Sarkozy mengatakan secara eksplisit: “Benar, pluralisme budaya telah gagal.” Ia menambahkan: “Kami tidak menginginkan sebuah masyarakat, di mana budaya di dalamnya hidup saling berhadapan. Sehingga apabila seseorang datang ke Prancis, maka ia harus melebur dalam satu budaya, yaitu budaya nasional. Jika ia tidak mau, maka jangan datang ke Prancis.”
Bahkan Sarkozy menuntut bahwa Islam di Prancis harus Islam Prancis. Ia mengatakan: “Untuk itu, yang ada harus Islam Prancis, bukan Islam di Prancis.”
Begitulah, Eropa telah memperlihatkan gigi-giginya dalam memerangi arus perkembangan Islam, dan berusaha keras membendungnya. Hal itu dilakukan dengan menolak keberadaan Islam yang berbeda dengan budaya di negara-negara Eropa, dan bersikeras hanya mengakui Islam Eropa yang melebur dalam identitas Eropa.
Sehingga yang ada di Prancis adalah Islam Prancis, di Inggris adalah Islam Inggris dan di Jerman adalah Islam Jerman. Dengan demikian mereka mengganti loyalitas kepada Islam menjadi loyalitas kepada Eropa, dan meleburkan Islam ke dalam berbagai identitas Eropa.
Pendekatan Eropa dalam memerangi Islam jelas bertentangan dengan apa yang telah menjadi peradaban Barat, termasuk pluralitas pemikiran dan politik yang diadopsinya. Kebanggaan Eropa terhadap ide pluralisme telah runtuh setelah para pemimpin Eropa merasa betapa kuatnya arus perkembangan Islam dan lemahnya peradaban Barat. Sehingga Eropa mengedepankan permusuhan Salibis yang dimiliki warga Eropa untuk melawan Islam dengan mengalahkan gagasan pluralisme budaya, mengedepankan rasisme Eropa untuk melawan kaum Muslim dengan mengalahkan ide-ide toleransi dan penerimaan terhadap orang lain. Bahkan mereka mengklaim bahwa mereka sangat terbuka dengan semua peradaban dan budaya, sebaliknya mereka menuduh Islam dengan eksklusif dan ekstremisme. Hanya saja mereka tiba-tiba menjadi eksklusif dan ekstrimisme jika masalahnya berkaitan dengan penyebaran Islam. (kantor berita HT, 17/2/2011)

Post a Comment