DHAKA, Banglades (Berita SuaraMedia) – Otoritas Inggris memberikan informasi tentang para pria berkebangsaan Inggris kepada agen intelijen Banglades yang terkenal nama buruknya dan unit kepolisian, kemudian menekan untuk mendapatkan informasi ketika para pria berkebangsaan Inggris tersebut ditahan di sebuah pusat interogasi rahasia di mana para tahanan dikenal telah tewas di bawah penyiksaan.
Sebuah penyelidikan kantor berita Guardian dalam kontra-terorisme kerjasama antara Inggris dan Banglades telah mengungkap sebuah gambaran terperinci tentang kepercayaan pemerintah Buruh pada agen intelijen luar negeri yang terkenal dengan penggunaan penyiksaan.
Pertemuan dan pertukaran informasi terjadi antara pejabat Inggris dan Banglades dalam sebuah upaya untuk melindungi Inggris dari serangan yang kemungkinan dibangkitkan di Banglades, menurut sumber di kedua negara.
Kemungkinan bahwa sejumlah tersangka akan disiksa sebagai sebuah akibat dari pertemuan yang berlangsung tidak disebutkan, menurut sumber tersebut. Kemudian, lebih dari satu lusin pria berkebangsaan ganda Inggris-Banglades ditempatkan di bawah penyelidikan, dan setidaknya beberapa menderita penganiayaan yang mengerikan dari otoritas Banglades.
Pada satu titik, Jacqui Smith, yang kemudian menjadi menteri dalam negeri, terbang ke Dhaka untuk pertemuan tatap muka dengan pejabat senior dari satu agen, Direktorat-Jenderal Pasukan Intelijen (Directorate-General of Forces Intelligence – DGFI), yang menggunakan penyiksaan telah menjadi subjek dari sebuah laporan mendetil oleh Pengawas Hak Asasi Manusia (Human Rights Watch), Organisasi non kepemerintahan yang berbasis di New York, kurang dari delapan pekan sebelumnya. Tujuh bulan sebelum kunjungan tersebut, sebuah laporan dipersiapkan oleh departemen Smith sendiri yang telah mendokomunetasikan penyebaran rasa khawatir tentang penggunaan rutin penganiayaan di Banglades. Smith berbicara secara publik selama kunjungan tersebut tentang bahaya yang dapat disebabkan oleh para orang berkebangsaan ganda; secara pribadi, menurut seorang pejabat senior kontra-terorisme DGFI, ia menghimbau bahwa agen menyelidiki sejumlah individu tentang siapa yang dicurigai Inggris.
Pada bulan September, muncul berita bahwa dalam beberapa tahun MI5 dan MI6 telah selalu meminta menteri dalam negeri atau menteri luar negeri untuk perijinan sebelum melakukan adanya pertukaran informasi di mana ada sebuah resiko seorang individu disiksa. Smith, pendahulunya Alan Johnson dan David Miliband, menteri luar negeri selama periode kampanye kontra-terorisme gabungan Inggris- Banglades, telah menolak untuk menjawab pertanyaan tentang masalah tersebut.
Sejumlah tersangka Inggris dibawa ke pusat interogasi rahasia, dikenal sebagai sel Satuan Tugas untuk Interogasi (Task Force for Interrogation – TFI). Lokasi TFI dan metode yang digunakan oleh mereka yang bekerja di sana menjadi jelas selama penyelidikan Guardian, dengan kedua mantan tahanan dan pejabat intelijen bebricara tentang operasinya.
Faisal Mostafa, dari Manchester, dibawa ke TFI setelah kunjungan Smith ke Dhaka dan diduga telah dipaksa untuk berdiri selama enam hari pertama masa penahanannya, dengan kedua pergelangannya dibelenggu pada jeruji besi di atas kepalanya. Ia kemudian diduga telah dipukuli dan dijadikan obyek dengan alat kejut listrik sementara ditanyai tentang kolega Banglades. Pada pokok yang mana ia ditanyai tentang asosiasinya dan aktivitasnya di Inggris, ia dikatakan telah ditutupi matanya dan diikat ke sebuah kursi sementara sebuah bor secara perlahan diborkan pada bahu sebelah kanannya dan pinggangnya.
Penyiksaan semacam ini selama interogasi tentang Inggris dikatakan telah diulang-ulang pada sejumlah kesempatan. Kantor berita Guardian telah melihat bukti yang mendukung dugaan bahwa ia disiksa dengan tindakan semacam itu. Laporan yang dipersiapkan oleh departemen yang dimiliki Smith memberikan peringatan bahwa unit polisi kemiliteran yang menangkap pria tersebut dengan tepat menggunakan metode penyiksaan itu.
Matiur Rahman, pimpinan deputi operasi di Batalion Tindakan Cepat (Rapid Action Battalion – RAB), unit kepolisian yang menahan pria tersebut mengatakan: "Inggris tertarik dengan pria tersebut untuk beberapa waktu. Ada sebuah asumsi bahwa ia adalah bagian dari sebuah jaringan internasional. Mereka memberikan informasi kepada kami, dan kami memberikan mereka informasi."
Setelah disiksa selama beberapa pekan, pria tersebut menghabiskan hampir satu tahun di penjara sebelum dibebaskan atas jaminan dan diperbolehkan kembali ke Inggris.
Seorang pria kedua, Gulam Mustafa, dari Birmingham, ditahan di Banglades selama kunjungan Smith, dan dibebaskan sebelum ditahan untuk kedua kalinya pada April lalu. Ia mengatakan bahwa ia disiksa pada kedua kesempatan penahanan tersebut ketika diinterogasi tentang hubungannya di Inggris, dengan para interogator memukulnya, menjadikannya obyek alat kejut listrik dan menghancurkan lututnya. Ia pada akhirnya dipindahkan ke sebuah rumah sakit penjara, di mana ia dirawat untuk luka-luka yang ia derita selama interogasi tersebut. Petugas kepolisian Banglades yang menahannya untuk kali kedua mengatakan bahwa penahanannya pertama hali telah terjadi atas permintaan MI6. "Ketika kami menerima dokumen dari penahanannya yang pertama dari RAB, ditandai 'MI6 File'," kata salah satu dari detektif senior. Ia menambahkan bahwa ketika pria tersebut ditahan untuk kedua kalinya, para pejabat dari komisi tinggi Inggris di Dhaka menghubungi kepolisian dan meminta untuk dilaporkan atas akibat dari interogasinya. "Mereka ingin informasi maksimum." ia mengatakan.
Seorang pria ketiga, Jamil Rahman, dari Swansea, menuntut Departemen Dalam Negeri, menuduh bahwa MI5 terlibat dalam penyiksaannya setelah ia ditahan pada tahun 2005 dan diduga disiksa setiap antara interogasinya oleh dua petugas intelijen Inggris.
Smith mengatakan bahwa ia akan menjawab pertanyaan "tentang penepatan waktu dari adanya otorisasi yang ia memang kemungkinan ataupun tidak ia berikan kepada dinas keamanan." Ia menolak untuk mengatakan apakah ia menerima bahwa para individu tersebut akan berada di bawah resiko penyiksaan ketika ia menanyakan otoritas Banglades untuk menyelidiki mereka. Jhonson menolak untuk menjawab pertanyaan apapun tentang masalah tersebut.
Miliband gagal untuk menjawab serangkaian pertanyaan tentang kebangsaan ganda yang diselidiki di Banglades, dan tentang adanya peranan yang ia mainkan dalam mengabulkan perijinan untuk MI6 dilibatkan dalam kasus mereka. Seorang juru bicara mengeluarkan sebuah pernyataan atas namanya yang mengatakan bahwa tidak ada dokumen Departemen Luar Negeri menunjukkan bahwa kementerian tersebut diminta untuk menyangsikan penahanan Faisal Mostafa atau Gulam Mustafa. Ia menambahkan: "David tidak akan pernah menyaksikan penyiksaan dan ini benar-benar salah untuk menyarankan, mengimplikasikan atau meninggalkan sebuah banyangan keraguan sebaliknya. Inggris telah merincikan prosedur bahwa menjunjung tinggi moral dan tindakan legal dari agen intelijen dan mereka yang bertanggung jawab untuk mereka. Ketika David adalah Menteri Luar negeri ia mengikuti mereka dengan teliti."
Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa keduanya, Mostada dan Mustafa telah ditawari bantuan konsuler, dan mengulangi posisi pemerintahan mengenai penyiksaan tersebut. "Pemerintah telah benar-benar membuatnya jelas dalam Program Koalisi untuk Pemerintah yang kami tidak akan pernah maafkan, penggunaan penyiksaan," seorang juru bicara mengatakan. "Kami menganggap semua dugaan penyiksaan dan penganiayaan tersebut dengan sangat serius, dan – di mana kami memiliki perijinan untuk melakukan demikian dari kekhawatiran individual – membangkitkan mereka dengan otoritas yang relevan. Kerjasama keamanan kami dengan negara lain konsisten dengan hukum dan nilai-nilai kami." (ppt/gd) www.suaramedia.com

Post a Comment