Siapa Untung dari Pembatasan Premium



Pembetasan BBM saat tidak akan membawa dampak signifikan pada anggaran.

Pemerintah akan membatasi konsumsi bahan bakar bersubsidi, khususnya premium, mulai Oktober mendatang. Pembatasan diterapkan kepada mobil keluaran 2005 atau yang lebih baru.

Pembatasan ini sebenarnya untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi yang diperkirakan bisa melonjak dari kuota APBN-P 2010, sebesar 36,5 juta kilo liter. Sedangkan bila tak dibatasi, konsumsi BBM diperkirakan bengkak menjadi 40,1 juta kilo liter.

Pengamat energi dari Reforminer Institute, Pri Agung Rakhmanto mengatakan, pembatasan BBM tidak akan membawa dampak signifikan pada anggaran. Melalui pembatasan yang hanya di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, pemerintah hanya akan menghemat 8 persen dari konsumsi premium nasional.

"Dalam sebulan pemerintah hanya bisa menekan 105 ribu liter. Artinya, hingga akhir 2010, hanya 315 ribu kilo liter yang bisa dihemat," kata dia saat dihubungi VIVAnews, Rabu 22 September 2010.

Menurut dia, pembatasan konsumsi hanyalah kebijakan setengah-setengah yang seharusnya tidak dilakukan pemerintah pada tahun ini. Pemerintah sebaiknya mempersiapkan pencabutan subsidi melalui mekanisme penaikan harga secara bertahap. Bila tidak, pemerintah bisa membatasi konsumsi premium kepada seluruh kendaraan pribadi. Premium dan solar hanya boleh digunakan oleh angkutan umum. "Ini jauh lebih mudah diterapkan dan membawa dampak besar," ujarnya.

Namun, harus ada konsekwensinya. Setelah pembatasan, pemerintah harus mengalokasikan dana subsidi itu untuk membangun infrastruktur, membangun energi alternatif, mapun program lain yang bisa mendukung kemajuan perekonomian. Tentu, bila mengacu anggaran, pembatasan akan lebih efektif pada awal tahun.

Pri Agung mengatakan, pembatasan yang dilakukan tidak sepenuh hati ini hanya akan menguntungkan sebagian pihak. PT Pertamina misalnya, sebagai pemasar BBM bersubsidi bakal kehilangan omset konsumen premium. Sebab, belum tentu pengguna premium beralih ke Pertamax. Bisa saja mereka membeli BBM di SPBU Shell, Petronas, maupun Total. "Ini sudah menjadi risiko pasar BBM yang terbuka," katanya.

Menanggapi hal itu, Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, M Harun, mengatakan, Pertamina telah siap bersaing. Pertamina akan menambah pasokan Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina Dex. Rencananya, BBM nonsubsidi itu disuplai dari kilang Balongan, Indramayu. Pertamax akan ditambah dari pasokan saat ini 100 ribu kilo liter per hari. "Stok masih cukup, tak perlu impor," katanya.

Sementara itu, Manager Komunikasi Korporat Shell Companies in Indonesia, Fathia Syarif memilih bungkam menanggapi isu ini. "Kami belum bisa komentar. Tunggu keputusan itu diterapkan," katanya kepada VIVAnews. (hs)