Demi AS, Abbas Cegah Laporan Kekejaman Israel

DOHA (Berita SuaraMedia) – Dokumen rahasia yang baru bocor mengungkapkan bahwa pemimpin Mahmoud Abbas dari Otoritas Palestina telah mendorong untuk ditundanya laporan PBB tentang serangan mematikan Israel di Gaza, yang menewaskan dan melukai ribuan warga, atas janji-janji AS untuk dilanjutkannya kembali perundingan damai regional. "Terima kasih atas apa yang anda lakukan beberapa minggu lalu," Penasihat Keamanan Nasional AS Jim Jones dikutip oleh dalam sebuah dokumen mengatakan pada kepala negosiator Palestina Saeb Erekat di bulan Oktober 2009 setelah penundaan pemungutan suara atas sebuah laporan oleh investigator PBB Richard Goldstone tentang perang Gaza di tahun 2008.
Israel meluncurkan serangan mematikan selama tiga minggu terhadap Gaza di bulan Desember 2008, menewaskan setidaknya 1.400 orang dan melukai ribuan lainnya.
Serangan itu juga menghancurkan ribuan gedung dan memporakporandakan Jalur Gaza yang miskin.
Sebuah laporan oleh investigator PBB Richard Goldstone menuduh Israel melakukan kejahatan perang di Gaza dalam serangan itu.
Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC) dijadwalkan akan memberikan suara pada awal Oktober 2009 tentang laporan Goldstone, tapi pemungutan suara itu kemudian ditunda sampai bulan Maret 2010 atas permintaan Pakistan, mewakili negara-negara Arab, Afrika, negara-negara Muslim dan nonaliansi, sebuah langkah yang didukung oleh Otoritas Palestina.
Dukungan UNHRC terhadap laporan itu akan meningkatkan kesempatan untuk menyeret pejabat Israel ke pengadilan kejahatan perang.
Tapi, seperti yang ditunjukkan dalam dokumen bocor itu, Otoritas Palestina tampaknya memilih untuk melepaskan potensi kemenangan sebagai ganti jaminan AS dalam perundingan damai dengan Israel.
Menurut dokumen tersebut, AS mendesak Otoritas beberapa minggu sebelum pemungutan suara untuk menghambat laporan itu sebagai sarana memulai kembali negosiasi dengan Israel.
"Niat kami adalah untuk bergerak cepat meluncurkan kembali negosiasi. Kami sedang menyelesaikan sebuah kesepakatan pada sebuah paket dengan Israel, termasuk dengan pihak-pihak lain," ujar Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah George Mitchell dalam pertemuan bulan September 2009.
"Saya tidak bisa masuk ke dalam sebuah proses yang pasti akan gagal. Saya berusaha untuk mempertahankan eksistensi dan cara hidup saya," ujar Erekat.
Di akhir pertemuan, Mitchell mengundang Erekat ke Washington, di hari sebelum UNHRC akan memberikan suara untuk laporan Goldstone. (rin/oi) www.suaramedia.com