Konferensi HT di Copenhagen: Bukan Isolasi Atau Asimilasi, Tapi Satu Pilihan Bangga dengan Islam dan Menyebarkannya [geleri foto]

Syabab.Com - Pada konferensi tahunan pekan ini, kelompok Hizbut Tahrir menyerukan kaum Muslim untuk berbangga atas keimanan mereka, bukan pada label mereka sebagai warga Denmark atau warga Prancis yang Muslim. Dalam konferensi yang mengangkat tema "Peran Muslim di Barat" tersebut, telah memberikan pesan kepada kaum Muslim bahwa keimanan harus menjadi identitas mereka serta kaum Muslim ikut menyebarluaskan Islam di Eropa.
Jaweed Yusuf, seorang anggota Hizbut Tahrir menjelaskan bahwa sudah tugas mereka untuk mengajak orang kepada Islam, sekalipun kesulitan mungkin terjadi dan konsekuensi apa pun, demikian seperti dilaporkan The Copenhagen Post.
Dilaporkan sekitar 1500 orang, baik dari Denmark, Swedia, Belanda dan Inggris, Muslim maupun non Muslim ikut serta dalam Konferensi tahunan yang diadakan oleh Hizbut Tahrir Skandinavia, Ahad, 03/10/2010 di Bella Center, Copenhagen, Denmark. Selain itu, konferensi tersebut disaksikan oleh para pengunjung melalui live streaming internet. 
Chadi Freigeh, perwakilan media Hizbut Tahrir Skandinavia mengakatan, "Meskipun seruan dari para politisi populis untuk memboikot konferensi, kami menyaksikan kehadiran warga negara Barat non Muslim yang banyak telah memperkaya konferensi dengan pertanyaan-pertanyaan mereka dan komentar."
Terkesan Modern dan Profesional
Penyelenggaran Konferensi yang dikemas secara profesional ini memang menjadi tanda tanya besar bagi sebagian orang Barat termasuk jurnalis. Bagaimana bisa, gerakan ini mampu menyewa Bella Center dan memberikan tiket gratis bagi siapa pun yang hendak mengikuti konferensi tersebut.

Seperti yang ditulis oleh jurnalis Troels Heeger dan Soren K. Villemoes memberikan catatannya terkait penyelenggaraan konferensi itu. Dia mengakui, sangat terkesan dengan perencanaan yang sangat baik dan pelaksanaan atas jalannya konferensi itu.
"Bagaimana bisa sebuah organisasi yang dilaporkan hanya beberapa ratus anggota saja di Denmark, tetap mampu menyewa Bella Center dan pintu terbuka dengan tiket masuk gratis?", tulisnya.
Bukan hanya itu, partai politik internasional ini, menurut kedua penulis tersebut telah mebuat publikasi yang cukup luas di Denmark, Inggris dan Arab yang menyampaikan tema baru dalam memenangkan Islam di seluruh dunia. "Semua dicetak dalam format yang menarik dengan tanda baca tanpa cacat, dan tata letak yang bagus. Itu tidak murah," katanya lagi.
Mereka lebih terkesan lagi ketika ikut hadir di dalam ruangan konferensi. Ruangan konferensi benar-benar telah memisahkan tempat laki-laki dengan perempuan. Tampak layar besar di depan auditorium, dengan penambahan subtitle yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sehingga setiap orang dapat mengikutinya. Terkesan sangat profesional, fitur yang baik dan suara yang jelas.
"Jarang nilai-nilai konservatif dicatat sebagai modern dan profesional. Setiap kata yang diucapkan dari mimbar, dengan hati-hati disesuaikan bagi pendengar yang kritis, sementara cukup menarik bagi pendengar yang kurang kritis baik Muslim maupun non Muslim," tulisnya lagi.
Tidak Isolasi atau Asimilasi, tetapi Bangga dengan Islam
Berulangkali, para pembicara mengingatkan bahwa umat Islam di Barat berada di bawah tekanan para politisi Islamofobia yang telah membom Afghanistan, sementara mereka dengan sengaja berusaha untuk mengasimilasi Muslim dengan nilai-nilai Barat di Eropa.
Pesan Hizbut Tahrir adalah sederhana: Tidak dengan isolasi atau asimilasi untuk cara kedepan. Jawabannya, adalah 'cara ketiga' di mana umat Islam bangga dengan identitas Islam mereka dan menyebarkan pesan Islam di Eropa, sehingga akhirnya penguasa Eropa harus mengubah arah.
Musuh Islam bukanlah "Mr. Smith atau Mrs. Smith" seperti yang telah dirumuskan, tetapi kapitalisme. Kaum Muslim harus menunjukkan ada alternatif untuk mengganti kapitalisme imperialis, yang kita tahu telah mengarah kepada dekadensi, pembusukkan moral, depresi, dan kebejatan spritual. Alternatif itu tentu saja Khilafah Islamiyyah yang menyatukan seluruh negeri-negeri kaum Muslim.  
Ada keterbukaan untuk berbuat baik atau bertobat yang sangat luas. Ini tampak, ketika ditampilkan dalam fitur yang menarik bagaimana seorang warga Denmark menjadi seorang Muslim. Dia berbicara penuh semangat tentang perpindahan agama dia dari akidah yang kusam dan bodoh menjadi seorang Muslim.   
Jaweed Yusuf, seorang mualaf, menjadi pembicara berikutnya. Disambut dengan tepuk tangan, ia disorot sebagai seorang Muslim yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang terlahir dari rahim Islam sebagai warisan dari orang tuanya.
"Hizbut Tahrir jelas jauh lebih modern dan berorientasi individu daripada institusi Islam tradisional dan jelas mengapa begitu banyak merasa menarik mengubah organisasi," tulis Heeger dan Vilemoes menceritakan pengalaman Jaweed Yusuf. Di sini jelas, keanggotaan tidak didasarkan pada etnis satu atau klan lainnya. Tetapi satu-satunya yang penting adalah dedikasinya untuk Islam.   
Islamofobia Ketar-ketir
Sementara itu, sekelompok kecil orang, alih-alih menerima undangan debat dengan Hizbut Tahrir, tetapi malah melakukan aksi protes untuk menolak Hizbut Tahrir, termasuk menolak keberlangsungan konferensi tersebut di depan Bella Center.
"Masyarakat Denmark harus membuat ruang bagi keanekaragaman, tetapi kita harus menempatkan batas," kata seorang Islamofobia. Sekalipun mereka mengakui, Hizbut Tahrir secara terbuka telah mengundang mereka untuk berdebat, tetapi mereka menolaknya.
Chadi Freigeh menyatakan melalui kehadiran warga Barat non Muslim dengan jumlah yang besar dalam konferensi tersebut, membenarkan bahwa mereka membenci para politisi yang gagal dalam menghilangkan kemunkinan membuka perdebatan faktual tentang Islam.
Demikianlah, dakwah Islam gencar di Eropa yang hanya menambahkan bukti bahwa suatu saat, Islam akan meliputi ujung timur dan ujung barat dunia seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw. Tentu saja, bila di Barat, kaum Muslim gencar mengajak orang masuk Islam, lalu sungguh sangat malu bila kaum Muslim di sini malah berbangga kepada ide-ide Barat atau berdiam diri.
Sudah saatnya, kaum Muslim di negeri ini kembali kepada Islam yang telah memuliakan kehidupan kita, dan mengajak siapa pun untuk masuk Islam serta menerapkan Islam dalam setiap aspek kehidupan. Hal itu, karena Islam merupakan din yang paripurna dan rahmat bagi seluruh alam. Ketika Khilafah tiba, maka umat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam Islam ini. Insya Allah, tidak akan lama lagi, takbir! [m/z/f/sfu/jpdk/cphpost/syabab.com]
Galeri Foto: 
Bella Center, tempat berlangsungnya Konferensi Hizbut Tahrir Skandinavia
Para panitia siap menyambut peserta, baik Muslim maupun Non Muslim
Para pembicara menyampaikan pesan-pesan Islam
Para peserta Muslim ikut menunaikan Sholat berjamaah di sela-sela Konferensi
Modern dan profesional, kesan tersendiri bagi Non Muslim
Suasana peserta Konferensi
Salah seorang pembicara dari Inggris, ikut menyampaikan pesan Islam
Taji Mustafa, perwakilan media Hizbut Tahrir dari Inggris ikut jadi pembicara
Penjelasan yang meyakinkan baik bagi Muslim maupun non Muslim
Suasana di luar Auditorium Bella Center, tempat berlangsungnya konferensi
Batas-batas peserta laki-laki dan perempuan terpisah, dan dijaga oleh panitia