Sumber-sumber medis menyatakan pada hari Sabtu ini (29/1) bahwa setidaknya 65 orang, termasuk 23 pengunjuk rasa di kota pelabuhan Alexandria telah kehilangan nyawa mereka di jalan-jalan akibat bentrok dengan pasukan polisi di seluruh Mesir sejak pecahnya unjuk rasa anti-pemerintah, sementara 13 orang tewas dan 75 lainnya terluka di kota Suez, sepanjang Terusan Suez yang strategis.
Menurut sumber-sumber medis, sedikitnya 1.030 demonstran terluka saat protes massa tetap berlanjut di seluruh negeri untuk hari kelima berturut-turut.
Kerusuhan terburuk dalam sejarah Mesir tampaknya tanpa henti dan polisi dilaporkan menembakkan gas air mata dan peluru karet kepada demonstran.
Jam malam pukul 6:00 sore-7:00 pagi diberlakukan Jumat kemarin di Kairo, Suez dan Alexandria.
Dalam perkembangan lain, Mohamed El Baradei, salah satu pengkritik paling sengit Mubarak dan mantan kepala Badan Energi Atom Internasional, ditahan oleh polisi Mesir setelah dirinya muncul di jalan-jalan di ibukota Kairo.
ElBaradei berjanji bahwa protes jalanan akan terus berlanjut dengan intensitas kuat bahkan lebih sampai Mubarak mengundurkan diri.
At least five people were killed in Cairo and two in Mansura, north of the capital on Friday, with many fatalities caused by rubber-coated bullets, medics and witnesses said.
Setidaknya lima orang tewas di Kairo dan dua orang di Mansura, utara ibukota pada hari Jumat kemarin, dengan banyak korban jiwa disebabkan oleh peluru karet berlapis, petugas medis dan saksi mata mengatakan.
Pada hari Jumat, Mubarak memecat kabinet dan menyerukan dialog nasional dalam upaya mengatasi aliran protes publik atas kemiskinan, tingkat pengangguran yang tinggi dan korupsi yang merajalela.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon menyerukan diakhirinya kekerasan di Mesir dan mendesak pemerintah untuk menghormati kebebasan berbicara.(fq/prtv)

Post a Comment