Putra Gaddafi Tertembak, Sang Ayah Menyelamatkan Diri?

TRIPOLI (Berita SuaraMedia) – Anak Pimpinan Libya Moammar Gaddafi, Seif Al-Islam Gaddafi, yang telah memimpin kampanye untuk meredakan perlawanan populer tersebut yang diberitakan telah menuntun pada kaburnya ayahnya, telah terluka dalam tembakan, Ikhwanul Muslimin telah mengatakan bahwa menyebutkan laporan secara tidak resmi. Laporan tersebut mengatakan bahwaGaddafi, istrinya dan putrinya melarikan diri dari negara tersebut. Barisan depan kelompok Oposisi Mesir yang mengambil alih sebuah peranan aktif di  dalam penggulingan Hosni Mubarak, dikatakan di dalam website-nya pada Senin bahwa Seif Al-Islam, 38 tahun, anak kedua Gaddafi, telah terluka dalam insiden penembakan, namun tidak memberikan rinciannya lebih jauh.
"Laporan-laporan tidak resmi berkembang bahwa Seif Al-Islam Gaddafi terluka oleh tembakan, sementara ayahnya telah melarikan diri dengan istri dan putrinya," website tersebut mengatakan dalam sebuah laporan singkat pada peristiwa yang terungkap di Libya, di mana lebih dari 200 orang telah dikabarkan terbunuh sejak saat protes pemerintah meledak pekan lalu.
Banyak rumor telah  berkembang di mana-mana selama akhir pekan bahwa diktator flamboyan tersebut, yang telah berkuasa selama lebih dari 41 tahun, telah melarikan diri ke Venezuela. Menteri Luar Negeri Inggris telah berkontribusi terus-terusan menghidupkan rumor yang disebarkan oleh media awal Senin (21/2) tersebut ketika ia mengatakan bahwa ia memiliki informasi yang menuntunnya mempercayai bahwa Gaddafi melarikan diri dari Libya dan sedang dalam perjalanan ke Venezuela.
Namun Menteri Luar Negeri Venezuela, Nicolas Maduro mengatakan dalam sebuah pernyataan "Kusa (Menlu Libya) mengatakan … Gaddafi ada di Tripoli, menjalankan kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh negara dan berhadapan dengan keadaan baru-baru ini di negara tersebut, membantah pernyataan yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Inggris William Hague kepada pers sebagai tidak bertanggung jawab."
Jika benar demikian, potongan informasi terbaru menunjuk pada kegagalan upaya klan Gaddafi untuk meredakan revolusi populer atas nama ayah mereka.
Seif Al-Islam, yang ditunjuk Gaddafi sebagai seorang Koordinator Jenderal pada tahun 2009, memperingatkan selama akhir pekan bahwa sebuah "perang sipil" akan terjadi di negara tersebut dan bahwa negara tersebut akan melihat "sungai darah" jika kekerasan terus berlanjut.
Seif Al-Islam telah menjanjikan sebuah program reformasi setelah protes berdarah menentang kekuasaan ayahnya mencapai ibukota, Tripoli.
Seif Al-Islam Gaddafi juga mengecam mereka yang berada di balik kekerasan tersebut. Ia mengatakan bahwa protes menentang kekuasaan ayahnya, yang telah terkonsentrasi di timur negara tersebut, mengancancam untuk menenggelamkan Libya pada perang sipil dan memecah negara tersebut menjadi beberapa negara kecil.
Muncul pada televisi pemerintah sebelumnya, pada Senin pagi, Seif Al-Islam mengatakan bahwa ayahnya berada di negara tersebut dan didukung oleh angkatan darat. "Kami akan berperang sampai menit terakhir, sampai peluru terakhir."
Seif, yang mendapatkan sebuah gelar Ph.D dari Sekolah Ekonomi London, dilihat sebagai seorang tokoh moderat dalam rumah tangga Gaddafi dan telah menjadi aktif sebagai pengacara hak asasi manusia. (ppt/ibt/alv/aje) www.suaramedia.com