Kanada, Hormati HAM Namun Tak Kebal Islamophobia
OTTAWA, KANADA (Berita SuaraMedia) – Kanada adalah sebuah contoh negara yang beroperasi di bawah aturan undang-undang dan menghormati hak asasi manusia dan keanekaragaman. Namun dalam masa-masa sulit akhir-akhir ini banyak tanda menggunung bahwa negara tersebut tidak kebal terhadap Islamophobia yang menyapu seluruh negara-negara Barat. Universitas Carleton Ottawa telah menjadi univeristas pertama di Amerika Utara yang menawarkan mata kuliah dalam pertahanan terhadap terorisme. Mahasiswa teknik akan mempelajari, di antara mata kuliah lainnya, keamanan nasional, intelijen dan terorisme.
Pemerintah juga telah memutuskan bahwa para penumpang di bandara Kanada harus menunjukkan wajah-wajah mereka di gerbang pemberangkatan, tambahan pula, untuk menghasilkan paspor dan foto identifikasi lainnya.
Tindakan-tindakan tersebut mengikuti penahanan beberapa Muslim pada dakwaan yang berhubungan dengan terorisme – dan vonis tersebut, dalam beberapa tahun ini, dari beberapa Muslim Kanada untuk terorisme terencana di Kanada atau di Eropa.
Sebuah poling baru-baru ini, dipersiapkan oleh Asosiasi untuk Studi Kanada dan Yayasan Hubungan Pemilihan Kanada, menunjukkan bahwa 55 persen dari warga Kanada tidak berpikir bahwa Muslim berbagi nilai-nilai mereka.
Bom bunuh diri yang menargetkan Muslim yang tidak berdosa dan non-Muslim, terorisme dan niqab berada di antara faktor-faktor yang memperparah ketidakpercayaan terhadap Muslim. Ayman Al-Yassini, direktur eksekutif Yayasan Hubungan Pemilihan Kanada, mengatakan bahwa situasi tersebut memburuk dan Muslim Kanada harus menghadapinya dengan menjangkau keluar pada sesama warga Kanada lainnya dari agama yang berbeda, poling tersebut menunjukkan bahwa warga Kanada yang memiliki teman-teman Muslim memandang Islam lebih menyenangkan dari mereka warga Kanada yang tidak mengenal Muslim.
Beberapa organisasi Muslim dan Muslim telah memulai untuk melakukan hal tersebut dalam beberapa tahun. Namun Muslim Kanada luar biasa beranekaragam – berjangkauan dari para profesional yang sangat terdidik sampai para pengungsi yang mengalami trauma menemukan rasa aman di Kanada dari penyiksaan atau kematian di negara mereka sendiri namun memililiki sedikit pemahaman tentang Barat. Ketidakhadiran sebuah organisasi induk Muslim nasional di Kanada juga telah mencegah tindakan gabungan atau kepemimpinan strategis.
Percekcokan di beberapa organisasi Muslim dan keasyikan mereka dengan bangunan Masjid namun mengabaikan Muslim yang lemah –seperti pengungsi, para pemuda yang tidak puas, wanita korban kekerasan rumah tangga, imigran baru, mereka yang dipenjara, sakit dan secara mental sakit, dan sebagainya – telah menghasilkan Muslim rentan tingkat bawah.
Seorang teman Kristen yang baru-baru ini mengirim sebuah email kepada temannya mengatakan bahwa ia muak karena semua Muslim disalahkan untuk tindakan beberapa kriminal. Sebagian besar teman setuju. Namun satu orang menulis ulang mengatakan bahwa Muslim membenci non-Muslim dan tujuan mereka adalah untuk menguasai dunia.
Pandangan semacam itu juga berasal dari Islamophobia yang berasal dari media Kanada. Majalah nasional Kanada, beberapa radio dan TV dan jurnalis cetak menyamaratakan tuduhan tanpa dasar terhadap Muslim. Contohnya, seorang kolumnis menulis di koran besar Ottawa, "Tidak diragukan lagi bahwa selama Muslim menguasai non-Muslim dianggap berada di bahwa hukum Syariah sebagai warga tingkat dua." Ia menambahkan bahwa "Ka'bah di Mekkah, adalah sebuah pemujaan berhala selama ratusan tahun sebelum Muhammad dan pasukannya membantai penduduk di sana pada tahun 630." Ia kemudian mempublikasikan sebuah pembetulan bahwa kota tersebut dikelilingi tanpa pertempuran. Ia tidak menyebutkan bahwa Nabi memaafkan penyiksanya. Tidak juga ia mengatakan bahwa Rumah Tuhan pada asalnya dibangun oleh Nabi Ibrahim untuk memuja satu Tuhan.
Dalam keadilan, beberapa media memberikan Muslim kesempatan untuk mengekspresikan sudut pandang mereka. Ini termasuk Muslim yang kurang kredibilitas di antara Muslim namun yang tamparan Muslimnya telah mengubah mereka menjadi kesayangan media. Contohnya, Imam Muslim Kanada mengeluarkan sebuah deklarasi dengan jelas mengutuk kekerasan dan terorisme. Pandangan mereka mendapat beberapa sorotan – sepanjang dengan wawancara dari kesayangan media yang mencela dengan hebat imam untuk tidak melarang jihad atau pembelaan diri, yang palsu.
Islam juga ternoda oleh pengeboman bunuh diri, pembunuhan sektarian, dan pendakwaan non-Muslim, korupsi dan penindasan di beberapa negara Muslim.
Di Kanada, Muslim sebagian besar tidak teratur dan mayoritas Muslim, termasuk para pemuda, menjauhkan diri dari Masjid, kecuali untuk sholat Eid atau sholat Jum'at.
Sekarang Muslim Kanada harus mengajari komunitas mereka sendiri tentang penekanan Islam pada kasih sayang, keadilan, persaudaraan dan martabat manusia. Mereka juga harus menjangkau warga Kanada lainnya dari agama yang lain, termasuk media, dan berpartisipasi dalam semua aspek kehidupan. Mereka juga harus mencabut hak memilih Muslim dan membantu mereka menjadi produktif, warga negara yang terhormat.
Kanada masih menjadi sebuah negara besar, namun minoritas di masa lalu telah berjuang dengan kuat untuk mendapatkan kehormatan dan kesetaraan dan untuk menikmati buah dari usaha mereka. Sekarang Muslim Kanada menghadapi tantangan tersebut.
Mohammed Azha Ali Khan adalah seorang Jurnalis, pensiunan pegawai sipil Kanada dan hakim pengungsi. Ia telah menerima Orde Kanada (Order of Canada – bintang jasa tertinggi dalam sistem tanda kehormatan untuk warga sipil Kanada), Orde Ontario dan Medali Queen’s Golden Jubilee atas kerjanya sebagai seorang Jurnalis, kepemimpinannya dalam komunitas Muslim dan usahanya untuk memajukan pemahaman yang lebih baik antara warga negara Kanada dari keyakinan berbeda. (ppt/an) www.suaramedia.com

Post a Comment