TOKYO (Berita SuaraMedia) – Jepang telah memulai penyelidikan pertamnya ke dalam Unit 731, program perang biologis di mana para tahanan perang diduga dijadikan eksperimen selama Perang Dunia II. Penggalian dimulai pada Senin di sebuah bekas sekolah kedokteran angkatan darat untuk mencari sisa-sisa mayat manusia dalam sebuah tanda bahwa pemerintah terbuka pada kemungkinan untuk menghadapi rahasia-rahasia masa perang yang sudah lama tersimpan.
Aktivitas Unit 731 tidak pernah secara resmi diakui oleh pemerintah walaupun para sejarawan dan para partisipan telah mendokumentasikan semua aktivitas tersebut.
Evakuasi pada Minggu (20/2) waktu setempat mengikuti sebuah pengungkapan oleh seorang mantan perawat bahwa ia membantu mengubur bagian-bagian tubuh ketika pasukan Amerika mulai menduduki Tokyo pada akhir masa perang.
"Jika tulang-tulang atau organ dengan jejak-jejak eksperimen medis hidup ditemukan, pemerintah akan harus mengakui sebuah kejahatan medis di masa perang, kata Yasushi Torii, pimpinan sebuah kelompok sipil yang menyelidiki kasus tersebut selama beberapa dekade.
"Ini adalah sebuah permulaan, walaupun kami kemungkinan membutuhkan lebih banyak fakta-fakta untuk membuktikan peranan Unit 731."
Dari pangkalan masa perangnya di Harbin yang dikendalikan oleh Jepang di bagian utara Cina, Unit 731 dan unit-unit yang terhubung, menyuntikkan para tahanan perang dengan penyakit tipus, kolera dan penyakit lainnya yang mereka produksi secara masal untuk penelitian perang biologis, menurut sejarawan dan mantan anggota unit tersebut.
Unit 731 juga diyakini telah melakukan pembedahan mahluk hidup dan telah membekukan para tahanan sampai mati dalam uji coba ketahanan.
Para sejarawan memperkirakan jumlah korban unit tersebut dari ribuan sampai sebanyak 250.000 tahanan – sebagian besar China namun mereka juga kemungkinan telah memasukkan para tahanan perang Inggris.
Para pimpinan unit tersebut terhindar dari tuntutan-tuntutan karena ditukar dengan penyerahan informasi kepada AS, dan diberikannya posisi papan atas dalam industri farmasi Jepang, sekolah-sekolah medis atau menteri kesehatan.
Sementara penggalian tersebut dijanjikan sekitar lima tahun yang lalu di bawah pemerintahan konservatif sebelumnya, otoritas telah menangguhkan sampai relokasi terjadwal para penduuk dan penghancuran apartemen di tempat tersebut tahun lalu.
Mantan perawat tersebut, Toyo Ishii, sekarang berusia 88 tahun, memecahkan keheningan pada tahun 2006 dengan mengatakan bahwa ia dan para koleganya di sebuah rumah sakit angkatan darat di tempat tersebut diperintahkan untuk mengubur banyak mayat, tulang dan bagian tubuh selama minggu-minggu mengikuti menyerahnya Jepang pada 15 Agustus 1945 di hadapan pasukan Amerika yang tiba di ibukota. (ppt/tlg) www.suaramedia.com

Post a Comment