Pakistan Tolak Keinginan AS Perluas Operasi Drone

ISLAMABAD (Berita SuaraMedia) – Amerika Serikat kembali menekan Pakistan agar bersedia memperluas wilayah operasi pesawat tanpa awak CIA di dalam negara tersebut. Hal itu memperlihatkan kekhawatiran bahwa upaya perang AS di Afghanistan terganggu oleh kemampuan para gerilyawan mengambil alih kawasan di lintas perbatasan, kata sejumlah pejabat AS dan Pakistan. Mereka menambahkan, meski permohonan AS difokuskan pada kawasan yang mengelilingi Kota Quetta, Pakistan, yang diyakini menjadi markas Taliban, AS juga ingin memperluas batas melakukan serangan drone di kawasan suku yang tahun ini telah menjadi target dalam 101 kali serangan, demikian dilansir Washington Post.
Para pejabat AS membenarkan adanya permintaan untuk memperluas zona terbang drone tersebut. Mereka menyatakan kekhawatiran bahwa Quetta bukan hanya dijadikan pangkalan untuk mengirimkan dana, tenaga rekrutan baru, dan bahan peledak untuk para gerilyawan Taliban di Afghanistan.
"Jika mereka mengerti keinginan kami, mereka tahu bahwa kesabaran sudah habis," kata seorang petinggi militer NATO.
Tapi, para pejabat mengatakan bahwa Pakistan menolak permintaan tersebut. Mereka menambahkan bahwa Pakistan justru menyetujui tindakan-tindakan yang lebih halus, termasuk meningkatkan kehadiran CIA di Quetta.
Di Quetta, CIA dan ISI membentuk tim-tim yang ditugasi untuk mencari dan menangkap para anggota senior Taliban.
"Kalian mengharapkan kami membuka wilayah udara untuk menerbangkan apa pun yang bisa kalian terbangkan," kata seorang pejabat senior dinas intelijen Pakistan, yang menyebut permintaan Quetta tersebut sebagai penghinaan terhadap kedaulatan Pakistan. "Di negara mana kalian bisa melakukan hal seperti itu?"
Meski kampanye drone CIA di Pakistan mengalami peningkatan drastis dalam beberapa bulan terakhir, Pakistan tetap memberlakukan batasan di mana saja drone CIA bisa beroperasi.
Pesawat-pesawat tanpa awak boleh berpatroli di "kotak-kotak" penerbangan yang ditentukan di atas daerah suku di Pakistan, tapi tidak boleh masuk provinsi lain, termasuk Baluchistan, yang mencakup Quetta.
"Mereka ingin menambah ukuran kotak-kotak itu, mereka ingin merelokasi kotak-kotak itu," kata seorang pejabat dinas intelijen Pakistan lainnya mengenai permintaan terbaru AS tersebut. "Saya rasa kami tidak bisa melakukan yang lebih jauh."
Petinggi militer Pakistan tersebut mengatakan bahwa pengharapan AS tidak ada hubungannya dengan perhitungan keamanan nasional Islamabad sendiri.
"Kalian hanya punya batasan waktu pemilihan bulan November dan penarikan tanggal 11 Juli, kalian ingin mendapat keuntungan jangka pendek," katanya, merujuk pada janji Presiden Barack Obama untuk memulai penarikan pasukan keluar dari Afghanistan pada bulan Juli tahun depan. "Keuntungan jangka pendek kalian tidak boleh jadi derita jangka panjang bagi kami," tambahnya.
Meski para pejabat Pakistan menekankan bahwa Quetta adalah sebuah kota berpenduduk padat dan jika diserang, maka warga sipil lebih mungkin jadi korban dan menjadi bumerang, AS telah sejak lama mencurigai bahwa ada alasan lain di balik keengganan Islamabad, termasuk kekhawatiran bahwa drone-drone AS mungkin digunakan untuk mengintai fasilitas senjata nuklir Pakistan di Baluchistan.
Ketidaksepakatan mengenai lingkup program drone tersebut mempertegas ketegangan antara Amerika Serikat dan Pakistan, dua sekutu yang saling hati-hati dan semakin sering menuding satu sama lain terkait meningkatnya kekerasan di kedua sisi perbatasan Pakistan-Afghanistan.
Kedua kubu paling tidak sepakat mengenai pentingnya Syura Quetta, dewan kepemimpinan yang dipimpin Mullah Muhammad Omar yang juga memimpin Taliban Afghanistan. Sejumlah pejabat senior Pakistan menolak menggunakan istilah Syura Quetta dan menyebutnya sebagai istilah yang dirancang AS untuk mempermalukan Pakistan.
"Saya tidak membantah ada sejumlah anggota Taliban di atau di dekat Quetta," kata seorang pejabat senior Pakistan. "Tapi, untuk menciptakan kesan bahwa ada lembaga yang menggerakkan urusan Taliban Afghanistan… adalah hal yang amat tidak mungkin." (dn/nk) www.suaramedia.com