RAMALLAH (Berita SuaraMedia) – Dokumen-dokumen segar yang baru dibocorkan telah menunjukkan kerjasama keamann ekstensif antara Otoritas Palestina dan Israel merencanakan pembunuhan para pemimpin kelompok perlawanan Palestina di Gaza. "Hassan Madhoun, kami mengetahui alamatnya…Mengapa Anda tidak membunuhnya?" yang kemudian menjadi menteri pertahanan Israel, Shaul Mofaz dikutip dalam sebuah dokumen ketika mengatakan kepada menteri dalam negeri Palestina, Nasser Youssef dalam sebuah pertemuan tahun 2005, menurut televisi kantor berita Al-Jazeera.
Al-Madhoun adalah seorang komandan Brigade Martir Al-Aqsa, sebuah sayap kanan dari Kelompok Fatah pemimpin Otoritas Palestina.
Ia telah dituduh oleh Israel atas perencanaan serangan di pelabuhan Ashdod Israel dan Qarni perbatasan antara Gaza dan srael.
"Kami memberikan instruksi kepada Rasheed (Abu Shabak) – pimpinan Organisasi Keamanan Preventatif di Gaza – dan kami bertemu," Youssef membalas.
Mofaz melanjutkan; "Sejak kita berbicara, ia telah merencanakan sebuah operasi, dan itu empat pekan yang lalu, dan kami tahu bahwa ia ingin menyerang Qarni atau Erez (perbatasan lainnya yang mebatasi antara Gaza dan Israel).
"Ia bukan Hamas, dan Anda bisa membunuhnya."
Youssef menjawab; "Kami bekerja, negara tersebut tidak mudah, kemampuan kami terbatas, dan Anda belum menawarkan apapun."
Sekitar empat bulan kemudan, pada 1 November, 2005, Al-Madhoun terbunuh dalam sebuah mobil oleh sebuah misil yang ditembakkan dari sebuah helikopter Israel di Gaza.
Serangan tersebut juga membunuh seorang aktivis Hamas yang dicari dan melukai tiga orang lainnya.
Dokuen lainnya mengutip negosiator Palestina, Saeb Erekat seperti yang diakui, dalam sebuah pertemuan tahun 2009 dengan David Hale, deputi duta AS untuk Timur Tengah, bahwa Otoritas Palestina harus membunuh orang-orangnya sendiri untuk mendapatkan pengakuan AS dan kepercayaan Israel.
"Kami harus membunuh orang-orang Palestina untuk mendirikan satu otoritas, satu senjata dan peraturan hukum," Erekat dikutip ketika mengatakan.
"Kami melanjutkan untuk melakukan kewajiban kami kami telah menginvestasi waktu dan upaya dan memmbunuh orang-orang kami untuk mempertahanakan peraturan dan undang-undang."
Namun, tidak jelas pada pembunuhan yang mana Erekat merujuk.
Dokumen-dokumen tersebut berada di antara sekitar 1.600 dokumen rahasia yang diperoleh televisi berbasis di Doha, Al-Jazeera tentang pekerjaan lebih dalam pada proses perdamaian Palestina-Israel.
Dokumen lainnya menunjukkan bahwa Otoritas Palestina telah meminta pemerintahan Israel untuk mendudukui ulang koridor Philadephi pada perbatasan Gaza-Mesir, dengan tujuan untuk mempererat pengepungan pada Jalur Gaza.
"Apa yang Anda dapat lakukan tentang Perbatasan Philadelphi?" dokumen tersebut mengutip mantan perdana menteri Ahmed Qurei seperti yang ditanyakan menteri luar negeri pada saat itu, Tzipi Livni pada sebuah pertemuan tahun 2008.
Permintaan tersebut datang dua pekan setelah ribuan rakyat Palestina menyerang rute masuk ke dalam Mesir untuk makanan dan bahan bakar setelah Israel memberikan sebuah pengepungan di Gaza, rumah bagi 1,6 juta orang.
Koridor Philadephi dikendalikan oleh Israel setelah sebuah perjanjian perdamaian tahun 1979 dengan Mesir.
Israel mengevakuasi rute sempit tersebut pada September 2005 sebagai bagian dari pemisahan dari Gaza.
"Kami tidak ada di sana (sekarang)," Livni mengatakan kepada Qurei.
"Anda telah menduduki kembali Tepi Barat, dan Anda dapat menduduki perbatasan jika Anda menginginkannya," Qurei menjawab.
Dalam pertemuan lainnya, Erekat, pimpinan negosiator Palestina, menunjukkan ketidakpuasannya dengan bagaimana Israel dan Mesir berhadapan dengan pengepungan Gaza, menurut dokumen yang bocor tersebut.
"Sebelas kilometer! Apa yang akan terjadi dengan Anda dan AS, $23 juta (disubangkan oleh AS untuk memblok saluran tersebut). Ini adalah bisnis seperti biasa di saluran tersebut – ekonomi Hamas." Erekat dikutip ketika mengatakan pada sebuah pertemuan dengan duta perdamaian AS George Mitchell, dalam merujuk pada relativitas pendek garis perbatasan antara Mesir dan Gaza.
Israel telah mengapitkan sebuah pengepungan pada Jalur Gaza sejak pergerakan Hamas dipilih pada tahun 2006.
Pengepungan tersebut lebih jauh memperketat pemblokadean setelah Hamas berasumsi berkuasa pada tahun 2007 mengikuti perselisihan dengan saingan Fatah.
Pada tahun 2008 Perdana Menteri Salam Fayyad dikutip ketika memperingatkan terhadap pembukaan perbatasan Gaza, yang kemungkinan dilihat sebagai sebuah kemenangan Hamas.
"Jika Hamas dilihat sebagai berhasil dalam membuka pengepungan tersebut makan pesan tersebut akan menjadi roket-roket tersebut membuahkan hasil," ia mengatakan kepada duta Kwartet Tony Blair pada Maret.
"Keterlibatan Israel secara unilateral di Gaza hanya merusak Otoritas Palestina. Saya tidak yakin seberapa banyak ledakan yang pemerintahan kita dapat bertahan darinya sebelum kami diserahkan tidak efektif sepenuhnya. (ppt/ppt/oi) www.suaramedia.com

Post a Comment