ALJIR, Aljazair (Berita SuaraMedia) – Sembilan belas tahun keadaan darurat di Aljazair akan berakhir dalam hitungan hari, Menteri Luar Negeri Mourad Medelci mengatakan, menyikat kekhawatiran bahwa protes baru-baru ini di negara tersebut bisa meningkat, sama seperti di Tunisia dan Mesir. Sebuah keadaan darurat telah diberlakukan di Aljazair sejak tahun 1992 dan pemerintah telah berada di bawah tekanan dari para penentang, terinspirasi oleh kerusuhan di Mesir dan Tunisia, untuk menyingkirkan undang-undang darurat.
Ratusan pemrotes mengambil alih jalanan di ibukota Aljirs pada Sabtu (12/2) waktu setempat dan kelompok oposisi mengatakan bahwa mereka akan berdemonstrasi setiap akhir pekan sampai pemerintah tersebut diubah.
"Dalam beberapa hari, kami akan membicarakan tentang (keadaan darurat) karena keadaan tersebut adalah sebuah hal yang berasal dari masa lalu," Medelci mengatakan kepada stasiun radio Perancis Erurope 1 dalam sebuah wawancara.
"Hal ini berarti bahwa di Aljazair, kami akan memiliki sebuah kedatangan kembali pada sebuah negara dengan hukum yang memperbolehkan kebebasan ekspresi sepenuhnya, di dalam batasan undang-undang," ia mengatakan.
Protes baru-baru ini telah diselenggarakan oleh kelompok minoritas dengan dukungan terbatas, kementerian tersebut mengatakan, menambahkan bahwa tidak ada resiko dari sebuah penggulingan pemerintah seperti yang terjadi di negara tetangga, Tunisia.
Bagaimanapun juga, ia menyarankan bahwa pemerintah kemungkinan akan berkeinginan untuk membuat konsesi, mengatakan: "Keputusan tersebut mengubah pemerintah yang terbentang dengan presiden yang akan menilai kemungkinan tersebut, seperti yang telah ia lakukan di masa lalu, untuk membuat sebuah penyesuaian, seperti yang telah ia lakukan di masa lalu."
"Aljazair bukan Tunisia atau Mesir," ia menambahkan.
Pengundurdirian pada Jum'at, Presiden Hosni Mubarak dan penggulingan bulan lalu dari pemimpin Tunisia, telah menuntun banyak untuk menanyakan negara yang mana yang bisa menjadi yang selanjutnya di dunia Arab.
Kerusuhan yang menyebar luas di Aljazair telah memiliki implikasi untuk ekonomi dunia karena Aljazair adalah sebuah pengekspor minyak dan gas utama, namun banyak analis telah mengatakan bahwa sebuah revolusi Mesir tidak mungkin terjadi karena pemerintah bisa menggunakan kekayaan energinya untuk menenangkan para pemrotes.
Ketidakpuasan dengan pengangguran, kondisi perumahan yang kurang dan harga-harga makanan yang tinggi memicu kerusuhan pada awal Januari di seluruh negeri tersebut, namun sampai sejauh ini tidak ada tanda bahwa partai-partai tersebut tidak bergabung ke dalam sebuah pergerakan politik. (ppt/tlg) www.suaramedia.com

Post a Comment