MISTERI DI BALIK PEMBUNUHAN MARTADHINATA (ITA)


Terbunuhnya Martadhinata (Ita) di rumahnya, Jumat tanggal 9 Oktober
lalu, benar-benar mengejutkan banyak orang. Lebih mengejutkan lagi
sekaligus sangat memprihatinkan mengikuti perkembangan dari peristiwa
itu sendiri. Ironisnya lagi apa yang membuat kita prihatin itu
bersumber dari pihak-pihak yang seharusnya mengayomi, dan memberi
ketenangan bathin kepada keluarga korban yang ditinggalkan.

Sarlito dan Mun'im

Salah satu hal yang sangat mengusik kita adalah pernyataan kepada
pers yang dikemukakan oleh psikolog tenar, Prof. Dr. SARLITO WIRAWAN
SARWONO. Berdasarkan hasil forensik yang diumumkan oleh ahli
forensik, dr. Abdul Mun'im Idries bahwa diketahui korban memiliki
kebiasaan anal seks dan dari air seni korban ditemukan adanya
kandungan heroin, psikolog itu menyebarluaskan kesimpulannya kepada
media massa bahwa Ita adalah seorang penjaja seks. Sarlito mengatakan
kepada para wartawan bahwa berdasarkan temuan seks anal dan kandungan
heroin pada air seni almarhum itulah disimpulkan bahwa Ita adalah
seorang pekerja seks. Untuk membiayai kecanduannya terhadap obat
terlarang itu, kata psikolog itu, Ita menjadi pekerja seks! Ini sama
saja dengan Sarlito telah menuduh Ita sebagai seorang pelacur!!! Ita
menjadi pelacur untuk memenuhi kebutuhan obat terlarang itu!

Luas biasa sangat kejam tudingan seperti ini! Apalagi datang dari
seorang psikolog yang seharusnya justru memberi ketenangan bathin
kepada keluarga korban yang ditinggalkan secara begitu mendadak, dan
sedemikian tragis. Apalagi dia (Sarlito), mengatakan bahwa itu adalah
asumsinya. Suatu asumsi berarti belum tentu benar. Apakah sesuatu
yang baru merupakan asumsi layak dinyatakan secara terbuka seperti
ini? Apakah layak dan etis seorang psikolog yang tentunya memiliki
dan harus memegang teguh etika profesi mengeluarkan pernyataan
seperti ini, yang tentunya sangat memukul dan menghina keluarga
korban? Bagaimana jika ternyata asumsi tersebut salah/keliru? Jangan
Anda mengatakan, "ya, sudah." Kalau reaksi Anda akan seperti itu,
berarti Anda bersikap masa bodoh dengan perasaan orang lain. Anda
tidak mempunyai nurani dan rasa kemanusiaan terhadap keluarga korban.
Bagaimana jika anggota keluarga Anda yang mengalami hal seperti ini,
dan belum apa-apa diisu dengan berbagai cerita atau asumsi negatif
seperti ini?

Bahkan sekalipun, misalnya hal itu adalah benar, setahu saya seorang
psikolog memiliki etika profesi, yakni memegang teguh rahasia
terhadap hal-hal seperti ini. Apalagi korban sendiri sudah tidak
mungkin membela diri. Apa pula relevansi dan perlunya asumsi itu
diumumkan kepada para wartawan? Saya kira ini memang merupakan bagian
dari upaya sistematis untuk menyudutkan korban dan keluarganya dengan
maksud dan tujuan tertentu. Hal ini akan saya coba uraikan juga di
bawah.

Adalah langkah yang sangat tepat dan patut mendapat dukungan, ketika
kita mendengar dalam jumpa persnya, Kamis, 15 Oktober, di kantor
YLBHI, Jakarta, Koordinator Kontras, Munir, berkehendak untuk
mengadukan Sarlito kepada Ikatan Psikiater Indonesia, dan Ikatan
Dokter Indonesia. Sarlito memang sangat harus mempertanggungjawabkan
ucapannya itu. Saya mempredeksi bukan tak mungkin, ucapannya itu
malah akan menjadi bumerang bagi masa depan profesi psikolog tenar
itu. Peristiwa ini bisa jadi merupakan awal dari kehancuran
profesinya. Kebiasaan seminar-seminar yang mengundangnya sebagai
pembicara akan berkurang drastis, atau malah hilang sama sekali.

Terhadap kesimpulan Sarlito ini pun sendiri menimbulkan tanda tanya.
Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM, Hendardi, berpendapat bahwa
tidak ada hubungan kausal yang bisa disimpulkan antara ditemukannya
cedera pada anus korban dan tuduhan bahwa korban mempraktikkan
kehidupan seksual yang bebas. "Apalagi komersial. Ini sulit
dipertanggungjawabkan," katanya. (Majalah D&R No. 09, 17 Oktober
1998).

Memang jika kita mau sedikit berpikir, kesimpulan/asumsi psikolog
Sarlito itu, selain tidak etis juga terlampau lemah. Seperti yang
dikemukakan oleh Hendardi di atas, tidak terlihat adanya hubungan
kausal antara ditemukan cedera anus korban dan tuduhan bahwa korban
adalah seorang penjaja seks (pelacur). Apakah otomatis kalau ada
cedera pada anus korban dan adanya kandungan heroin pada air seni
korban, berarti dia adalah seorang penjaja seks komersial? Apakah
tidak ada kemungkinan lain bahwa cedera pada anus Ita, menunjukkan
sebenarnya dia adalah korban perkosaan, atau kekerasan seks lainnya --
entah itu terjadi pada bulan Mei ataukah bukan?

Sedangkan apabila saja benar Ita seorang pecandu heroin (sekali lagi
ini hanya misalnya saja -- mengingat dari berbagai keterangan dari
kenalan, tetangga, teman sekolah, dan gurunya, dan sosok fisiknya
sendiri, Ita termasuk seorang yang baik budi pekertinya dan sama
sekali tak ada tanda-tanda sebagai seorang pecandu obat-obat
terlarang), -- tidak bisa langsung dikaitkan bahwa dia adalah seorang
penjaja seks. Bisa saja heroin itu diperoleh dari uang yang diperoleh
dari orangtuanya. Bukankah Ita mampu juga membeli ratusan buku cerita
koleksinya?

Anda mungkin mengatakan bahwa untuk membeli heroin itu memerlukan
uang yang banyak, dari mana Ita bisa memperoleh uang yang banyak.
Maka Anda harus juga menjawab pertanyaan ini, apakah Anda mengetahui
berapa jumlah uang yang dimiliki/diperoleh Ita? Dan sudah seberapa
jauh dan seberapa lama Ita kecanduan heroin sehingga memerlukan uang
dalam jumlah tertentu yang tidak bisa dicukupi dengan uang yang ada
di tangannya? Lagi pula seseorang yang sudah kecanduan obat-obatan
terlarang, saya kira sudah tidak akan perduli lagi dengan membeli
buku-buku cerita (anak-anak) untuk dikoleksi, sebagaimana dilakukan
Ita. Pertanyaan yang harus Anda jawab dan buktikan juga adalah apakah
dalam kehidupan sehari-harinya, ada indikasi perilaku tak lazim dari
Ita yang bisa membuat orang berkesimpulan bahwa dia bukan seorang
perempuan baik-baik? Jangan langsung saja melompat dan mencopot
begitu saja sebuah kesimpulan yang tidak berdasar, seperti yang
dilakukan psikolog Sarlito itu. Pernyataan seperti itu sangat tidak
pantas diucapkan oleh seorang psikolog. Apalagi sekaliber Sarlito.

Ditemukan kandungan heroin pada air seni korban, malah membuat saya
curiga. Jangan-jangan ini juga merupakan bagian dari hasil rekayasa
dari (para) pelaku pembunuhan Ita. YAKNI SEBELUM MEMBUNUHNYA,
TERLEBIH DAHULU PELAKU (SEBENARNYA) MENYUNTIKKAN HEROIN KE DALAM
TUBUH ITA! Dengan maksud apabila dilakukan otopsi, ditemukan
kandungan heroin tersebut, dan Ita bisa dicurigai sebagai seorang
pemadat. Dan nanti terciptalah cerita-cerita negatif atas diri
korban, yang akan semakin menyudutkan keluarganya, tim relawan,
maupun pihak lain yang menaruh simpatik. Sesuai dengan skenario yang
telah disusun lebih dulu. Sebelum "operasi pembunuhan" itu dimulai!

Sebenarnya tindakan polisi melibatkan secara langsung psikolog, Prof.
Dr. Sarlito Wirawan Sarwono dalam kasus ini pun menimbulkan tanda
tanya tersendiri. Apakah sebenarnya peran dan relevansi, atau
sedemikian pentingnya dilibatkan seorang psikolog di sini? Kecuali
jika pelaku pembunuhan diduga mengalami sakit jiwa dan perlu
didampingi oleh seorang psikolog semacam Sarlito. Ini pun biasanya
untuk membantu polisi memperoleh keterangan dan penjelasan dari
pelaku pembunuhan, atau memberi advis kepada polisi tentang kondisi
kejiwaan pelaku. Yang terjadi, belum apa-apa, sejak awal Sarlito
telah dilibatkan. Sedangkan Otong, yang dikatakan polisi sebagai
pelaku pembunuhan itu, tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan jiwa.
Lalu, apa perlunya seorang psikolog di sini?

Atau demi menentramkan keluarga korban yang terpukul bathinnya
karena mengalami peristiwa yang sedemikian tragis, seorang psikolog
dipanggil untuk mendampingi mereka. Memberi ketentraman terhadap jiwa
yang terpukul. Halmana sebenarnya pun tidak bisa diterima. Karena
pertama, peran itu sama sekali tidak dilakukan oleh Sarlito, dan
kedua, keluarga korban, khususnya orangtuanya, cukup tegar menerima
tragedi tersebut. Dengan kata lain mereka tidak membutuhkan seorang
psikolog, sebagai pedamping. Lalu, apa perlunya seorang psikolog di
sini?

Yang terjadi malah sebaliknya, seperti yang dikatakan di atas, belum
apa-apa, psikolog Sarlito justru mengeluarkan suatu pernyataan yang
tentunya sangat menyakitkan bagi keluarga korban, yakni bahwa Ita
adalah seorang penjaja seks komersial, atau kasarnya pelacur!

Seperti yang sudah saya singgung di atas, kita layak curiga, bahwa
pernyataan-pernyataan seperti ini, bukan tidak mungkin merupakan
bagian dari upaya sistematis untuk mengdiskreditkan korban dan
keluarganya. Agar masyarakat kehilangan simpatik, dan tidak menaruh
curiga bahwa pembunuhan tersebut merupakan teror terhadap tim
relawan!

Pernyataan ahli forensik, dr. Abdul Mun'im Idries, kepada para
wartawan tentang hasil otopsinya pun saya nilai kurang etis. Bahkan
bukan tidak mungkin pula ini juga merupakan bagian dari upaya untuk
mendiskreditkan korban dan keluarga korban, sebagaimana dilakukan
oleh psikolog Sarlito.

Apakah hasil otopsinya bahwa korban tidak perawan lagi sejak sekitar
tiga tahun lalu dan memiliki kebiasaan anal seks selama bertahun-
tahun, sedemikian pentingnya sampai harus diumumkan secara terbuka
kepada media massa, dengan hanya berselang dua hari sejak ditemukan
korban tewas terbunuh, yang nota bene keluarga korban masih merasa
terpukul dan menderita duka cita yang sangat dalam? Apakah sedemikian
pentingnya pengungkapan tersebut, sampai sedemikian teganya hal ini
dilakukan, tanpa memperhitungkan bagaimana perasaan keluarga korban,
ketika almarhum anaknya itu divonis seperti itu?

Rekayasa dan Tekanan terhadap Keluarga Korban?

Pernyataan-pernyataan kedua pakar ini selain terkesan tidak etis,
juga terasa tidak lazim. Seolah-olah ada maksud tersembunyi di
dalamnya. Pertanyaan yang timbul adalah, mengapa justru kehormatan
Ita -- yang sudah tidak mungkin melakukan pembelaan diri -- diserang
secara begitu bertubi-tubi? Bukannya tindakan-tindakan, atau upaya-
upaya untuk mengungkapkan kasus tersebut secara lebih terbuka?
Perhatiannya bukan pada pembunuhnya, tetapi justru kepada kehidupan
negatif pribadi korban (Ita). Terasa ada "sesuatu" di sini.

Fenomena seperti ini memang mirip dengan kasus-kasus pembunuhan
lainnya, yang kemudian ditengarai/terbukti merupakan suatu hasil
rekayasa. Misalnya kasus pembunuhan peragawati Ditje, yang justru
mengungkapkan sisi gelap dari almarhum Ditje, yang katanya sebagai
pelacur kelas tinggi. Kemudian dalam perkembangannya ada indikasi
bahwa tertuduh pelaku pembunuhnya, Pak De, hanya merupakan kambing
hitam/tumbal.

Kemudian ada kasus Marsinah, yang seperti dikatakan oleh anggota
Komnas Antikekerasan terhadap Perempuan, Taty Krisnawaty, bahwa
ketika jenazah Marsinah ditemukan, yang pertama dicari adalah surat
cinta, hubungan gelap Marsinah dengan siapa saja, hubungan intim
dengan pamannya, maka pada minggu pertama pemberitaan Marsinah,
misleading seolah-olah itu suatu kehidupan pribadi korban.

Contoh lain adalah pada kasus terbunuhnya wartawan Bernas, Udin, yang
sempat direkayasa polisi sebagai ada kaitannya dengan kasus
perselingkuhan antara pembunuhnya, Iwik (versi polisi) dengan istri
Udin. Meskipun secara tegas istri Udin telah membantah berulang-ulang
semuanya itu, polisi secara luar biasa bersikukuh dengan "temuannya"
itu, dan terus menjalankan rekayasa kotornya, meskipun banyak pihak
tidak mempercayainya. Yang menjadi korban justru istri almarhum Udin,
yang merasa terteror mentalnya, sampai menderita sakit karena depresi
hebat. Meskipun akhirnya polisi gagal melaksanakan rekayasanya
sampai tuntas, dan Iwik dibebaskan, kasus itu sendiri sampai sekarang
masih tertutup misteri. Pembunuh sebenarnya masih bebas berkeliaran,
dan tak ditangani yang berwajib.

Kembali dengan permasalahan almarhum Ita di atas.

Jawaban yang mungkin dari pertanyaan tersebut di atas, adalah memang
ada niat untuk mengdiskreditkan Ita, maupun keluarganya. Dengan
maksud untuk mematahkan opini publik bahwa Ita adalah seorang
pahlawan aktivis dari tim relawan, yang sekaligus sangat berpotensi
semakin menyudutkan pemerintah yang selama ini masih enggan untuk
mengungkapkan peristiwa perkosaan Mei.

Kalau sampai tersebar berita bahwa Ita, seorang aktivis tim relawan,
tewas terbunuh, sebagai bentuk teror terhadap tim relawan. Apalagi
dikait-kaitkan dengan adanya rencana almarhum beserta anggota tim
relawan lainnya, untuk mendampingi korban perkosaan Mei untuk memberi
kesaksian di Kongres AS. Lebih-lebih lagi ada kecurigaan justru
almarhum adalah korban perkosaan itu sendiri (yang akan memberi
kesaksian), maka itu dihabisi oleh pihak-pihak tertentu. Tentu saja
hal ini akan semakin menyudutkan pemerintah yang sampai sekarang
belum mau mengakui adanya perkosaan massal atas perempuan-perempuan
etnis Cina dalam kerusuhan Mei lalu.

Sebaliknya, dengan jatuhnya korban jiwa di pihak tim relawan, dengan
sendirinya tim relawan "berada di atas angin," karena terbukti bahwa
perkosaan massal itu memang benar adanya. Sehingga pelaku/dalangnya,
yang selama ini melakukan teror terhadap tim relawan, merasa perlu
menghabisi salah satu dari mereka, untuk mewujudkan ancaman mereka
selama ini. Atau untuk menunjukkan bahwa ancaman/teror mereka selama
ini, bukan main-main. Sekaligus merupakan peringatan keras kepada tim
relawan yang lain. Jika perkosaan massal yang diduga dilakukan secara
sistematis itu memang tidak ada, maka untuk apa teror itu dilakukan?
Apalagi sampai membunuh.

Jika ini yang terjadi tentu dampak politiknya bagi pemerintah
Indonesia akan sangat merugikan. Oleh karena itulah pihak kepolisian
bertindak cepat. Kapolda Metro Jaya Mayjen Noegroho Djajusman dan
Kaditserse Polda Metro Jaya, Kolonel Gories Mere, langsung turun ke
lapangan. Dan keesokan harinya, pada hari Sabtu malam, Noegroho
Djajusman sampai melakukan konferensi pers dua kali, yang antara lain
isinya membantah bahwa Ita dan ibunya adalah anggota tim relawan,
serta pembunuhan tersebut adalah peristiwa kriminal murni, bukan
politik yang dikaitkan dengan perkosaan Mei 1998. Bahkan hari Sabtu
siang pihak kepolisian merasa perlu untuk mendatangi sekolah Ita,
untuk memberi keterangan bahwa Ita bukan korban perkosaan Mei.

Mengantisipasi semua kemungkinan ini, pihak kepolisian bergerak cepat
untuk menutupinya. Termasuk dengan memperalat kedua pakar itu
(mungkin juga karena ditekan), untuk membeberkan kepribadian negatif -
- yang entah benar ataukah tidak -- dari korban. Dengan maksud
menciptakan imaji pada masyarakat bahwa korban bukan perempuan baik-
baik, yang layak dijadikan "pahlawan" kemanusiaan.

Tidak hanya itu saja. Seolah-olah tidak mau tahu dengan perasaan duka
keluarga korban, keesokkan harinya malah ayah Ita, dipanggil polisi
untuk diperiksa (kemudian tak jadi), serta beredarnya isu (yang
diduga dilakukan oleh polisi), bahwa ayah Ita sendiri, Leo, yang
telah melakukan sodomi terhadap anaknya sendiri!! Bentuk-bentuk
seperti inilah yang semakin membuat orang curiga bahwa pola-pola
perilaku polisi yang dipakai dalam kasus-kasus pembunuhan semacam
kasus Udin, seperti yang saya singgung di atas, kembali dipakai di
sini lagi.

Ada juga indikasi keluarga korban juga mendapat tekanan dari
kepolisan. Hal ini terlihat dengan berubahnya keterangan keluarga
korban tentang kegiatan mereka di tim relawan. Semula Ny. Wiwin, ibu
kandung korban, mengakui kepada wartawan -- seperti juga yang
dituturkan beberapa anggota tim relawan (Karlina Leksono dan Romo
Sandyawan), -- bahwa dia, dibantu Ita, juga cukup aktif di tim
relawan di bagian posko Budha untuk menangani korban perkosaan.
Bahkan menurut Romo Sandyawan, Ny. Wiwin dan Ita dinilainya sangat
aktif, bahkan terkesan berlebihan. Ita sendiri kelihatan seperti
terkena depresi, sehingga diduga sebenarnya adalah salah satu korban
perkosaan itu sendiri. Kepada Romo Sandyawan, Ny. Wiwin sempat
mengeluh. Dia curiga teleponnya telah disadap, sejak diketahui aktif
di tim relawan.

Bahkan kepada wartawan DeTAK, Ny. Wiwin yang didampingin suaminya,
mengatakan sebenarnya dia sudah ingin berhenti karena mendengar teman-
temannya sering diteror. Tetapi keinginan itu urung karena merasa
tenaganya sangat dibutuhkan (DeTAK No. 014, 13-19 Oktober 1998).

Nah, kenapa kemudian tiba-tiba keadaan berubah 180 derajat? Sekarang,
muncul bantahan dari keluarga korban bahwa mereka adalah bagian, atau
aktif di tim relawan itu. Apalagi bantahan yang berwujud keterangan
pers oleh kakak kandung almarhum Ita, dilakukan setelah terlihat
pembicaraan serius antara kakak korban itu, Happy Suryadinata dengan
Gories Mere, dan setelah dia dipanggil ke kantor polisi? Bukan tidak
mungkin mereka ini juga telah mendapat tekanan dari kepolisian untuk
membantah bahwa mereka adalah bagian dari tim relawan, dan sekaligus
membantah bahwa Ita adalah korban perkosaan Mei. Happy juga
membantah bahwa ibunya (bersama Ita) mempunyai rencana ke AS untuk
mendampingi korban perkosaan. Semuanya agar sesuai kehendak polisi?
Atau kehendak pihak ketiga, yang bermain di belakang layar?

Mungkin Anda berpikir bahwa saya terlalu mendramatisir kasus ini.
Tetapi apabila kita melihat beberapa kejadian sejak ditemukan mayat
Ita di kamarnya, oleh ayahnya, sampai dengan jumpa pers yang
dilakukan oleh pihak kepolisian, maupun keluarga korban, tak bisa
dipungkiri terasa ada beberapa hal yang misterius, dan terasa
janggal. Yang bisa membawa kita ke kesimpulan sebagaimana saya
sebutkan di atas.

Kejanggalan-Kejanggalan

Yang pertama kali membantah bahwa korban, maupun keluarga korban
adalah bagian dari tim relawan, justru datang dari Kepolisian. Bahkan
dalam pernyataan tersebut seolah-olah antara keluarga korban dengan
tim relawan, tidak mempunyai hubungan apa-apa, atau lebih jauh lagi
tidak saling mengenal. Suatu hal yang bertentangan dengan keterangan
dari beberapa anggota tim relawan yang dihubungi wartawan, sebelum
keterangan dari pihak kepolisian itu ada.

Hal ini terasa sangat aneh, karena seperti yang dituturkan oleh Ny.
Wiwin, dan sumber lain, ketika mengetahui anaknya tewas terbunuh, dia
panik dan berteriak-teriak kepada tetangganya. Setelah itu dia orang
pertama yang dihubungi lewat telepon adalah Romo Sandyawan. Ketika
berhasil menghubungi Romo Sandyawan, hanya satu kalimat yang
dilontarkannya kepada Romo: "Ita terbunuh!" Setelah itu baru polisi
dihubungi. Jika mereka tidak mempunyai hubungan khusus, masuk akalkah
Ny. Wiwin dalam keadaan panik begitu menghubungi (pertama kali) Romo
Sandyawan, untuk memberitahu Ita terbunuh? Kedatangan Romo dengan
polisi ke tempat kejadian pun hampir bersamaan waktunya.

Beberapa kejanggalan yang bisa dibeberkan di sini, seperti:

#1. Leo, ayah korban, yang pertama kali menemukan mayat anaknya,
mengatakan bahwa posisi mayat Ita telungkup, dan dalam keadaan
telanjang bulat. Sedangkan menurut keterangan dr. Abdul Mun'im Idries
hasil otopsi mengatakan bahwa ketika terbunuh Ita mengenakan pembalut
wanita.

#2. Dalam keterangannya, Kapolda Metro Jaya, Mayjen Noegroho
Djajusman, mengatakan bahwa nama Ita tidak terdapat dalam daftar
korban pemerkosaan Mei di Polda Metro Jaya. Padahal selama ini pihak
kepolisian selalu mengatakan tidak menemukan satu pun korban
perkosaan. Apakah dia kelepasan omong, bahwa ternyata selama ini diam-
diam polisi sebenarnya sudah menemukan dan mempunyai daftar nama
korban-korban perkosaan Mei? Lalu mengapa sampai detik ini polisi
masih tetap menyangkalnya? Apakah polisi juga sedang mendapat tekanan
dari kekuatan lain, sebagaimana dalam kasus penculikan dulu (contoh:
kasus Andi Arief).

Penyangkalan secara tak langsung adanya kasus perkosaan Mei, kembali
disampaikan oleh Kapolri, Letjen Roesmanhadi, dalam sebuah jumpa pers
tentang pembunuhan Ita, hari Selasa, 13 Oktober lalu.

Kapolri menjelaskan, ia pernah mendapat informasi dari seorang korban
perkosaan bulan Mei 1998 lalu, yang menginginkan bertemu Kapolri
langsung untuk memberikan kesaksian tentang kasus itu. "Orang yang
ngasih tahu itu, jelas tampak serius akan memberikan kasus korban
perkosaan ini. Tapi kenyataanya setelah kami tunggu-tunggu hingga
saat sekarang, ternyata tidak muncul," kata Roesmanhadi, sambil
menegaskan, penyelidikan kasus kejahatan apa saja harus ada buktinya.
Sampai sekarang polisi belum menemukan itu.

Di sini kelihatan adanya kontradiksi antara pernyataan dari Kapolda
Metro Jaya dengan pernyataan dari Kapolri.

#3. Dalam memberi keterangannya kepada wartawan, Otong, yang
dikatakan polisi sebagai pembunuh Ita, sangat lancar menuturkan semua
proses ketika dia membunuh Ita. Padahal sebelumnya dia bukan seorang
penjahat, apalagi pembunuh, yang sudah biasa melakukan hal seperti
itu. Ekspresi orang yang pertama kali melakukan pembunuhan, biasanya
kelihatan nervous. Hal ini sama sekali tidak kelihatan pada Otong.
Apakah dia sebelumnya telah digarap, dilatih untuk memberi keterangan
seperti itu? Sehingga kelihatan begitu tenang dan lancar menutur
semua kejadian itu?

#4. Otong mengatakan, ketika dia hendak mencuri di rumah Ita, di
kepergok Ita. Karena kalap dan takut dia mengejar Ita sampai ke
kamarnya dan membunuhnya. Setelah menusuk Ita dengan pisau kecil,
Otong turun ke dapur mengambil pisau daging untuk menggorok leher
Ita. Dia juga masih sempat melakukan, onani di dalam kamar di dekat
mayat Ita. Ada sekitar satu jam dia berada di rumah tersebut, setelah
berhasil membunuh Ita.

Yang menjadi pertanyaan di sini adalah: Otong mengatakan dia
tertangkap basah ketika hendak mencuri, menjadi takut dan kalap,
mengejar dan kemudian membunuh Ita di kamarnya. Setelah itu berada
sekitar satu jam di rumah itu. Apakah masuk akal seseorang yang takut
karena sudah tertangkap basah, setelah membunuh, malah masih bisa
betah berada di tempat kejadian selama sekitar satu jam? Tanpa takut
kepergok lagi? Secara normal, orang yang kepergok seperti itu,
biasanya akan gugup, melarikan diri, atau membunuh saksi mata,
setelah itu langsung meninggalkan tempat kejadian. Kecuali jika dia
seorang pembunuh profesional, yang setelah menghabisi korbannya masih
bisa bersikap tenang, dan berlama-lama di tempat kejadian. Otong
malah masih sempat turun ke lantai bawah,mengambil pisau daging untuk
menggorok leher Ita sampai hampir putus.

Otong juga mengatakan bahwa dia melakukan onani. Oleh karena itulah
Leo mengaku menemukan sperma kering di dekat mayat Ita. Sedangkan
pihak kepolisian semula membantah temuan Leo itu. Maksud polisi
membantah hal itu dengan maksud untuk mendukung pernyataan
sebelumnya, bahwa tidak ada tanda-tanda pemerkosaan pada Ita.
Bantahan kepolisian ini jelas bertentangan dengan apa yang dituturkan
Otong sendiri.

#5. Sewaktu melakukan pemeriksaan awal, dr. Abdul Mun'im Idries,
kepada wartawan mengatakan, sebelum meninggal Ita mengalami kekerasan
seksual, yaitu persetubuhan secara paksa. Dia mengatakan waktu
itu, "Saya tidak mengatakan perkosaan, karena perkosaan harus ada
saksi mata." Hasil pemeriksaan ini dibantah oleh Gories Mere, ketika
memberikan keterangan pers di Mapolda (11/10). Gories
mengatakan, "Saya baru berbicara dengan Mun'im sepuluh menit lalu dan
dia membatalkan pernyataannya itu." (DeTAK No. 014, 13-19 Oktober
1998). Keterangan ahli forensik tenar ini, sebenarnya sejalan dengan
kesaksian ayah Ita, bahwa dia menemukan mayat anak perempuannya itu
dalam keadaan telanjang bulat, dan ada sprema kering di dekatnya.
Mengapa kok kemudian polisi berupaya meniadakan fakta-fakta ini?
Malah kok bisa-bisanya, Gories mempengaruhi dokter Mun'im
untuk "meralat" keterangannya itu?

#6. Semula polisi mengatakan bahwa tidak barang yang hilang dalam
kejadian pembunuhan itu. Gorie Mere sendiri mengatakan di hari
pertama kejadian, pembunuhan itu bukan berlatar belakang perampokan,
karena tidak ada barang yang hilang. Tetapi kemudian setelah Otong
berhasil ditangkap, ditemukan bahwa Otong ternyata membawa beberapa
barang Ita , seperti perhiasan imitasi , BH, penyemprot ruangan dan
barang lainnya yang nilainya tak seberapa. Padahal dompet Ita yang
berisi uang Rp. 130.000 tetap ada di atas meja di dalam kamar
tersebut. Mengapa Otong tidak mengambil dompet yang berisi uang cukup
banyak tersebut, atau barang-barang lain yang jauh lebih berharga?
Bukankah dia mempunyai cukup banyak waktu (sekitar satu jam) berada
di situ.

#7. Tanpa memberitahu dan tanpa tanda terima polisi menyita semua
barang yang ada di dalam kamar ditemukan mayat Ita. Apakah ini
merupakan upaya penghilangan jejak sebenarnya oleh polisi?

#8. Sebelum mayat Ita dibawa untuk diotopsi di RSCM, diketahui bahwa
beberapa aparat kepolisian menghampiri penduduk sekitar, dan
menceritakan bahwa almarhum ternyata sering melakukan seks anal
(sodomi)

Pertanyaan dan kejanggalan-kejanggalan seperti di atas yang perlu
segera dijawab oleh yang berwenang, agar masyarakat tidak menaruh
curiga bahwa perististiwa pembunuhan tersebut berlatar belakang
politik, yakni berkaitan erat dengan kasus perkosaan massal Mei 1998,
dan teror-teror yang selama ini ditujukan kepada anggota-anggota tim
relawan. Bukankah hanya hanya berselang satu hari dari kejadian
tersebut, anggota tim relawan lainnya, Ny. Hajjah Sundus Aminah
Salim, juga terkena teror, berupa telepon yang berisi ancaman
seksual. Kemudian rumahnya dijebol perampok, setelah sebelumnya
kelihatan ada orang mencurigakan yang terus-menerus mengawasai
rumahnya. Setelah ditegur orang itu berlalu begitu saja, tanpa
mengeluarkan sepatah kata pun.

Demikian pula dua hari sebelumkejadian teror terhadap tim relawan
terasa meningkat tajam. Mereka yang mempunyai anak perempuan diancam
akan diperkosa dan dibunuh, seperti yang dialami oleh Karlina Leksono
dan Ny. Hajjah Sundus.

Kapolri Mengancam (Lagi)

Seperti yang sudah pernah dilakukan, Kapolri, Letjen Drs Roesmanhadi,
yang ikut berbicara dalam kasus ini, sudah memberi ancamannya lagi,
bahwa pihak kepolisian akan menuntut siapapun yang menyebarkan berita
(bohong) bahwa pembunuhan Ita berlatarbelakang politik.

"Kasus kematian Ita adalah kriminal murni, tidak ada muatan politik.
Barang siapa yang sengaja membesar-besarkan kasus ini tanpa ada fakta
yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, jelas akan kami tuntut.
Polri sangat berkewajiban memberikan bukti yang pasti, jelas dan
benar dalam kasus ini," kata Kapolri kepada wartawan media cetak dan
elektronika, seusai acara Sekolah Komando, yang diikuti perwira se-
Garnisun Ibukota, di Senayan, Jakarta Pusat, Senin (12/10) siang .

Kapolri menilai kasus kematian Ita, yang berdasarkan bukti di
lapangan tidak ada unsur lain, tapi murni kriminal. Yang jelas, ada
kelompok tertentu yang sengaja membesar-besarkan masalah meninggalnya
Ita, sehingga seolah- olah hasil rekayasa. Guna mempertanggung-
jawabkan berita bohong itu, siapa saja orangnya yang menyebarkan hal
itu akan dituntut Polri. Penyelidikan kasus tewasnya pelajar SMU
Paskalis Jakarta Pusat ini, menurut Mayjen Pol Drs Roesmanhadi, benar-
benar bisa dibuktikan mulai dari pengakuan tersangka, barang bukti
hingga keterangan saksi di lapangan. (Suara Pembaruan, Selasa, 13
Oktober 1998)

Walaupun tidak dijelaskan secara gamblang siapa yang dimaksud sebagai
penyebar "berita bohong" itu, kita semua sama tahu bahwa yang
dimaksud adalah tim relawan, seperti Romo Sandyawan, Karlina Leksono,
dan lain-lain. Nah, mengapa Kapolri tidak langsung saja menangkap
mereka? Ini kok mengancam saja terus? Padahal sampai hari ini (Kamis,
15 Oktober 1998), mereka masih berbicara kepada wartawan bahwa mereka
lebih percaya kasus pembunuhan tersebut memang berbuatan politik, dan
bukan kriminal murni sebagaimana ngotot dipertahankan pihak
kepolisian. Seperti yang diutarakan oleh Romo Sandyawan kepada para
wartawan seusai jumpa pers di kantor YLBHI, Kamis, 15 Oktober 1998
bahwa pembunuhan Ita tidak bisa dilepas dari teror-teror yang
belakangan ini kian gencar dilakukan terhadap tim relawan.

Di sini, diuji pula kesungguhan janji pihak keamanan, khususnya
Pangab/Menhankam, Jenderal Wiranto, bahwa ABRI akan senantiasa
melindungi anggota tim relawan dan keluarganya.

Apakah ancaman-ancaman dari Kapolri ini hanya merupakan upaya untuk
menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya? Apabila para relawan itu
benar-benar ditangkap, dan diadili di pengadilan negeri, bisa jadi
apa yang hendak ditutup-tutupi itu malah menjadi terkuak lebar. Di
samping tentu saja dampak politisnya terlalu besar. Tetapi jika pihak
kepolisian yakin seyakin-yakinnya bahwa semua yang diutarakan oleh
tim relawan itu adalah bohong besar, -- atau seperti yang pernah
diutarakan oleh Menpen, Yunus Yosfiah, -- semua itu hanya merupakan
isapan jempol, maka pihak kepolisian (pemerintah), tentu berada pada
posisi yang kuat. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk melakukan
proses hukum tersebut. Mengapa justru itu tidak dilakukan? Apakah
karena memang ada "apa-apa"-nya di belakang semua itu.***

Salam
Lion

sumber :http://www.apakabar.ws/forums/viewtopic.php?p=9520&sid=a5b2bcbe5f7813f05471a29d419a51b5