Penguasa Dzalim : "Harga Naik, Pemerintah Tak Peduli"

Bukannya mencari jalan untuk  mengerem kenaikan harga, pemerintah mengimbau rakyat tidak mengomsumsi barang yang diperlukan itu.

wajar harga-harga naik, kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jelang Ramadhan 1431 H bulan kemarin. Saat membuka rapat Rapat Kerja Kabinet Indonesia Bersatu II dengan gubernur dan ketua DPRD se-lndonesia di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/8), ia mengatakan kenaikan itu dimaklumi jika terjadi pada komoditas pertanian dan memberi tambahan penghasilan bagi petani.

"Kadang-kadang ada ko-moditas pertanian, yang petani itu mendapat untung setahun sekali, ya anggaplah itu rezeki," ujar Presiden ketika membuka Rapat Kerja Kabinet Indonesia Bersatu II dengan gubernur dan ketua DPRD se-lndonesia di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/8).

Pola pikir Presiden ini sama dengan jajaran menterinya. Saat harga cabe melambung tinggi hingga mencapai Rp 48 ribu per kilogram, Menko Perekonomian Hatta Radjasa mengimbau rakyat untuk sementara tidak makan cabe. "Saya saja hari ini tidak makan cabai. Coba saja kalau semua bersama-sama seminggu tidak makan cabai, nanti restoran lama-lama akan mengurangi pesanan cabenya," jelas Hatta sambil bercanda dengan wartawan di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng Jakarta, (16/7)
Sama dengan Hatta, Menteri Pertanian Suswono. la mengimbau agar rakyat sekali seminggu tidak makan nasi. Ini untuk mengurangi ketergantungan terhadapberas.

Kenaikan harga di pasar bukannya diantipasi pemerintah. Justru yang terjadi, rakyat dibiarkan menanggung bebannya sendiri. Kalau tak mampu, memenuhi kebutuhannya, para menteri menganjurkan rakyat meninggalkan konsumsi barang kebutuhantersebut.

Apalagi secara fakta, kenaikan harga-harga yang ada bukan disebabkan oleh faktor komoditas itu sendiri. Menurut pengamat politik-ekonomi Hendri

Saparini, kenaikan harga sembako belakangan ini sedikit dipengaruhi musim hujan yang memanjang. Tapi faktor yang terpenting adalah efek psikologis rencana kenaikan TDL (tarif da' sar listrik). Bahkan kenaikan harga itu telah terjadi sebelum TDL baru diresmikan. "Akibatnya, harga-harga ini akan terus merangkak naik hingga bulan puasa dan Lebaran," Saparini menyesalkan.
Memang, kenaikan TDL hanya berlaku pada pemakai daya listrik di atas 900 watt.Tapi, kaum miskin dihajar efek domino kenaikan TDL berupa kenaikan harga-harga kebutuhan sehari-hari. Di sini pemerintah tampakmenutup mata.

Buat diri Presiden, kenaikan harga saat ini memang "wajar" alias tidak jadi masalah. Soalnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sangatjaim (jaga image), memiliki anggaran kepresidenan yang luar biasa besar.

Sekadar kebutuhan baju Presiden saja, anggarannya men-capai Rp 893 juta pertahun, atau Rp 74 juta perbulan, atau sekitar Rp 18 juta perminggu. Belum lagi anggaran proyek renovasi pagar Istana, pengadaan pesawat kepresidenan, perjalanan luar negeri, dan sebagainya.

Padahal, gaji Presiden Indonesia saat ini, bersaing dengan gaji tertinggi sejumlah kepala negara di dunia. Sudah begitu, masih juga pemerintah mengajukan tambahan anggaran untuk remunerasi (kenaikan gaji pejabat) senilai Rp 3,3 triliun sehingga total menjadi Rp 13,9 triliun.

Sudah sejak berabad silam Rasulullah SAW memperingatkan: "Akan datangsesudahku para penguasa yang memerintah ka-lian. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijak. Namun, setelah turun dari mimbar, mereka melakukan tipudaya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai."( HR ath-Thabrani).

Penguasa yang demikian, sejatinya bukan penguasa yang menegakkan shalat (qiyamus shalat). Sebab, shalat seharusnya mencegah perbuatan keji dan munkar di segenap aspek kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.ta