Gories-Pranowo-Aryanto menjadi three musketeers kejahatan terorisme. Modus penculikan aktivis gaya Orde Baru muncul lagi.
Protes terhadap Polri yang dituding melakukan penculikan aktivis Islam secara semena-mena akhirnya mengerucut pada satu-dua pihak yang sangat popular. Jum’at (19/9), puluhan massa Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) berdemonstrasi ke Mabes Polri didampingi sejumlah isteri korban penculikan. Mereka secara terbuka mempertanyakan tanggung jawab kepolisian sebagai pengayom masyarakat: kok malah membuat teror baru?
Bahkan, para pendemo mengeluhkan “Tim Kobra” yang kabarnya dipimpin Gories Mere dan punya wewenang penuh menangkapi orang Islam. “Gories yang bukan orang Islam dengan memimpin Tim Kobra bisa menimbulkan perpecahan seperti di Poso dan Ambon. Apa tidak ada orang lain selain Gories?” protes pendemo (detikcom, 2003/09/19).
Kontan saja Kabidpenum Mabes Polri Kombes Zainuri Lubis membantah pandangan itu. Ditegaskannya bahwa Gories adalah polisi. “Siapapun dia, apapun agamanya, dia adalah polisi yang punya kewenangan menangkap, menahan dan memeriksa seseorang. Walaupun dia bukan Islam, Kristen sekalipun,” tegas Zainuri. Selanjutnya, Lubis menyarankan agar para aktivis masjid dan keluarga yang merasa dirugikan segera mencatat siapa saja korban penangkapan yang disiksa dan siapa pula yang menyiksa mereka selama masa penahanan.
Sinyalemen pendemo sebenarnya bukan tanpa sebab. Dalam kasus penangkapan di wilayah Cileungsi, Jawa Barat beberapa bulan yang lewat, para petugas ternyata mengontak komandannya di suatu tempat. Lalu, para korban yang diciduk di sebuah apotik pada waktu tengah malam itu mendengar ucapan petugas “yang berbau agama/SARA”. Padahal, pemilik apotik menegaskan dirinya hanya menerima tamu dan tidak tahu apa-apa soal dugaan tindak pidana terorisme.
Bila di masa Orde Baru, modus penculikan dilakukan sejumlah oknum militer untuk menjaga stabilitas kekuasaan Soeharto, maka di masa reformasi tampaknya modus serupa dijalankan juga dengan mastermind yang berbeda. Mantan komandan Kopassus Prabowo Subianto pernah jadi korban akibat isu penculikan aktivis PRD dan LSM, serta politisi oposan. Dalam persidangan kasus penculikan terungkap bahwa petinggi Kopassus telah membentuk pasukan “Tim Mawar” untuk menjalankan operasi penculikan.
Sulit sekali melakukan investigasi dan verifikasi terhadap segala penjelasan petinggi militer itu, baik Prabowo maupun mantan Panglima TNI Wiranto telah menerbitkan pembelaan masing-masing. Semua operasi berlangsung tertutup, dan kelihatannya punya target tertentu yang berada di luas koridor tugas militer sebenarnya. Kita berharap bahwa isu tentang keberadaan “Tim Kobra” segera dibeberkan resmi: ada target apa sebenarnya? Jangan sampai modus pelanggaran HAM klasik terulang kembali. Sebab jelas masyarakat awam yang kebetulan berposisi sebagai aktivis (dari kelompok kiri atau kanan, yang dituding “komunis” atau “teroris”) masuk daftar teratas.
Pimpinan Polri seyogyanya memenuhi permintaan keluarga korban, dan juga kegelisahan sejumlah pengamat serta wartawan, akan kejelasan peran Brigadir Jenderal (Pol) Gories Mere yang berstatus resmi sebagai Direktur Narkotika Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Di lapangan, manuver Gories tampak lebih aktif dan kontroversial ketimbang Brigjen (Pol) Pranowo yang justru berstatus formal Direktur Antiteror Mabes Polri. Bersama dengan Brigjen (Pol) Aryanto Sutadi sebagai Direktur Keamanan Transnasional, maka “Gories-Pranowo-Aryanto” seakan menjadi trio pamungkas (three musketeers) kejahatan terorisme. Kalau tak ada halangan berarti, ketiga orang perwira itu pula yang akan diutus Kapolri untuk menemui tersangka utama Hambali di penjara Guantanamo, Kuba.
Di antara ketiga perwira itu, Gories adalah bintangnya. Mantan Kapolda Nusa Tenggara Timur itu tak hanya pandai bersilat lidah dalam talk show di televisi atau radio, dan melayani segala cecaran pertanyaan kuli disket, tapi juga memimpin langsung operasi penangkapan di lapangan. Jika sebelumnya, Gories terkenal dengan perburuan dan penangkapan terhadap “Ratu Ekstasi” Zarima Mirafsur dan penangkapan “Raja Ekstasi” Ang Kim Soe, maka kini Gories menyergap aktivis “teroris”. Seperti yang terjadi Ahad (17/8), Gories menangkap tersangka Tohir dan Jabar di Padang. Direktur Operasional Mabes Polri Andi Chaerudin dan Kapolda Metro jaya Makbul Padmanegara cukup kelabakan menjelaskan kepada wartawan tentang operasi itu, karena meminjam aparat Polda Jakarta, dan tersangka juga langsung dibawa ke Jakarta.
Republika Online (28/8) menyiarkan, melalui sumbernya di Mabes Polri, bahwa Gories sekarang menjadi “Ketua Tim Antiteror”. Benarkah? Hebat juga, karena beban Gories pasti bertambah berat, selain menangani kasus narkotika yang sekarang terus merebak dan banyak pengedar kelas kakap berkeliaran di Indonesia. Selain itu, masih kata sumber tersebut, “Gories memang memimpin sejumlah penangkapan di beberapa wilayah konflik seperti Poso, Tobelo (Ambon), maupun Medan.”
Jika benar informasi itu, maka akan terbuka peluang eskalasi kekerasan negara atas warga masyarakat, bahkan tidak mustahil memancing konflik baru yang tidak perlu. Harap dicatat, jangan sedetik dilupakan!, dalam konflik di Maluku/Ambon (Januari 1999) dan Poso (Juni 2000), umat Islam adalah korban kebiadaban kelompok lain, yang kebetulan seagama dengan Gories. Umat Islam di Maluku dibantai pada hari Idul Fitri dan para santri Walisongo dihabisi di hutan Poso, tanpa perlindungan berarti dari aparat kepolisian atau keamanan yang mestinya bertanggung-jawab. Lalu, para aktivis Islam mengamankan dan melindungi umat di Maluku dan Poso. Bukankah itu berarti mereka telah “membantu” polisi dan aparat keamanan secara sukarela? Mengapa sekarang malah ditangkapi, hanya karena tudingan sumir terlibat kasus terorisme.
“Kepiawaian” Gories sebagai anggota Tim Investigasi Bom Bali tercatat ketika memimpin satu grup reserse mengendus keberadaan Amrozi. Pada mulanya, Polri baru mampu mengumpulkan bukti-bukti lapangan serta mengeluarkan sketsa wajah tersangka lewat bantuan polisi Australia. Ketua Tim Gabungan dibawah komando I Mangku Pastika sempat menangkap beberapa calon tersangka, namun terbukti keliru, dan akhirnya dilepaskan kembali.
Nah, Selasa pagi (5 November 2002), satuan polisi yang beroperasi secara rahasia tiba-tiba mendatangi desa kecil Tenggulun, di kecamatan Solokuro, sekitar 30 meter di sebelah utara Lamongan. Polisi menciduk anak muda bernama Amrozi, yang lebih dikenal sebagai “playboy” kampung dan ahli reparasi mobil. Serunya, operasi itu ternyata tak betul-betul rahasia karena pasukan Gories diikuti wartawan SCTV (dibawah pimpinan Karni Ilyas) dan koran Surya. Kepala Dinas Penerangan Polda Jawa Timur, yang rupanya tidak diberitahu soal operasi Tenggulun itu, sempat membantah habis-habisan berita penangkapan. Baru keesokan harinya terdapat konfirmasi.
Walhasil, kedua media massa itu lebih dahulu memberitakan berita penangkapan spektakuler tersangka peledakan bom Bali (12 Oktober 2002), kurang dari sebulan setelah peristiwa yang menewaskan ratusan orang asing dan WNI. Penangkapan Amrozi dan pemberitaan dini media tertentu pernah menjadi perdebatan sengit di kalangan praktisi jurnalis (Pantau, Januari 2003). Karena Kapolri sendiri baru mengumumkan secara resmi penangkapan itu pada Kamis (7/9/2002), usai sidang kabinet.
Prestasi Gories yang lain ialah menangkap Imam Samudra di Pelabuhan Merak, Banten (21/11/2002) ketika hendak melarikan diri ke Sumatera. Dalam operasi yang juga bersifat rahasia itu, Gories didampingi satuan antiteror Polda Metro Jaya yang dipimpin AKBP Carlo Tewu. Gories dan Carlo memang dikenal sebagai pasangan pemburu teroris yang jitu. Sekali lagi terselip keganjilan, karena SCTV siang hari itu juga menyiarkan breaking news penangkapan Imam Samudra, yang bertepatan dengan penahanan mantan Sekjen Dephutbun Soeripto atas dugaan sumir korupsi. Darimana SCTV mendapat informasi dini rencana penangkapan? Bagi sebagian wartawan terkesan Gories sudah lama membina hubungan istimewa dengan SCTV, terutama dengan Direktur Pemberitaannya Karni Ilyas, yang notebene mantan Pemimpin Redaksi Majalah Forum Keadilan.
Langkah Gories mulai bersifat tertutup, saat penangkapan Ali Imron (13/1/2003) di daerah pertambakan Pulau Timbang Barukan, di kawasan Delta Mahakam, Kalimantan Timur. Kawasan itu tergolongan bagian dari puluhan pulau kecil terpencil di muara Sungai Mahakam yang berhadapan langsung dengan Selat Makassar. Setelah tiga hari ditahan di Balikpapan, tanpa ketahuan media massa, Ali Imron dan kawannya Mubarok serta 13 tersangka lainnya diterbangkan ke Denpasar, Bali dengan pesawat khusus Boeing 737 Merpati. Pesawat itu disewa Polri tanpa mengangkut penumpang lain (Kompas, 17/1/2003). Entah mengapa sosok Ali Imron alias Ale kali itu tak diekspos besar-besaran seperti Amrozi dan Imam Samudra sebelum penangkapan. Ale baru dicuatkan, saat rekonstruksi perakitan bom yang mencengangkan.
Gories sempat berubah galak terhadap wartawan, sewaktu memberangkatkan tersangka bom Bali (Imam Samudra, Ali Ghufron, Ali Imron, dan Mubarok) ke Jakarta untuk memberi kesaksian dalam persidang kasus Abu Bakar Ba’asyir (28 Mei 2003). Ceritanya, tiga orang wartawan dari Radio Sonora Jakarta (Stephanus K. Wibowo), koresponden RCTI Bali (Syafrudin Siregar), dan kameraman Metro TV (Budi Santoso) sempat masuk ke landasan bandara Ngurah Rai untuk meliput peristiwa itu. “Gories langsung marah-marah. Pass (ID) kami dan kaset langsung dirampas,” ujar Syafrudin. Tak jelas pangkal kemarahan Gories, sebab para wartawan itu sudah mengantongi kartu izin masuk bandara. Batas peliputan kasus bom Bali pun dipertanyakan, karena selama ini justru petinggi Polri mengekspos tersangka secara vulgar, seperti kasus salaman dan senyum Amrozi bersama Kapolri yang menimbulkan kejengkelan PM Australia John Howard.
Ada saatnya Gories kepleset. Dalam kaitan peristiwa bom J.W. Marriott, Gories sempat berkomentar nyaring, meskipun dia tidak bertanggung-jawab langsung terhadap kasus itu. Saat wawancara dengan media Australia, ABS News Online (7/8), Gories menyatakan polisi telah mengetahui rencana peledakan “enam minggu sebelumnya melalui penyadapan surat elektronik (email) dari seseorang bernama Asmal (sic).” Dalam email disebutkan Gories, pelaku menggunakan sandi “Dia ingin menikah” untuk melakukan bom bunuh diri. Sandi itu diyakini Gories juga digunakan kelompok “Jemaah Islamiyah” (Kompas Cyber Media, 07/08/2003).
Sebagian informasi Gories terbukti melenceng, karena tersangka pelaku peledakan kemudian dinyatakan bernama asli Asmar Latin Sani. Atau, Asmal mungkin dimaksud Gories sebagai inisial saja? Namun, penjelasan tentang rencana peledakan telah membuat pusing Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Komjen Erwin Mappaseng. Kalau benar polisi sudah tahu rencana peledakan, kok tidak mampu (atau tidak mau?) mencegahnya? Sampai-sampai, Kapolri Dai Bachtiar sendiri turut menanggapi Gories pernyataan yang bukan keterangan resmi Mabes Polri. Setelah peristiwa bom Bali dan bom Marriott, Gories memang sering berkomunikasi dan kongkow dengan aparat polisi dan wartawan asing. Pemda DKI Jakarta membuat media centre khusus wartawan asing di Hotel Sari Pan Pacific.
Kejelasan tentang mekanisme kerja dan pertanggung jawaban hukum tindakan polisional ikut didiskusikan dalam pertemuan Kapolri dengan pimpinan MUI. Sayang, Gories tidak ikut dalam rombongan Kapolri, sehingga tak bisa dikonfirmasi tentang sejumlah hal yang mengganjal. Namun, kesepakatan Kapolri dengan MUI untuk bersikap profesional dan bertanggung-jawab jangan cuma basa-basi. Kapolri, atau siapapun yang berada di balik “Tim Kobra” harus ingat, tindakan mereka akan diketahui masyarakat luas. DPR, Komnas HAM, komite etik bagi prajurit dan perwira Polri harus bergerak, apabila ada gejala pelanggaran. Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap polisi, sehingga mengundang anarki yang lebih luas.
Lembaga pengawas HAM internasional juga saatnya berbicara dan bertindak, jangan ada standar ganda. Karena kegamangan dan “kecerobohan” Polri sangat mungkin dipengaruhi tekanan asing, terutama Amerika Serikat yang gencar berkampanye antiterorisme. Korbannya adalah rakyat biasa yang tidak berdosa apa-apa. (sumber Saksi)
http://swaramuslim.net/more.php?id=730_0_1_0_M

Post a Comment