ROMA (Berita SuaraMedia) – Pada hari Selasa (21/12) waktu setempat, Vatikan lagi-lagi mengklarifikasi pernyataan yang dilontarkan Paus Benediktus XVI. Hal tersebut agaknya menjadi ritual yang menyiksa bagi para pendukung Gereja yang frustrasi. Dalam klarifikasi itu, Vatikan memberikan penjelasan panjang lebar untuk menerangkan apa yang dimaksud Paus.
Yang kali ini diklarifikasi adalah komentarnya dalam buku berisi wawancara berjudul Cahaya Dunia: Paus, Gereja, dan Tanda-Tanda Waktu. Vatikan mengatakan, komentar Benediktus mengenai penggunaan kondom telah "berulang kali dimanipulasi demi tujuan dan kepentingan asing."
Dalam buku yang dirilis bulan lalu, Benediktus mengatakan penggunaan kondom dalam keadaan tertentu, seperti misalnya untuk para gigolo yang ingin mencegah penyebaran virus HIV, dapat menjadi langkah pertama menuju kehidupan seksual yang lebih baik.
Komentar tersebut memicu perdebatan mengenai kemungkinan telah bergesernya doktrin gereja.
Vatikan mengatakan, "Siapa pun yang menggunakan kondom untuk mengurangi risiko bagi orang lain bermaksud untuk mengurangi keburukan tindakan amoral yang dia lakukan."
Akan tetapi, Vatikan menambahkan, hal itu tidak mungkin mengubah doktrin atau menjadi pembenaran untuk kondom sebagai "hal yang tidak terlalu jahat."
Pernyataan tersebut merupakan yang terbaru dalam kebingungan yang menjadi ganjalan bagi pencitraan kepausan Benediktus.
Surat kabar Vatikan, L’Osservatore Romano, merilis sebuah kutipan pernyataan Paus menjelang tanggal rilis buku tersebut pada 20 November lalu, meski terjemahan surat kabar tersebut mengubah gender pelacur menjadi wanita, sebuah perbedaan signifikan karena gereja menganggap kontrasepsi sebagai dosa besar.
Pada 23 November silam, juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombardi mengaku mencoba mendapatkan klarifikasi dari Benediktus yang mengatakan tidak peduli apakah pelacur itu pria, wanita, atau waria. Para wartawan di kantor pers Vatikan mempertanyakan apakah benar ia berbicara dengan Paus.
Masalah komunikasi ini tidak luput dari perhatian banyak petinggi gereja. Pekan lalu, sebagian di antaranya memperlihatkan kekhawatiran mengenai kegagalan para anggota dewan senior untuk menangkap laju dan kenyataan media modern, serta keengganan melakukan komunikasi internal.
"Anda tidak membaca gospel," canda Uskup Agung Claudio Maria Celli, presiden Dewan Kepausan Komunikasi Sosial, dalam sebuah wawancara. "Di sana disebutkan bahwa tangan kirimu tidak tahu apa yang dikerjakan tangan kanan."
Celli mengakui bahwa kabar mengenai pernyataan Paus Benediktus mengenai kondom di L’Osservatore Romano membuat banyak orang terkejut, para petinggi Vatikan lainnya menyesalkan konsekuensi dari kegagalan menyiapkan para wartawan dan uskup untuk sesi tanya jawab.
"Terkadang hal-hal dikerjakan tanpa kesepakatan, tanpa berdiskusi terlebih dulu," kata Celli. "Yang pasti, menurut saya hal itu tidak ditangani dengan layak. Bisakah Anda bayangkan seluruh isi buku dikurangi hingga hanya menyisakan masalah kondom? Tidak bisa dipercaya," katanya.
Secara resmi, Celli bertugas menjalin komunikasi antara gereja dengan dunia. Tapi, ia mengatakan bahwa seujmlah perkembangan baru menuntutnya untuk juga menjalin komunikasi di dalam Vatikan.
Perkembangan baru tersebut menjadi bencana pencitraan, termasuk kegagalan menerangkan pernyatan Paus di Regenburg, Jerman di tahun 2006 yang agaknya berisi serangan terhadap Islam, pengucilan seorang pastor pada tahun 2009 karena penyangkalan Holocaust, serta respons Vatikan yang tidak berimbang dan dingin terhadap krisis pelecehan seksual di dunia.
"Kami rasa kami bisa menciptakan kerja sama internal yang lebih ketat," kata Celli, merujuk pada berbagai kantor Vatikan. "Menurut saya, kata itu terlalu banyak sehingga dibutuhkan strategi komunikasi khusus."
Seorang staf senior Vatikan yang menolak menyebutkan namanya menyebutkan bahwa ketika Vatikan memberikan dokumen yang menyebut pedofilia sebagai kejahatan besar bagi gereja, Vatikan juga menyatakan penobatan wanita sebagai dosa.
"Tidak ada alasan menempatkannya di dokumen yang sama," kata sang staf yang menyatakan bahw amasalah komunikasi yang terkadi merupakan akibat buruknya cara memerintah dan buruknya pencitraan. (dn/wp) www.suaramedia.com

Post a Comment