Tiga Hari Setelah Tumbang, Mubarak Dikabarkan Koma

KAIRO (Berita SuaraMedia) – Tiga hari setelah pemecatan mantan presiden Mesir, Hosni Mubara dikabarkan dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk dan semakin merosot masuk ke sebuah kondisi koma. "Mubarak, yang baru-baru ini berada di Sharm el-Sheikh, menderita masalah kesehatan fisik dan menderita secara psikologis," kantor berita harian Al-Masry Al-Youm pada website berbahasa Inggris-nya (14/2) memberitakan sambil menyebutkan sumber-sumber tak bernama yang terinformasi.
Menurut harian tersebut, Mubarak 82 tahun "menolak untuk meminum obat atau diperiksa oleh para dokter."
Harian tersebut juga mengklaim bahwa pemimpin yang sudah lanjut usia tersebut mulai merosot menuju keadaan koma.
Mubarak, yang telah berkuasa semenjak tahun 1981, menyerahkan kekuasaan tersebut kepada militer pada Jum'at, setelah 18 hari demonstrasi terhadap rejim tersebut.
Dengan beberapa rumor disebarkan tentang keberadaannya, Perdana Menteri Ahmed Shafiq mengatakan pada Minggu (13/2) bahwa ia percaya Mubarak baru-baru ini berada di resort Laut Merah Mesir, Sharm El-Sheikh.
Mubarak menjalani sebuah operasi yang berhasil pada bulan Maret 2010 di sebuah klinik Jerman untuk radang kandung empedu.
Sejak saat itu, keraguan mulai meningkat atas kesehatan mantan presiden tersebut.
"Mubarak menerima perawatan di kediamannya di kota resort tersebut," harian tersebut mengatakan.
"Masih belum diputuskan apakaha ia seharusnya dipindahkan ke sebuah rumah sakit, baik itu di Mesir atau di luar negeri."
Duta Besar Mesir untuk AS, Sameh Shoukry mengkonfirmasi berita tersebut mengatakan bahwa Mubarak kemungkinan berada  dalam kondisi "kesehatan buruk."
Berbicara pada program "Today" stasiun NBC, Shoukry mengatakan bahwa ia telah menerima informasi bahwa Mubarak "kemungkinan berada dalam kondisi kesehatan yang bagaimanapun buruk."
Namun, ia tidak dapat memberikan informasi yang lebih spesifik.
Sebuah harian pemerintah pada Senin mengakui bahwa Mubarak sedang dalam kondisi kesehatan yang peka, namun membantah bahwa pemimpin lanjut usia tersebut sedang dalam keadaan koma.
Mubarak sedang dalam sebuah "kondisi prikologis parah dan menolak pengobatan, disamping kesakitannya," namun tidak sedang dalam koma, kantor berita harian pro pemerintah Al-Gomhuria menyebutkan sumber-sumber yang dekat dengan Mubarak.
Laporan tersebut datang setelah anak-anak Mubarak dikabarkan bertengkar atas alasan di balik turunnya ayah mereka.
"Anda menghancurkan negara tersebut ketika Anda membuka jalan untuk teman Anda. Inilah hasilnya," anak tertua Mubarak Alaa dikutip oleh harian Al-Akhbar ketika mengatakan kepada saudaranya yang lebih muda, Gamal.
"Disamping ayahmu dihormati pada akhir hidupnya, Anda membantu merusak citranya."
Harian tersebut mengatakan konfrontasi yang terjadi di istana kepresidenan di Kairo pada Kamis, ketika Mubarak menyerahkan kekuasaannya kepada wakil presidennya sebelum mengundurkan diri pada hari berikutnya.
Sumber-sumber juga mengatakan kepada kantor berita Al-Masry Al-Youm bahwa Mubarak dan Gamal sedang bedebat sengit yang di dalamnya Mubarak mengatakan kepada anaknya, "Kau yang melibatkanku masuk di dalam hal ini, kau dan ibumu. Kau telah menghancurkan sejarahku di Mesir."
Gamal, 47 tahun, sangat diyakini dipersiapkan oleh rejim Mesir untuk meneruskan ayahnya.
Ia mendapatkan pengaruh besar di dalam pemerintahan setelah ia terpilih sebagai pimpinan komite kebijakan partai berkuasa di tahun 2002.
Gamal membuka pintu untuk para pengusaha memegang posisi kunci di pemerintahan Ahmed Nazif, yang Mubarak dipecat beberapa hari setelah kerusuhan meledak pada 25 Januari. (ppt/oi) www.suaramedia.com