerajaan Teluk strategis, adalah bagian dari Pasukan Pelindung Teluk milik negara-negara Teluk.
Di bawah peraturan Dewan Kerjasama Teluk, "pasukan Teluk manapun yang memasuki sebuah negara anggota menjadi berada di bawah komando pemerintah," pejabat tersebut menambahkan.
Bahrain, sebuah negara dengan sebagian besar Syiah dikuasai oleh sebuah dinasti Muslim Sunni, telah melihat protes oposisi akbar, menuntut jangkauan luas reformasi demokrasi.
Raja Bahrain telah menawarkan dialog dan sebuah perlemen baru yang lebih kuat, dan refomrasi lainnya namun pihak oposisi telah menolak untuk duduk dan berbicara sampai pemerintah mengundurkan diri.
Pemerintah Bahrain belum mengkonfirmasi kehadiran pasukan Arab Saudi di kepulauan tersebut, yang adalah rumah bagi Armada Kapal Kelima AS.
Namun, menteri luar negeri kerajaan tersebut mengatakan pada akun Twitter miliknya bahwa pasukan keamanan Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council – GCC) ada di Bahrain, tidak memberikan rincian lebih jauh.
Nabeel Al-Hamer, seorang mantan menteri informasi dan penasihat pengadilan kerajaan, mengkonfirmasi berita tersebut, juga melalui berita Twitter miliknya.
"Pasukan dari Dewan Kerjasama Teluk telah tiba di Bahrain untuk mempertahankan ketertiban dan keamanan," Al-Hamer mengatakan.
GCC terbentuk dari enam negara Teluk – Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, dan Qatar.
Aliansi tersebut bertujuan untuk mencapai integrasi ekonomi dan keamanan antara negara anggota GCC.
Bahrain digabungkan dengan Arab Saudi oleh sebuah jalan lintasan di seberang Teluk.
Para analis dan diplomat menyakini bahwa Arab Saudi dibuat khawatir oleh perselisihan di Bahrain karena perselisihan tersebut akan membuat lebih berani orang-orang Syiah yang gelisah di dalam Provinsi bagian Timur, pusat dari industri minyak.
Kantor berita harian Gulf Daily News, sebuah harian yang dekat dengan perdana menteri berkuasa Bahrain, memberitakan pada Senin (14/3) bahwa pasukan dari GCC akan melindungi fasilitas-fasilitas strategis.
Pasukan GCC akan membantu mempertahanakan ketertiban dan hukum, harian tersebut mengatakan di sebuah berita halaman depan, kantor berita Reuters mengatakan.
"Misi mereka akan dibatasi untuk melindungi fasilitas penting, seperti minyak, listrik dan instalasi air, dan fasilitas perbankan dan keuangan."
Pada Senin, para pemrotes tumpah ruah masuk ke dalam distrik pusat fasilitas penting, kompleks bisnis Financial Harbor – sebuah simbol kekayaan dan keistimewaan – sementara kepolisian nampaknya telah meninggalkan daerah tersebut, para saksi mengatakan.
Oposisi Bahrain mengecam intervensi Arab Saudi sebagai sebuah "pendudukan asing".
"Kami menganggap kedatangan tentara manapun, atau kendaraan militer apapun, masuk ke dalam kawasan Bahrain… sebuah pendudukan terselubung dari kerajaan Bahrain dan sebuah konspirasi terhadap rakyat Bahrain yang tidak bersenjata," kata sebuah pernyataan oleh aliansi oposisi yang dikutip oleh kantor berita AFP.
Blok tersebut membandingkan tujuh kelompok oposisi, sebagian besar Syiah, mengatakan bahwa intervensi tersebut "melanggar konvensi internasional."
Blok alinasi tersebut juga menyerukan sebuah pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, dan memohon komunitas internasional untuk bertindak memastikan "perlindungan rakyat Bahrain dari bahaya intervensi militer asing."
Intervensi Arab Saudi kemungkinan besar memicu sensitivitas di Teluk, di mana beberapa komunitas Syiah mengeluhkan diskriminasi dan marjinalisasi.
"Negara dengan populasi Syiah yang besar, terutama di Kuwait dan Arab Saudi, kemungkinan mengintensifkan demonstrasi anti-rejim lokal sendiri," Ghanem Nuseibeh, rekanan pada konsultasi Cornerstone Global, mengatakan kepada kantor berita Reuters.
"Perselisihan Bahrain dapat secara potensial mengubah kekerasan sektarian regional yang berlangsung melebihi perbatasan negara tertentu yang dikhawatirkan."
Namun di Bahrain sendiri, para pemrotes nampaknya tidak terpengaruh oleh berita-berita intervensi Arab Saudi.
"Kami tidak akan pernah pergi. Ini adalah negara kami," kata Abdullah, seorang pemrotes, ketika ditanya apakah pasukan Arab Saudi akan menghentikan mereka.
"Mengapa kami harus takut? Kami tidak takut di dalam negara kami sendiri." (ppt/oi)www.suaramedia.com