Dalam pertarungan persenjataan, seharusnya dengan kapasitas Tentara yang terlatih dan Densus (Detasemen Khusus) 88 yang diberikan pelatihan langsung oleh Amerika Serikat dan Australia, harusnya mampu menciptakan kondisi kemenangan bagi negeri ini. Ternyata, komponen-komponen tersebut, hanyalah pemercik suasana saja, bumbu pedas dalam sebuah masakan bernama permasalahan negeri ini. Anehnya, Densus 88 yang ibarat Malaikat yang tak bisa tersentuh sekalipun oleh panglima tertinggi di negeri ini, ternyata bertindak sesuai pesanan dan menjadi “kacung” dari negeri lain. Operasi Anti teror di Medan pertanggal 19 September dan di Provinsi Lampung dalam menangkap komplotan perampok CIMB yang juga terkait jaringan teroris ini dilakukan pasca “sikap” Australia yang marah besar akibat Densus 88 dilaporkan melakukan siksaan terhadap anggota repulik Maluku Selatan (RMS) yang merupakan separatis di negeri ini. Sedangkan saat penyiksaan yang dilakukan kepada sejumlah teroris “islam” di negeri ini yang dilakukan densus 88 yang tidak terungkap dan sengaja didukung oleh “bos” ini di diamkan saja.
Bahkan perihal tindakan penangkapan teroris ini, seringkali dilakukan saat kunjungan dan rencana kedatangan pejabat dari Amerika Serikat. Di jadwalkan Barack Obama, Presiden AS akan merencanakan berkunjung ke Indonesia pada November 2010 setelah dua kali gagal berkunjung ke Indonesia. Sementara itu, posisi TNI serta intern Polri bermasalah dengan keberadaan Densus 88 tersendiri. Dalam kasus tanggal 13 September 2010, TNI Angkatan Udara merasa ”dilecehkan” dengan sikap arogan Densus 88 yang seenaknya masuk di kawasan Bandara Polonia Medan yang seharusnya merupakan wilayah khusus TNI Angkatan Udara. Selain itu, penggerebekan teroris dan perampok CIMB itu pun, tanpa koordinasi terhadap Polda daerah setempat.
Kasus terakhir adalah kasus kejadian tanggal 22 September, di mana komplotan teroris berhasil menembak mati 3 anggota polsek Hamparan Perak Deli Sedang. Ini bukan kesalahan atau ketidak cermatan intelijen, karena delik dari permainan ini intelijen yang berhasil memberi bumbunya. Coba anda tebak, bagaimana komplotan teroris itu dapat menggunakan senjata dan peluru buatan PINDAD, dan menemukan sejumlah persenjataan otomatis tersebut ? Di Media massa baik cetak maupun elektronik, tampak sengaja ditutup-tutupi ketika pihak Polri asal main tangkap dan tembak dalam kasus penembakan dan penyergapan tanggal 19 september yang lalu. Diantara mereka yang tewas tertembak dan tertangkap sesungguhnya tidak berada dalam sejumlah aksi perampokan bank dan instansi di Sumatera utara.
Teror menang. Dan Negara sengaja kalah. Inilah strategi intelijen dan penguasa agar tetap dicintai rakyat ditengah keterpurukan citra dan kezhaliman penguasa. Isu teror pun selalu saja terkait dengan tindakan ”radikal” kaum muslimin, sedangkan dalam prilaku dan tindakan ”radikal” non-muslim hanya dibahasakan sebagai kriminal, tawuran atau separatis. Inilah fakta, saat kaum muslim menghadapi kondisi kemenangan secara individu namun, pada kenyataan secara keseluruhan dalam keadaan kalah dan terhinakan. Bagaimana tidak, pasca isu pembakaran oleh Terry Jones, yang pada akhirnya dilakukan oleh ke dua orang pastour sebelum pada akhirnya merobek-robek al-quran maka di Indonesia, ditambah pasukan Densus 88 kembali memerankan drama mereka untuk mencegah ”kebangkitan” dan berupaya menyulut opini baru bahwa mereka yang berusaha menjadi islam kaffah adalah TERORIS.
- Zain Rahman El-Palembani


Post a Comment