INILAH.COM, Jakarta – Tabrakan kereta di Banjar Jawa Barat makin mencoreng transportasi RI. Perkeretaapian RI cenderung salah urus di era teknologi maju dan komputerisasi. Bagaimana bisa?
Pengamat kereta api dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Taufik Hidayat mendesak PT Kereta Api memasang global positioning system (GPS), yang ditempatkan di lokomotif. “Hal ini agar pergerakan tiap kereta dapat diawasi,” katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, di Jabodetabek, PT Kereta Commuter Jakarta sebenarnya telah memasang GPS. Namun, karena keterbatasan dana, belum semua KRL dipasang alat itu. GPS sebenarnya sudah dipasang di banyak lokomotif, tapi belum di seluruh lokomotif.
Hal ini diungkapkan menyusul musibah yang terus dialami kereta api. Pada 2009, Kementerian Perhubungan mencatat 90 kecelakaan KA. Jumlah itu sebenarnya menurun dibanding 2008 yang berjumlah 147 kecelakaan dan 2007 yang mencapai 159 kecelakaan.
Namun, jumlah korban tewas akibat kecelakaan KA justru meningkat tiga tahun terakhir. Pada 2007, sebanyak 34 penumpang KA tewas, 45 jiwa tewas di 2008, dan 2009 terdapat 57 tewas.
Untuk mengantisipasi kecelakaan KA, pada Desember 2009 Ditjen Perkeretaapian mewajibkan semua masinis, asisten masinis dan Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) mengantongi sertifikat dari Ditjen Perkeretaapian. Meski begitu, tetap saja kecelakaan KA dengan korban tewas masih terjadi.
Taufik menuturkan, bahwa carut marut persoalan kereata api di Indonesia sebenarnya merupakan akumulasi persoalan selama puluhan tahun, sejak kereta api lahir di era 1800-an.
Ia pun menilai, ada tiga pilar yang harus dibenahi regulator dan operator bila ingin wajah kereta api Indonesia membaik, yakni manusia, organisasi dan teknologi. Ketiga pilar itu harus dibangun dengan paralel. “Di sini, penambahan gaji masinis pun tak cukup, bila pemanfaatan teknologi diabaikan,” ujarnya.
Ia menilai, mekanisme monitoring perlu disempurnakan, dengan memanfaatkan teknologi . Terutama Karena alat-alat manual tidak bisa selalu diandalkan. Pemerintah harus mendorong PT Kereta Api memasang teknologi itu. “Bila tak mampu, sebaiknya pemerintah mendanainya,” katanya.
Ia merujuk pada musibah Pemalang lalu, dimana kondisi perkeretaapian sudah sangat parah.Tingkatnya meliputi semua aspek, mulai dari regulasi, teknis, manajerial, operasional hingga kedisiplinan pegawainya.
Lebih lanjut Taufik menuturkan, bahwa saat ini tidak terlihat kesungguhan dari kepemimpinan perkeretaapian guna membenahi internal organisasi untuk meningkatkan keselamatan penumpangnya, y ang merupakan hasil panjang proses internal. Jika kecelakaan terus terjadi, pasti terdapat masalah.
“Ini yang terus menerus terjadi dan tidak ada tindakan perbaikan secara nyata Singkatnya, keterpurukan perkeretaapian nyaris sempurna,”katanya. [ast]

Post a Comment