Dengan kurang dari satu tahun yang tersisa sebelum sisa 50.000 pasukan Amerika kemungkinan besar akan harus menuju kampung halaman, mereka terlibat di dalam sebuah upaya gila tergesa-gesa – dan bahkan sering membuat frustasi – untuk menghasut pemerintah lokal dan pasukan keamanan.
"Saya biasanya melakukan pengintaian untuk menemukan di mana musuh berada. Sekarang saya benar-benar melakukan pengintaian untuk menemukan apa yang negara tersebut butuhkan," kata kapten Gavin Schwan, seorang komando tentara di Skuadron kedua Kavaleri Bersenjata ketiga.
Jauh dari hari-hari mendobrak pintu sampai jatuh, Schwan mengatakan bahwa di antara kekhawatiran terbesarnya sekarang adalah keamanan perbatasan, sebuah program bantuan mikro yang ia jalankan untuk mendanai bisnis di daerah tersebut dan sebuah jembatan yang ia takutkan datang di bawah tekanan berat dari lalu lintas truk yang melewati perbatasan.
Upaya tentara tersebut di provinsi Wasit melambangkan misi terbaru AS di Irak, disebut Operasi Fajar Baru (Operation New Dawn), yang difokuskan pada menasehati dan mebantu tentara Irak, pasukan keamanan lainnya dan sistem sipil.
Wakil Presiden AS, Joe Biden, yang tiba di Irak pada Kamis pagi (13/1), memuji perkembangan yang dibuat oleh pemerintah Irak, bahkan ketika bom meledak disekitarnya.
"Saya di sini untuk membantu rakyat Irak merayakan perkembangan yang mereka buat. Mereka membentuk sebuah pemerintahan. Dan itu merupakan hal yang baik," ia mengatakan.
Namun walaupun demikian, kemungkinan akan menjadi baik untuk Iran bahwa pada akhirnya negara tersebut telah memiliki sebuah pemerintahan, kemungkinan hal ini tidak menjadi hal yang sebaik itu bagi Amerika. Setelah sembilan bulan kebuntuan, pemerintah Irak pada akhirnya bersatu tersusun atas politisi yang kemungkinan besar untuk mentoleransi sebuah kehadiran pasukan AS di negara mereka setelah tahun ini.
Perdana Menteri Nouri Al-Maliki mencapai sebuah perjanjian dengan seorang anti-Amerika Moqtada Al-Sadr, memberikan ulama tersebut kendali blok politik atas sejumlah kementerian penting. Bersekutu dengan Iran, Sadr mengumumkan awal pekan ini bahwa ia tidak akan mendukung adanya kehadiran berkelanjutan militer AS di Irak melebihi batas penarikan yang sudah terjadwal tahun ini, sebuah keputusan yang dengan cepat Maliki dukung.
Sadr, yang dulunya memimpin salah satu dari kelompok perlawanan yang paling keras, Angkatan Darat Mahdi, baru-baru ini kembali dari tiga tahun belajar agama di Iran. Kembalinya ulama tersebut telah memberikan rasa takut akan diperbaruinya kekerasan sekte dan retorik anti-Amerika.
Ketenangan di sepanjang perbatasa Iran-Irak, pada faktanya tidak meluas di bagian lain daerah Wasit tersebut, termasuk di ibukota Provinsi Al-Kut, di mana serangan sering terjadi. Pangkalan Operasi Delta, sebuah pangkalan AS yang duduk disepanjang Sungai Tigris dari Al-Kut, datang di bawah penembakan roket reguler dari militan. Pada bulan Desember, Prajurit Tingkat Pertama David Dustin Finch terbunuh oleh tembakan penembak jitu ketika sedang berpatroli di luar kota tersebut.
Perseteruan sektarian berlanjut terjadi sehari-hari di seluruh Irak. Dalam satu pekan awal bulan ini, menurut analis keamanan, 33 orang tewas dari pertempuran di seluruh negara tersebut.
Dan begitu juga misi AS di sini telah berlangsung pada sebuah perasaan urgensi yang ditambahkan. Pasukan-pasukan tersebut bekerja lembur untuk menunjang perkembangan institusi Irak, keduanya, militer dan sipil, sebelum waktu habis atau sebelum mereka mulai berkurang.
Untuk para tentara di Wasit, bagaimanapun juga, banyak diantaranya bertempur melalui tahun-tahun yang paling menyiksa atas perang tersebut di Irak, berusaha untuk dengan cepat bekerja keras melalui birokrasi Irak yang mewakili keseluruhan tantangan baru.
Bahkan memperoleh amunisi untuk tujuan pelatihan, contohnya, bisa saja menjadi sulit bagi sistem logistik angkatan darat Irak, kata Letnan Kolonel Bryan Mullins. Masalah kecil seperti ini menghalangi upaya Amerika utnuk melatik rekan Irak mereka.
"Perbedaannya adalah kerja Irak oleh mobil Irak dan surat siput dan panggilan telepon, di mana setidaknya kami memiliki email dan kami semua semacam hidup di instalasi yang sama," ia mengatakan, mencatatkan bahwa hal ini membutuhkan 50 sampai 60 hari bagi rekan-rekan tentara Irak menerima amunisi ketika mereka mengajukan permohonannya.
Pada sebuah perjalanan baru-baru ini menuju kawasan perbatasan, Mullins ikut campur dalam semacam diplomasi militer yang telah menjadi semacam misi Fajar Baru. Setelah mengelilingi sebuah perkembangan perumahan di perbatasan dan mengunjungi jembatan yang terlalu ditekan, Mullins menuju sebuah pangkalan militer Irak untuk mengamankan sebuah komitmen Irak untuk menyingkirkan empat lahan pertambangan – sisa-sisa dari perang Iran-Irak – dari sebuah pertanian keluarga di dekatnya.
Mullins dan Schwan bertemu dengan Letnan satu Ahed Ghalab karena sebuah pertemuan satu jam yang membuat frustasi yang di dalamnya Ghalab berulang kali menyebutkan birokrasi dan penghalangan jalan yuridiksional yang menyulitkan permohonan permintaan amunisi Amerika.
"Kami tahu keseluruhan banyak tempat di mana kami memiliki pertambangan, namun kami nampaknya tidak bisa mendapatkan dukungan," Mullins yang frusrasi mengatakan kepada Ghalab pada satu titik.
Masih saja, tekanan – sebelum akhir tahun – meningkatkan seorang aparat keamanan di negara tersebut yang mampu meredakan kekerasan sektarian yang brutal yang tidak pernah terlihat sangat jauh. (ppt/gp) www.suaramedia.com

Post a Comment