Karzai Tidak Lebih dari Seorang Boneka Penjajah, Berjabat Tangan dikala Sang Penjajah Membunuh Warganya


Syabab.Com - Para penjajah tidak akan meninggalkan daerah jajahannya, kecuali setelah dipersiapkan strategi penjajahan lanjutan. Salah satunya dengan menyiapkan para pemimpin boneka yang dapat disetir dari jauh. Itulah yang terjadi di Afghanistan. Alih-alih mengusir para penjajah, penguasa setempat malah bertemu untuk berunding membicarakan strategi mereka. Padahal di waktu yang bersamaan, anak-anak Afghanistan meronta-ronta, darah mereka mengalir, serta banyak jeritan warga sipil akibat penjajahan AS bersama NATO.
Presiden Afghanistan Hamid Karzai bertemu dengan para pemimpin NATO di Lisabon untuk merundingkan penarikan pasukan dari negaranya di akhir tahun 2014. Para pemimpin 28 negara NATO mendukung strategi untuk mengalihkan kepimpinan perang melawan Taliban kepada pasukan Afghanistan paling lambat akhir tahun 2014.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai menandatangani kerjasama keamanan jangka panjang dengan NATO di Lisabon. Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen mengatakan Taliban tidak akan dibiarkan hanya menunggu sampai pasukan asing meninggalkan negara itu. Menegaskan komitmen NATO ia mengatakan NATO akan berada di negara itu "selama diperlukan".

Di hadapan media dunia, Presiden Karzai dan Rasmussen kemudian menandatangi kerjasama resmi yang menurut NATO akan mengatur komitmennya bagi Afghanistan selama bertahun-tahun ke depan.

Meskipun sepakat pada pengalihan kekuasaan militer kepada Afghanistan tahun 2014, Rasmussen mengatakan hal ini bukan berarti pertanda Taliban bisa mengaku menang. "Satu hal harus sangat jelas - NATO akan lama terlibat dalam hal ini," katanya.

"Kami tidak akan melakukan peralihan sampai rekan kami dari Afghanistan siap. Kami akan tetap berada di sana setelah peralihan dengan peran pembantu."

"Jika musuh-musuh Afghanistan punya gagasan akan menunggu sampai kami pergi, mereka salah. Kami akan tinggal selama diperlukan untuk menyelesaikan tugas."

Karzai mengatakan keputusan untuk menyerahkan kekuasaan militer akan memberi setiap penduduk Afghanistan saham dalam masa depan negara mereka.

Presiden Karzai mengatakan ia berterimakasih kepada NATO atas pengorbanan para tentaranya, namun menambahkan: "Saya juga memberi tahu mereka mengenai kekhawatiran warga Afghanistan sehubungan dengan korban sipil, sehubungan dengan penahanan dan kadang-kadang mengenai sosok NATO."

Pasukan Penjajah NATO (ISAF) menempatkan 130.000 tentara untuk mencengkram penjajahannya di Afghanistan, sebagian besar dari Amerika Serikat. Berdasarkan rencana baru masih akan ada peran bagi pasukan ISAF di negara itu tahun 2015 dan selanjutnya, namun sebagian besar untuk melatih pasukan Afghanistan.
Setidaknya, 1.271 warga sipil syahid dalam enam bulan pertama tahun ini, menandai 2010 sebagai tahun paling mematikan bagi korban sipil di Afghanistan.  Sementara itu, Afghanistan telah menjadi neraka bagi pasukan asing. Sekitar 650 tentara asing kehilangan nyawa mereka di Afghanistan, membuat 2010 menjadi tahun mematikan bagi pasukan teroris penjajah pimpinan Amerika sejak awal penjajahan pada tahun 2001.

Demikianlah dengan jelas, Karzai hanya menjadi jongos bagi Amerika Serikat. Bukannnya mengerahkan pasukan untuk mengusir para penjajah, malah dengan leluasa berjabat tangan dengan penjajah dan sekutunya. Padahal, sudah ribuan kaum Muslim merenggut nyawa untuk mempertahankan jiwa dan tanah air mereka dari cengkraman penjajah Amerika.
Kaum Muslim memang hanya membutuhkan satu kesatuan politik di bawah Khilafah yang akan menyatukan seluruh umat Islam sedunia. Khilafah inilah yang akan mengerahkan potensi umat untuk membebaskan negeri kaum Muslim dan mengusir para penjajah. Inilah, kehadirannya ditakutkan oleh Amerika dan sekutunya. Tidak akan lama lagi! [m/f/bbc/syabab.com]