ILUSTRASI, PENGISIAN BBM SUBSIDI |
Dirjen Minyak dan Gas (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita H Legowo menegaskan, pembatasan BBM bersubsidi tidak bisa dihindari lagi.
Menurut dia, berdasarkan hasil Rapat Pleno Tim Pengaturan BBM bersubsidi, persiapan infrastruktur depo dan tangki untuk Jabodetabek sudah 90 persen.
“Dari 720 SPBU di Jabodetabek, 610 SPBU atau 85 persen telah menjual pertamax. Sedangkan 69 SPBU akan siap switching pada H-3. Sisa, 41 SPBU sudah dalam proses investasi,” kata Evita di Jakarta, kemarin.
Menurut Evita, dalam pertemuan itu juga disepakati perlunya jalur cepat pelaporan dari SPBU kepada kepolisian terdekat dan BPH Migas bila terjadi pemaksaan pembelian BBM bersubsidi.
Soal penyusunan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis pengaturan BBM bersubsidi, hingga saat ini telah mencapai 90 persen. Terkait penetapan volume masing-masing kendaraan, Dinas Perhubungan Kementerian Perhubungan dan Organda diminta memberikan masukan data berdasarkan data tahun 2008 yang dimiliki BPH Migas.
Evita mengatakan, pemerintah akan melakukan perubahan Perpres No. 55 tahun 2005 dan Perpres No. 9 tahun 2006 tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Dalam Negeri.
Selain itu, pemerintah juga akan melakukan harmonisasi penerapan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) melalui Perpres. Sebab, saat ini angkanya ada yang melebihi 5 persen.
Terkait penjual BBM subsidi eceran, kata Evita, pemerintah sepakat tidak akan melegalkan pengecer sebagai distributor BBM bersubsidi. Pasalnya, itu membawa dampak negatif, yaitu masyarakat tak mendapatkan harga yang ditetapkan pemerintah.
Ada beberapa solusi yang diusulkan, misalnya mewajibkan badan usaha melakukan Public Service Obligation (PSO) untuk menyediakan infrastruktur sampai daerah terpencil, pengecer mendapat rekomendasi dari pemerintah daerah dan harga diatur Pemda (dengan mengubah UU).
Sedangkan pengecer yang ada saat ini ditertibkan dan dilembagakan dalam bentuk koperasi sebagai sub penyalur SPBU dan dikenakan harga eceran tertinggi.
Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengatakan, apabila pembatasan BBM bersubsidi tidak diterapkan, akan menambah defisit anggaran APBN 2011 sebesar Rp 3 triliun per tahun.
Apabila ada penundaan pembatasan BBM, maka per bulannya akan menambah defisit anggaran sekitar Rp 250 miliar.
Tak Akan Berhasil
Juru bicara Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi mengatakan, rencana pembatasan BBM bersubsidi untuk menekan subsidi APBN tak akan berhasil selama mafia minyak tidak ditindak.
“Sebenarnya pemerintah tidak perlu melakukan pembatasan BBM jika berhasil menindak mafia minyak itu,” kata Adhie.
Menurut bekas juru bicara Presiden Gus Dur itu, para mafia mendapatkan penghasilan 2 dolar AS per barel dari minyak yang diimpor. Impor Indonesia saat ini sekitar 300 hingga 500 ribu barel minyak mentah per hari.
Padahal, seharusnya impor tersebut dilakukan langsung oleh Pertamina sebagai perusahaan negara, tapi ini yang melakukan adalah pihak ketiga.
“Jadi sebelum bicara pembatasan BBM bersubsidi untuk menekan kebocoran, yang harus ditindak adalah mafia minyak yang merugikan negara. Berani nggak pemerintah menindak mereka,” tantang Adhie.
Anggota Komisi VII DPR Bobby Rizaldi mengatakan, mafia minyak bisa berada di sektor hulu (produksi) atau distribusi (transport dan penjualan). Namun yang pasti, saat ini biaya produksi BBM bersubsidi tidak transparan sehingga angka subsidi terus tinggi dalam APBN.
“Saat ini pemerintah belum mengetahui kondisi sebenarnya. Apakah kebocoran subsidi itu di distribusi yang tidak tepat sasaran atau produksi yang kemahalan,” kata Bobby.
Sebab itu, lanjutnya, pemerintah perlu mengkaji metode pembatasan BBM, jangan sampai salah obat. “Maksud hati supaya subsidi tidak besar, tapi bisa menimbulkan ketidakadilan dalam masyarakat,” tukasnya.
Bobby mengatakan, pemerintah belum siap memenuhi kebutuhan pertamax dalam negeri dan itu baru bisa disiapkan pada 2017. “Ujung-ujungnya pemerintah akan impor pertamax sampai Pertamina siap,” ujarnya. Dia menduga, ada pihak-pihak yang diuntungkan dengan dilakukannya impor pertamax oleh Pertamina. [RM]

Post a Comment