Foto Kamera Buktikan "Diplomat" Mata-mata AS di Pakistan

ISLAMABAD (Berita SuaraMedia) – Para jaksa penuntut merekomendasikan pengajuan kasus spionase terhadap warga negara Amerika Serikat Raymond Davis yang telah menembak mati dua warga Pakistan di Lahore. Hal itu dilakukan setelah polisi menemukan sejumlah foto wilayah-wilayah sensitif dan instalasi pertahanan dalam kamera Davis, termasuk di antaranya bungker militer yang terletak di perbatasan timur Pakistan dengan India. Raymond Davis ditangkap karena menembak mati dua orang pengendara motor Pakistan di sebuah pasar yang sibuk di Lahore pada 27 Januari lalu.
"Setelah mengikuti perkembangan kasus, amat disarankan mengajukan gugatan spionase terhadap Davis," tulis kantor kejaksaan Kepolisian Punjab dalam surat resmi kepada penyidik.
"Dalam proses investigasi, polisi menemukan sejumlah foto kawasan-kawasan yang sensitif dan juga instalasi pertahanan di dalam kamera milik Davis," kata seorang sumber kepada Express Tribune.
"Foto-foto Benteng Balahisar yang strategis, markas Pasukan Perbatasan di Peshawar, dan bungker-bungker Angkatan Darat Pakistan di perbatasan timur dengan India didapati dalam kameranya," kata sumber itu.
Setelah Davis ditangkap, ditemukan sebuah kamera digital, sepucuk pistol, dan alat penyadap telepon.
Pemerintah AS meningkatkan tekanan kepada Pakistan agar Raymond Davis dibebaskan, di antaranya dengan cara menangguhkan hubungan bilateral.
AS tetap bersikeras menyebut Davis sebagai orang yang memiliki kekebalan diplomatik.
Sejumlah sumber dari kalangan diplomat menyebut perseteruan itu berpotensi menimbulkan dampak terhadap tiga ajang besar yang diagendakan tahun ini, yakni kunjungan kenegaraan Presiden Asif Ali Zardari ke Washington, dialog strategis lanjutan AS-Pakistan, serta pembicaraan trilateral antara Pakistan, Afghanistan, dan AS.
Seorang pejabat mengatakan bahwa nama Davis tidak ada dalam daftar diplomat AS yang diserahkan Kedutaan AS kepada Kementerian Luar Negeri Pakistan pada 25 Januari silam.
Akan tetapi, nama Davis terdapat dalam daftar lain yang diserahkan kedutaan kepada kementerian hanya berselang sehari setelah penembakan di Lahore.
Meski Pakistan mengabaikan tuntutan Amerika Serikat agar diplomatnya yang tersandung kasus pembunuhan segera dibebaskan, AS terus memaksa pemerintah Pakistan membebaskannya atas dasar "kekebalan".
"Tidak ada perubahan yang dilakukan. Kami terus mendorong pemerintah Pakistan agar menghormati kekebalan diplomatiknya dan membebaskannya," kata wakil menteri luar negeri untuk urusan publik, Philip J. Crowley dalam sebuah konferensi pers saat ditanya mengenai perkembangan terbaru dalam hal tersebut.
"Dia adalah anggota staf administrasi teknik kedutaan, oleh karena itu ia berhak mendapatkan kekebalan hukum penuh. Secara hukum ia tidak boleh ditangkap, sesuai dengan Konvensi Vienna," tambah Crowley.
Crowley mengatakan bahwa pemerintah AS percaya dengan versi kejadian dari para staf AS. "Menurut kami, dia ‘membela diri’ karena berhadapan dengan dua orang pria bersenjata yang menaiki motor."
"Raymond Davis punya alasan untuk meyakini bahwa para pria bersenjata itu hendak menyakitinya. Beberapa menit sebelumnya, dua pria yang punya catatan kriminal itu melakukan perampokan bersenjata dan membawa lari uang dan barang berharga milik seorang warga Pakistan yang ada di kawasan yang sama," kata Crowley. (dn/nk/sm) www.suaramedia.com