Syabab.Com - Laporan mengatakan bahwa polisi berpakaian preman dan penembak jitu telah melakukan tindakan kekerasan pada jutaan demonstran anti pemerintah di Kairo pusat. Kejadian tersebut muncul saat massa anti pemerintah berkumpul di Tahrir Square untuk memaksa diktator Mubarak hengkang berlanjut untuk hari kesebelas. Laporan terakhir, bagaimanapun, mengatakan ada bentrokan jalanan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan di beberapa daerah di Kairo. Sedikitnya 30 pengunjuk rasa telah ditangkap, laporan mengatakan.
Dua wartawan Perancis hilang di Kairo selama 24 jam terakhir dan seorang wartawan Mesir telah dibunuh.
Jutaan pengunjuk rasa warga Mesir bersumpah untuk tinggal di Tahrir Square hingga Mubarak melepaskan kekuasaannya.
Aksi hari Jumat disebut sebagai Hari Kepergian, mengatakan unjuk rasa besar-besaran tersebut memaksa Mubarak hengkang. Aksi tersebut berlangsung damai dibandingkan aksi dua hari terakhir.
Tuntutan agar Mubarak hengkang terinspirasi oleh revolusi di Tunisia yang menumbangkan rezim Ben Ali, diktator yang dikenal berdekatan dengan Amerika. Presiden Mubarak telah menjadi teman setia AS dan penjajah Israel.
Gelombang revolusi menggema di Mesir, Yordania dan Yaman. Diantara mereka menolak Amerika, dan demokrasi. Kaum Muslim di Barat seperti di Australia dan Inggris mendukung revolusi sebenarnya, tidak hanya pergantian orang, tetapi pergantian sistem dari nasionalisme menuju sistem Khilafah.
Di Inggris, hari ini, ribuan Muslim akan mendatangi kedubes Mesir untuk mendesak perubahan nyata bagi dunia Arab dan menyerukan penegakkan Khilafah. [m/f/prstv/syabab.com]

Post a Comment