"Mereka malah petentang-petenteng", kata Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam, di sebuah stasiun televisi swasta nasional Senin pagi (7/2/2011).
Sekitar dua puluh orang anggota Ahmadiyah yang pagi itu berada di rumah Parman adalah jamaah drop-dropan dari Jakarta dan Bogor. Mereka datang ke Kampung Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, pagi hari sekitar 07.00 WIB dengan mengendarai dua buah mobil, Kijang Inova dan Suzuki APV.
Sehari sebelumnya, si pemilik rumah yang juga pemimpin Ahmadiyah diwilayah itu, Suparman bersama istrinya dan sekretaris Ahmadiyah Cikeusik Atep, dengan alasan keamanan sudah dievakuasi oleh aparat kepolisian setempat.
Puluhan orang dari luar Pandeglang itulah yang terbukti telah memprovokasi warga. Mereka juga terbukti telah menyiapkan diri dengan berbagai senjata, seperti battu dan golok. Padahal situasi sebelumnya sudah kondusif.
"Sebenarnya situasinya sudah kondusif dan masyarakat juga tenang-tenang saja, tapi karena ada pernyataan bernada menantang dari Jamaah Ahmadiyah akhirnya warga terpancing," kata Kapolres Pandeglang AKBP Alex Fauzi Rasyad, kemarin.
Kalau saja mereka mau mendengar ajakan polisi, tentu mereka akan selamat. "Mereka tidak mau dievakuasi. Kalau mereka taat hukum, mereka tidak akan seperti itu", sesal Anton Bachrul Alam.
Bahkan, menurut laporan yang masuk ke MUI Pusat, jamaah Ahmadiyah itu ingin menyelesaiakan dengan cara mereka sendiri. "Mereka bahkan siap mati", kata Ketua MUI Pusat KH Amidhan.
Sementara itu Ketua RT setempat, Mistari, mengatakan bahwa keberadaan Jamaah Ahmadiyah di wilayahnya itu telah ada sejak tahun 1994. Ajaran sesat dan menyesatkan itu dibawa dan disebarluaskan oleh Suparman. Ajaran baru itu tentu saja ditolak oleh warga.
Setelah mendapatkan penolakan dari warga, Suparman dikatakan kabur keluar daerah itu. Namun, pada tahun 2009 ia kembali ke Cikeusik. Sejak kedatangannya itulah, Parman secara masif 'mendakwahkan' ajaran sesat Mirza Ghulam Ahmad kepada orang-orang Islam. Warga pun resah.
"Dia mendatangi rumah-rumah warga, satu per satu", kata Mistari. Aktivitas Ahmadiyah ini sudah barang tentu termasuk pelanggaran berat terhadap SKB Tiga Menteri.
Warga lainnya, Asep Setiadi, juga mengaku bahwa dirinya sangat resah dengan aktivitas Suparman dan kawan-kawannya. "Kami warga Cikeusik sangat resah dengan aktivitas yang dilakukan Jamaah Ahmadiyah itu, apalagi cukup banyak warga yang akhirnya ikut menjadi anggota jamaah itu," katanya di Desa Umbulan Kecamatan Cikeusik, Minggu (6/2/2011).
Warga, kata Asep, sebenarnya sudah meminta Parman baik-baik untuk membubarkan Jamaah Ahmadiyah dan menghentikan kegiatannya itu. "Tapi tidak ditanggapinya," katanya.
Parman malah mengeluarkan pernyataan, "lebih baik mati dari pada membubarkan diri", dan terus menyebarkan ajaran sesat tersebut.
Karena Parman dan pengikutnya enggan menuruti warga, beberapa tokoh masyarakat dan agama sepakat mendatangi kediaman Parman guna kembali mendesak membubarkan diri.
"Pada Minggu pagi (6/2), kami mendatangi rumah Parman, dan ternyata di rumah itu sudah ada puluhan Jamaah Ahmadiyah. Mereka membawa senjata tajam, tak lama kemudian terjadilah bentrokan," katanya.
Sebelumnya salah seorang anggota Jamaah Ahmadiyah juga telah membacok lengan kanan salah satu warga, Sarta, hingga nyaris putus. Warga pun marah.
Arogansi anggota Jamaah Ahmadiyah itu akhirnya membawa tiga nyawa melayang sia-sia.

Post a Comment