VALETTA, Malta (Berita SuaraMedia) – Setelah berpindah memeluk Islam beberapa tahun yang lalu, mantan konselor Nasionalis lokal, Mario Farrugia Borg kemarin membuat perubahan publik lainnya ketika ia berpidato pada konferensi umum Partai Buruh. "Sampai beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan melakukan hal ini," ia mengatakan dalam sebuah pidato yang tulus yang di dalamnya ia menuduh Partai Nasionalis menolaknya karena keyakinan agamanya.
Ia mengatakan bahwa negara tersebut baru-baru ini telah kembali ke keadaan miskinnya dulu sebelum tahun 1971 ketika mantan pimpinan Buruh Dom Mintoff berkuasa dan "mengangkat orang-orang keluar dari kebodohan dan kemiskinan."
Selama tahun 1980-an, Farrugia Borg, yang berasal dari sebuah latar belakang pengikut setia Mantan Perdana Menteri Dom Mintoff, telah mulai menolak partai Buruh dan, sehubungan dengan keadaan politik pada masa itu, mulai bertentangan di dalam PN.
Ia telah "dirayu" oleh partai tersebut masuk ke dalam perlombaan pemilihan dewan lokal tahun 1998 setelah sekretaris jenderal telah memastikannya bahwa keyakinan Muslimnya tidak akan menjadi sebuah masalah. Walaupun ia tidak terplih, ia kemudian terpilih setelah konselor lokal Qormi mengundurkan diri.
"Saya adalah pejabat publik Malta pertama yang mengambil sumpah dengan tangan saya di atas Al-Qur'an," ia mengatakan. Namun segala sesuatu kemudian berubah menjadi asam.
Pada tahun 2000 ia diundang oleh bagian pemuda dari partai tersebut untuk ambil bagian di dalam sebuah perdebatan tentang Islam di Malta. "Saya percaya bahwa acara tersebut diselenggarakan untuk mempermalukan diri saya karena melalui perdebatan tersebut saya dituduh, dihina dan dikatakan bahwa kepercayaan saya tidak sesuai dengan kepercayaan partai tersebut."
Cukup yakin, ia mengatakan, Partai Nasionalis tidak memintanya untuk memperjuangkan pemilihan lagi dan dengan cepat mulai merasa jauh dari partai tersebut, pada akhirnya menggagalkan keanggotaan seumur hidupnya.
Farrugia Borg mengatakan bahwa pemerintahan Nasionalis telah menjadi tidak dapat diakui dan dibubuhi dengan korupsi, arogansi, dan janji-janji yang teringkari.
Ketika Joseph Muscat terpilih sebagai pimpinan Buruh pada tahun 2008, Ferrugia Borg terinspirasi dan mengirimi Dr. Muscat sebuah surat, bertanya apakah ada ruang bagi para Muslim di dalam partai tersebut dan jawaban cepatnya adalah: "Malta tidak bisa hanya menjadi sebuah negara Uni Eropa di atas kertas namun harus memberikan hak-hak sipil dan keagamaan yang sama dari semua negara anggota lainnya."
Menyebut Partai Nasionalis sebagai sebuah partai "apartheid", Ferrugia Borg mengatakan bahwa Partai Buruh telah menyambutnya dengan "senang hati" dan sekarang ia merasa "berada di rumah" di dalam sebuah partai yang menyambut minoritas.
"Saya bangga membawa keliling obor tersebut," ia mengtakan, merujuk pada sebuah pin yang ia kenakan yang memamerkan emblem partai Buruh.
"Di sinilah tempat saya." (ppt/tom) www.suaramedia.com

Post a Comment