Bakso, Sate dan Nasi Goreng "Cukup" Mengubur Nestapa

Mimbar megah itu untuk dia seorang. Tapi jutaan telinga menyimak pidatonya dari layar-layar kaca, dia menawarkan ke mereka tak lebih dari setumpuk kata-kata abstrak yang arahnya sangat mudah dibaca.
Di jam-jam terakhirnya di Jakarta, di sebuah forum di Universitas Indonesia, dia mencoba mengirim pesan sublim untuk publik Indonesia dan “komunitas-komunitas Muslim” dunia, kalau operasi militer Amerika di Afghanistan dan Irak dan dukungan penuh Amerika pada “keamanan dan kedamaian” Zionist Israel adalah bagian dari “komitmen Amerika pada kemajuan umat manusia”.
“Amerika tidak sedang, dan tak akan pernah, berperang dengan Islam,” katanya penuh yakin.
Berbicara spesifik ke Muslimin Indonesia, secara halus meminta mereka untuk memilih; mempertahankan “kecurigaan dan syak wasangka pada Amerika” dengan resiko “teroris Al Qaeda” tumbuh subur (“orang-orang sipil di Amerika, Indonesia dan hampir seluruh dunia masih menjadi target kekerasan ekstrimis”, katanya). Atau, katanya lagi, mulai melangkah maju dan mencari “common ground”, pijakan nilai dan tujuan bersama, dan berkomitmen pada nilai-nilai itu demi mengejar “kemajuan” dan “kesejahteraan bersama”.
Sebuah permintaan besar untuk sebuah agenda yang maha mahal. Darah manusia!.
Lebih dari satu juta penduduk sipil Irak dan Afghanistan tewas secara mengenaskan akibat operasi haram mesin-mesin perang Amerika dalam 10 tahun terakhir. Jutaan lainnya mati dan menjadi terusir di Palestina akibat 60 tahun lebih dukungan membuta Amerika pada rezim penjajah Zionist Israel.
Tapi dalam pidatonya kemarin – disiarkan langsung banyak teve dan diulang-ulang lebih dari 24 jam di hampir semua media massa – dia punya tiket untuk mencuri perhatian publik.
Di hadapan 6.000 orang yang memadati Balairung Universitas Indonesia – mereka dipilih khusus oleh Kedutaan Amerika di Jakarta – Dia membagi sedikit dari cerita masa kecilnya di Jakarta. Orang-orang pilihan Kedutaan itu berdiri dari tempat duduknya, bertepuk tangan riuh rendah dan tak henti menjempret gambar saat dia mengeja “bakso”, “sate”, “Sarinah”, “enak yah”, dan tentu saja "jimat" “Assalamu Alaikum” dengan cukup fasih.
Dia, presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika, pernah menghabiskan empat tahun masa kecilnya di Indonesia. Sebuah masa kecil yang indah, sesuatu yang hanya menjadi milik segelintir "anak Menteng", anak-anak orang kaya dan berpenghasilan mapan, di tahun-tahun penuh gejolak dan kemiskinan yang menganga pada paruh kedua era 1960 an.
Tapi, ditempat yang sama, cerita manis masa lalu itu dan sedikit ingatannya pada kosa kata bahasa Indonesia memungkinkan dia "mendiktekan" versi Amerika dari nestapa di Afghanistan, Irak dan Palestina serta "kesetaraan" hubungan Indonesia-Amerika.
Di Afghanistan, katanya lagi, Amerika “terus berusaha bersama negara-negara sekutu untuk meningkatkan kapasitas pemerintahan Afghanistan agar mereka bisa mengamankan masa depannya. Berbagai tujuan, kami  membangun kedamaian di daerah yang terkoyak oleh perang – sebuah kedamaian yang tak memberi tempat pada ekstrimis brutal, dan menyediakan harapan bagi orang-orang Afghanistan.”
Di Irak, katanya lagi, Amerika “telah menciptakan kemajuan dalam salah satu komitmen dasar kami – mengakhiri perang di Irak. 100.000 tentara Amerika telah meninggalkan Irak. Orang-orang Irak telah mengambil tanggungjawab penuh untuk keamaman mereka. Dan kami akan terus mendukung Irak membentuk pemerintahan inklusif dan membawa pulang semua tentara kami.”
Nun jauh disana, di sepetak tanah, persis terletak di Timur Tengah, orang-orang Israel dan Palestina telah memulai kembali permbicaraan langsung, katanya. “Rintangan masih banyak Kedamaian dan keamanan bukan barang mudah. Tapi biar saya tegaskan: kami tak akan menyisakan usaha apapun demi terwujudkan keamanan dan perdanamaan yang memenuhi keinginan kedua pihak: dua negara, Israel dan Palestina, hidup berdampingan dalam harmoni dan keamanan.”
Tanpa membawa detail dan perspektif besar dari tragedi Irak, Afghanistan dan Palestina, dia memilih menyalakan kecemasan orang banyak. Katanya: “ekstrimis Al Qaeda” masih mengancam dan ini mestinya jadi “tanggungjawab seluruh bangsa”, termasuk Indonesia!.
“Sebuah bom di sebuah pasar bisa menghanguskan kesibukan perdagangan harian. Sebuah desas-desus gelap bisa membutakan kebenaran dan menyalakan pertikaian antar komunitas yang dulunya pernah hidup dalam harmoni,” katanya lagi.
Tak begitu jelas kejadian mana yang dia tuju. Tapi Irak, Afghanistan dan Palestina dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi “pasar” dari “bom-bom presisi tinggi” dan berdaya ledak masif Amerika. Di Irak khususnya, pendudukan haram Amerika atas negara itu telah membuka pintu neraka perpecahan dan kerja mesin-mesin perang Amerika di sana dan juga di Afghanistan telah membuat kedua wilayah itu seperti terjengkang ke jaman batu.
Tapi di Universitas Indonesia kemarin, dia begitu nampak digadaya, tanpa lawan!.
Ke hadirin balairung yang tersihir, dia menawarkan sederet panjang cerita penuh standar ganda.
Di satu sisi, misalnya, dia bilang dia terpesona dengan menara Istiqlal yang melambangkan “perjuangan Indonesia mencapai kemerdekaan”. Tapi di sisi lain, dia mendesak orang-orang Palestina untuk "berdamai"  dan maju ke meja perundingan dan membiarkan penjajah Israel menguasai seluruh tanah dan harta bangsa Palestina.
Di satu sisi, dia mengharapkan Indonesia berpeluk pada “transparansi dan akutabilitas”, “kebebasan dan pasar bebas”, “sistem pengadilan independen dan hak asasi manusia”. Tapi di sisi lain dia melewatkan cerita kesengsaraan, kemiskinan jutaan orang di Amerika dan banyak tempat di seluruh dunia akibat kerakusan dan korupsi masif raksasa-raksasa kapitalis di Wall Street!.
Di satu sisi, dia mengingikan “kemitraan sejajar Amerika-Indonesia” tapi di sisi lain dia tak pernah mau mengakui kalau tak bakal ada peluang bagi orang Indonesia mendirikan lembaga sosial di tanah Amerika; semacam USAID yang pekerjaannya membantu dan memonitor orang miskin di Amerika,atau lembaga semacam pemantau korupsi dan hak asasi yang kerjanya mengamati praktik-praktik gelap keuangan di Wall Street dan sepak terjang tentara Amerika Afghanistan dan Irak.
Di satu sisi, dia bilang, Amerika tengah mengembangkan teknologi-teknologi ramah lingkungan yang bisa membantu industri dan menjaga sumber daya alam Indonesia, tapi di sisi lain dia lupa – atau pura-pura lupa – kalau operasi Freeport dan raksasa perminyakan Indonesia hadir di Indonesia selama berpuluh tahun hanya memberi sedikit dan mengambil keuntungan yang lebih besar dan digembol ke Amerika.
Di satu sisi, dia mengecam dan menginginkan Indonesia ikut menekan rezim militer di Myanmar, tapi di sisi lain, dia lupa menyebutkan kalau Amerika membawa ratusan ribu tentara jauh dari tanah Amerika dan menduduki negara-negara berdaulat dengan dalih palsu.
Kini, dia telah meninggalkan Indonesia, lebih cepat dari jadwalnya semula. Tapi kata-kata manisnya masih berkuasa di saluran publik, lebih dari 24 jam setelah kepergiannya. Nampak juga, begitu tegas di etalase maya ini, di Politikana.
Hampir semua media seperti bertekuk lutut dan membeli apapun yang terucap tanpa sedikitpun skeptisisme.
Di saluran publik, kata-kata dia meluncur semanis es kopyor. Sebagian koran menyebut pidatonya “pas selera anak muda”, “membawa harapan”, “pesan damai” dan “inspirasi banyak anak-anak di Indonesia”. Betul-betul menyihir. Dahsyat!
Bisa jadi mereka benar. Tapi semua pesan “damai” dan kata-kata sedapnya di Universitas Indonesia tetaplah sebuah paradoks besar, kalau tidak dibilang obral "abab".
Ada ribuan tentara yang dikerahkan untuk mengamankan dia seorang – sebuah pengerahan kekuatan besar di saat ada ratusan ribu pengungsi di Merapi dan Yogyakarta, Tsunami Mentawai, Sumatra Barat, Bocah-bocah tak berdaya di Wasior, Papua Barat, dan tentu saja semburan Lapindo yang mengerat keadilan, yang semua itu membutuhkan tangan-tangan perkasa polisi dan tentara.
Ada ribuan orang pedagang kaki lima yang “dihimbau” oleh polisi dan tentara untuk menutup lapak jualannya di jalur-jalur yang dilalui rombongannya. Ada ribuan orang yang harus menanti dalam kemacetan yang menganak ular akibat perjalanan rombangan itu di jalan-jalan poros Jakarta.
Sementara di Balairung Universitas Indonesia, setidaknya selama dua hari, gedung itu dan bahkan kawasan Universitas Indonesia nampak seperti menjadi "pekarangan belakang" Kedutaan Besar Amerika!.
Penjagaan super ketat. Tank, tentara, polisi dan secret service seperti berdaulat di kawasan pendidikan itu untuk sementara. Seolah menegaskan yang bakal hadir di situ adalah seseorang yang tangannya telah berdarah-darah dan mendatangkan kesengsaraan orang banyak, dan sebab itu dia meminta perlindungan maksimal.
http://politikana.com/baca/2010/11/13/bakso-sate-dan-nasi-goreng-cukup-mengubur-nestapa.html