HUKUM SEPUTAR RIBA

RIBA

Definisi Riba
Secara Bahasa
Secara literal, al-ribâ bermakna al-ziyâdah (tambahan). Menurut Imam Thabariy, makna asal dari riba adalah al-ziyadah wa al-inaafah (tambahan atau kelebihan). Al-irbaa’ adalah al-ziyadah ‘ala al-syai’ (tambahan yang dikenakan di atas sesuatu). Jika dinyatakan irbay fulaanun ila fulaanin (seseorang meriba orang lain), maksudnya adalah idzaa zaada ‘alaihi (jika ia mengenakan tambahan terhadap orang tersebut). Rabay al-syai’ maksudnya adalah idzaa zaada maa kaana ‘alaihi fa ‘adzuma (jika seseorang menambahkan lebih dari seharusnya, kemudian membesar).
Imam al-Jurjaniy di dalam Kitab al-Ta’riifaat menyatakan; secara bahasa riba bermakna al-ziyadah (tambahan). Sedangkan menurut syariat, riba adalah fadl khaal min ‘iwadl syuritha li ahad al-‘aaqidain (kelebihan yang tidak disertai dengan kompensasi yang disyaratkan pada salah satu orang yang menandatangani akad).
Imam al-Manawiy di dalam Kitab al-Ta’aariif mengatakan; menurut pengertian bahasa, riba bermakna ziyadah (tambahan). Sedangkan menurut pengertian syariat, riba adalah ‘aqad atas sebuah kompensasi yang tidak ketahui kesesuaiannya dalam timbangan syariat, baik ketika dilakukan aqad, atau diakhirkannya dua barang yang hendak ditukarkan, atau salah satunya. Ini adalah definisi riba menurut Madzhab Syafiy .

Abu Ishaq di dalam Kitab al-Mubadda’ menyatakan; secara bahasa, riba bermakna ziyadah. Ini didasarkan pada firman Allah swt surat al-Hajj:5. Imam al-Bahutiy menuturkan di dalam Kitab al-Raudla al-Murbi’; secara literal, riba bermakna al-ziyadah.
Ibnu Qudamah di dalam Kitab al-Mughniy menyatakan, secara bahasa, riba bermakna al-ziyadah . Di dalam Kitab I’anat al-Thalibin, Imam al-Dimyati menyatakan; secara literal riba bermakna ziyadah.
Imam Syaukaniy menyatakan --mengutip pendapat al-Hafidz Ibnu Hajar--, “Makna asal dari riba adalah al-ziyaadah (tambahan), baik pada sesuatu itu sendiri, seperti firman Allah swt, “

: فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ
"Kemudian apabila telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah (QS al-Hajj: 5); maupun pada pertukaran (muqabilah) seperti pertukaran uang satu dirham dengan dua dirham.
Di dalam kitab Durur al-Hukkaam Syarh Ghurur al-Ahkaam dinyatakan, riba menurut bahasa bermakna al-fadl (kelebihan). Menurut Ibnu Juraij, riba kadang-kadang disebutkan untuk semua praktek jual beli yang diharamkan oleh syariat, dan lafadz riba memiliki hakekat syar’iyyah .

Riba Menurut Istilah Ulama
Ibnu Qudamah di dalam Kitab al-Mughniy menyatakan; secara literal, riba bermakna al-ziyadah (tambahan). Sedangkan menurut syariat, riba adalah tambahan pada sesuatu tertentu .
Imam Ibnu al-‘Arabiy mendefinisikan riba dengan; semua tambahan yang tidak disertai dengan adanya pertukaran kompensasi.
Imam Suyuthiy dalam Tafsir Jalalain menyatakan, riba adalah tambahan yang dikenakan di dalam mu’amalah, uang, maupun makanan, baik dalam kadar maupun waktunya .
Di dalam kitab al-Mabsuuth, Imam Sarkhasiy menyatakan bahwa riba adalah al-fadllu al-khaaliy ‘an al-‘iwadl al-masyruuth fi al-bai’ (kelebihan atau tambahan yang tidak disertai kompensasi yang disyaratkan di dalam jual beli). Di dalam jual beli yang halal terjadi pertukaran antara harta dengan harta. Sedangkan jika di dalam jual beli terdapat tambahan (kelebihan) yang tidak disertai kompensasi, maka hal ini bertentangan dengan perkara yang menjadi konsekuensi sebuah jual beli, dan hal semacam ini haram menurut syariat.
Pengarang kitab Durur al-Hukkaam Syarh Ghurur al-Ahkaam menyatakan; menurut pengertian syariat, riba bermakna fadl ahad al-mutajaanisain ‘ala al-aakhar bi al-mi’yaar al-syar’iy khaaliyan ‘an ‘iwadl (kelebihan yang dikenakan atas salah satu dari dua benda yang sejenis dalam ukuran syar’iy yang tidak menyertakan adanya pertukaran kompensasi).
Di dalam Kitab al-‘Inayah Syarh al-Hidayah disebutkan; riba menurut istilah adalah al-fadl al-khaaliy ‘an al-‘iwadl al-masyruuth fi al-bai’ (kelebihan yang tidak disertai dengan kompensasi yang disyaratkan di dalam transaksi jual beli).
Dalam Kitab al-Jauharah al-Naiyyirah, disebutkan; secara bahasa, riba bermakna al-ziyadah (tambahan). Sedangkan menurut syariat, riba adalah aqad bathil dengan sifat tertentu, sama saja apakah di dalamnya ada tambahan maupun tidak. Perhatikanlah, anda memahami bahwa jual beli dirham dengan dirham yang pembayarannya ditunda adalah riba; dan di dalamnya tidak ada tambahan .
Di dalam Kitab Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaaj, disebutkan; riba menurut bahasa Arab bermakna al-ziyadah; seperti firman Allah swt, “ihtizzat wa rabat” ; yakni tumbuh dan bertambah. Sedangkan menurut syariat, riba adalah ‘aqd ‘ala ‘iwadl makhshuush ghairu ma’luum al-tamaatsul fi mi’yaar al-syar’ haalat al-‘aqd au ma ta`khiir fi al-badalain au ahadihimaa” (aqad atas sebuah kompensasi tertentu yang tidak diketahui kesesuaiannya dalam timbangan syariat, baik ketika aqad itu berlangsung maupun ketika ada penundaan salah satu barang yang ditukarkan) .
Dalam Kitab Hasyiyyah al-Bajiiramiy ‘ala al-Khathiib disebutkan; riba menurut bahasa adalah al-ziyadah (tambahan). Allah swt berfirman, “ihtazzat wa rabat”, yakni, zaadat wa namat (bertambah dan tumbuh). Sedangkan menurut syariat, riba adalah ‘aqd ‘ala ‘iwadl makhshuush ghairu ma’luum al-tamaatsul fi mi’yaar al-syar’ haalat al-‘aqd au ma ta`khiir fi al-badalain au ahadihimaa” (aqad atas sebuah kompensasi tertentu yang tidak diketahui kesesuaiannya dalam timbangan syariat, baik ketika aqad itu berlangsung maupun ketika ada penundaan salah satu barang yang ditukarkan, maupun keduanya)”. Riba dibagi menjadi tiga macam; riba fadlal, riba yadd, riba nasaa` . Pengertian riba semacam ini juga disebutkan di dalam Kitab Mughniy al-Muhtaaj ila Ma’rifat al-Faadz al-Minhaaj.
Di dalam Kitab Syarah Muntahiy al-Idaaraat, disebutkan bahwa riba, menurut syariat adalah al-tafaadlul fi al-syai’ (melebihkan pada sesuatu) .
Menurut Abu Ishaq, riba menurut bahasa bermakna ziyadah (tambahan), sedangkan menurut pengertian syariat, ziyadah fi syai` makhshuush (tambahan yang dikenakan pada sesuatu tertentu) .
Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhaniy dalam Kitab al-Nidzam al-Iqtishaadiy fi al-Islaam, mendefinisikan riba sebagai berikut; perolehan harta dengan harta lain yang sejenis dengan saling melebihkan antara satu dengan yang lain . Definisi yang lebih luas, riba adalah tambahan yang didapatkan dari beberapa jenis transaksi yang ditentukan syara’. Riba bisa terjadi dalam jual-beli, qardh (utang-piutang), dan salam.

Hukum Riba
Seluruh ‘ulama sepakat mengenai keharaman riba, baik yang dipungut sedikit maupun banyak. Seseorang tidak boleh menguasai harta riba; dan harta itu harus dikembalikan kepada pemiliknya, jika pemiliknya sudah diketahui, dan ia hanya berhak atas pokok hartanya saja.
Di dalam Kitab al-Mughniy, Ibnu Qudamah mengatakan, “Riba diharamkan berdasarkan Kitab, Sunnah, dan Ijma’. Adapun Kitab, pengharamannya didasarkan pada firman Allah swt,”Wa harrama al-riba” (dan Allah swt telah mengharamkan riba) (Al-Baqarah:275) dan ayat-ayat berikutnya. Sedangkan Sunnah; telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda, “Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan”. Para shahabat bertanya, “Apa itu, Ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita-wanita Mukmin yang baik-baik berbuat zina”. Juga didasarkan pada sebuah riwayat, bahwa Nabi saw telah melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]...Dan umat Islam telah berkonsensus mengenai keharaman riba.”
Imam al-Syiraaziy di dalam Kitab al-Muhadzdzab menyatakan; riba merupakan perkara yang diharamkan. Keharamannya didasarkan pada firman Allah swt, “Wa ahall al-Allahu al-bai` wa harrama al-riba” (Allah swt telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba)[Al-Baqarah:275], dan juga firmanNya, “al-ladziina ya`kuluuna al-riba laa yaquumuuna illa yaquumu al-ladziy yatakhabbathuhu al-syaithaan min al-mass” (orang yang memakan riba tidak bisa berdiri, kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan setan)”. [al-Baqarah:275].....Ibnu Mas’ud meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”. [HR. Imam Bukhari dan Muslim]
Imam al-Shan’aniy di dalam Kitab Subul al-Salaam mengatakan; seluruh umat telah bersepakat atas haramnya riba secara global .
Di dalam Kitab I’aanat al-Thaalibiin disebutkan; riba termasuk dosa besar, bahkan termasuk sebesar-besarnya dosa besar (min akbar al-kabaair). Pasalnya, Rasulullah saw telah melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya. Selain itu, Allah swt dan RasulNya telah memaklumkan perang terhadap pelaku riba. Di dalam Kitab al-Nihayah dituturkan bahwasanya dosa riba itu lebih besar dibandingkan dosa zina, mencuri, dan minum khamer. Imam Syarbiniy di dalam Kitab al-Iqna’ juga menyatakan hal yang sama .
Mohammad bin Ali bin Mohammad al-Syaukaniy menyatakan; kaum Muslim sepakat bahwa riba termasuk dosa besar.
Imam Nawawiy di dalam Syarh Shahih Muslim juga menyatakan bahwa kaum Muslim telah sepakat mengenai keharaman riba jahiliyyah secara global .
Mohammad Ali al-Saayis di dalam Tafsiir Ayaat Ahkaam menyatakan, telah terjadi kesepakatan atas keharaman riba di dalam dua jenis ini (riba nasii’ah dan riba fadlal). Keharaman riba jenis pertama ditetapkan berdasarkan al-Quran; sedangkan keharaman riba jenis kedua ditetapkan berdasarkan hadits shahih .
Abu Ishaq di dalam Kitab al-Mubadda’ menyatakan; keharaman riba telah menjadi konsensus, berdasarkan al-Quran dan Sunnah .


Dalil tentang Haramnya Riba:
Al-Quran:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبا لا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (QS al-Baqarah: 275).

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (QS al-Baqarah: 276).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (QS al-Baqarah: 279).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبا أَضْعَافاً مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan". (QS Ali Imron: 130).

Al-Sunnah:

اجْتَنِبُوُا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ, قُلْنَا: وَمَا هُنّ يَا رَسُوْلََ اللهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالحْقِّ وَأَكْلَ الرِّبَا وَأَكْلَ مَالِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلَّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقًَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتَ الْغَافِلَاتِ
"Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan. Kami bertanya, Apa itu wahai Rasulullah? Beliau menjawa, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, berlari dari medan pertempuran, menuduh zina mu’minah yang menjaga kehormatannya". (HR Muslim dari ABu Hurairah).

دِرْهَمُ رِبَا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ زِنْيَةً
"Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat daripada enam puluh kali zina". (HR Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah).

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلّّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ، وَثَمَنِ الْكَلْبِ، وَكَسْبِ الْأَمَةِ، وَلَعَنَ الْوَاشِمَةِ، وَالْمُسْتَوْشَمَةِ، وَآَكِلَ الرِّبََا، وَمُوَكِّلَهُ، وَلَعَنَ الْمُصّوِّرِ
"Sesungguhnya Rasulullah saw melarang hasil penjualan darah, hasil penjualan anjing, dan penghasilan budak wanita; dan melaknat orang yang mentato, yang diminta mentato, pemakan riba, dan pemberi riba; dan melaknat pelukis". (HR al-Bukhari dari ABu Jahifah dari bapaknya).

الرِبَا ثَلاثَةٌَ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ, وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عَرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمَ
"Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang muslim". (HR Ibn Majah).

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّباَ وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ, وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ
"Rasulullah saw melaknat orang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Belia bersabda; Mereka semua sama". (HR Muslim)

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا والرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ
"Apabila zina dan riba telah nampak (mendominasi) di suatu kampung, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan diri mereka dari azab Allah". (HR al-Thabarani dan al-Hakim).

Macam-Macam Riba
Menurut sebagian ulama, riba dibagi menjadi dua, (1) riba nasi'ah, dan (2) riba fadlal. Menurut Syafi'iyyah, riba dibagi menjadi tiga; (1) riba nasi'ah, (2) riba fadlal, (3) riba yadd. [Mohammad Ali As-Sais, Tafsiir Ayat al-Ahkaam, hal. 162] Berdasarkan klasifikasi di atas, kita dapat mengklasifikasi riba menjadi empat macam.

1. Riba Nasiah
Riba yang diambil karena penundaan pembayaran utang untuk dibayarkan pada tempo yang baru, sama saja apakah itu utang berupa harga pembelian atau qardh.
Adapun dalil pelarangannya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim;

الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ
" Riba itu dalam nasi’ah". (HR Muslim dari Ibnu Abbas)
Ibnu Abbas berkata: Usamah bin Zaid telah menyampaikan kepadaku bahwa Rasulullah saw bersabda:

آلاَ إِنَّمَا الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ
"Ingatlah, sesungguhnya riba itu dalam nasi’ah". (HR Muslim).

2. Riba al-Fadhl
Riba yang diambil dari kelebihan dari pertukaran barang yang sejenis. Dalil pelarangannya adalah hadits yang dituturkan oleh Imam Muslim.

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
"Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, semisal, setara, dan kontan. Apabila jenisnya berbeda, juallah sesuka hatimu jika dilakukan dengan kontan".HR Muslim dari Ubadah bin Shamit ra).

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ فَمَنْ زَادَ أَوْ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا
"Emas dengan emas, setimbang dan semisal; perak dengan perak, setimbang dan semisal; barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka (tambahannya) itu adalah riba". (HR Muslim dari Abu Hurairah).

عن فضالة قال: اشتريت يوم خيبر قلادة باثني عشر دينارًا فيها ذهب وخرز، ففصّلتها فوجدت فيها أكثر من اثني عشر ديناراً، فذكرت ذلك للنبي صلّى الله عليه وسلّم فقال: ”لا تباع حتى تفصل“
"Dari Fudhalah berkata: Saya membeli kalung pada perang Khaibar seharga dua belas dinar. Di dalamnya ada emas dan merjan. Setelah aku pisahkan (antara emas dan merjan), aku mendapatinya lebih dari dua belas dinar. Hal itu saya sampaikan kepada Nabi saw. Beliau pun bersabda, “Jangan dijual hingga dipisahkan (antara emas dengan lainnya)". (HR Muslim dari Fudhalah)
Dari Said bin Musayyab bahwa Abu Hurairah dan Abu Said:

أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم بعث أخا بني عدي الأنصاري فاستعمله على خيبر، فقدم بتمر جنيب [نوع من التمر من أعلاه وأجوده] فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: ”أكلّ تمر خيبر هكذا“؟ قال: لا والله يا رسول الله، إنا لنشتري الصاع بالصاعين من الجمع [نوع من التمر الرديء وقد فسر بأنه الخليط من التمر]، فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: ”لا تفعلوا ولكن مثلاً بمثل أو بيعوا هذا واشتروا بثمنه من هذا، وكذلك الميزان“
"Sesungguhnya Rasulullah saw mengutus saudara Bani Adi al-Anshari untuk dipekerjakan di Khaibar. Kamudia dia datang dengan membawa kurma Janib (salah satu jenis kurma yang berkualitas tinggi dan bagus). Rasulullah saw bersabda, “Apakah semua kurma Khaibar seperti itu?” Dia menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah . Sesunguhnya kami membeli satu sha’ dengan dua sha’ dari al-jam’ (salah satu jenis kurma yang jelek, ditafsirkan juga campuran kurma). Rasulullah saw bersabda, “Jangan kamu lakukan itu, tapi (tukarlah) yang setara atau juallah kurma (yang jelek itu) dan belilah (kurma yang bagus) dengan uang hasil penjualan itu. Demikianlah timbangan itu". (HR Muslim).

3. Riba al-Yadd
Riba yang disebabkan karena penundaan pembayaran dalam pertukaran barang-barang. Dengan kata lain, pihak peminjam dan yang meminjamkan uang/barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan serah terima.

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ
"Emas dengan emas riba kecuali dengan dibayarkan kontan, gandum dengan gandum riba kecuali dengan dibayarkan kontan; kurma dengan kurma riba kecuali dengan dibayarkan kontan; kismis dengan kismis riba, kecuali dengan dibayarkan kontan (HR al-Bukhari dari Umar bin al-Khaththab)

الْوَرِقُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالتَّمْرُِالتَّمْرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ
"Perak dengan emas riba kecuali dengan dibayarkan kontan; gandum dengan gandum riba kecuali dengan dibayarkan kontan kismis dengan kismis riba, kecuali dengan dibayarkan kontan; kurma dengan kurma riba kecuali dengan dibayarkan kontan". [Ibnu Qudamah, Al-Mughniy, juz IV, hal. 13]

4. Riba Qardl.
Riba qaradl adalah meminjam uang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan atau keuntungan bagi pemberi pinjaman.
Pelarangan ini sejalan dengan kaedah ushul fiqh, "Kullu qardl jarra manfa'atan fahuwa riba". (Setiap pinjaman yang menarik keuntungan (membuahkan bunga) adalah riba".[Sayyid Saabiq, Fiqh al-Sunnah, (edisi terjemahan); jilid xii, hal. 113]
sumber
Perbedaan Riba dengan Jual Beli
1. Dalam jual beli, antara pembeli dan penjual sama-sama mendapatkan pertukaran di atas prinsip kesetaraan atau persamaan. Si pembeli mendapatkan keuntungan atau manfaat dari barang yang dibelinya dari penjual, sedangkan penjual mendapatkan keuntungan dari pembeli karena waktu, tenaga, dan pikirannya yang digunakan untuk mendapatkan barang itu demi kepentingan pembeli. Adapun dalam aktivitas riba, tidak akan didapatkan manfaat atau keuntungan yang didasarkan di atas prinsip persamaan tersebut. Pemilik uang atau modal, pasti akan mendapatkan keuntungan karena meminjamkan modalnya, namun, peminjam hanya mendapatkan "jangka waktu" pemanfataan atas modal atau uang yang dipinjamnya. Padahal, jangka waktu saja, pasti tidak akan menghasilkan keuntungan bagi peminjam. Jika dalam "jangka waktu yang diberikan oleh peminjam itu", kemungkinan mendapatkan kerugian sama dengan kemungkinan mendapatkan keuntungan, maka di dalam aqad riba, pasti ada salah satu pihak yang mendapatkan laba (keuntungan), sedangkan pihak lain belum tentu mendapatkannya.
2. Di dalam perdagangan, bagaimanapun besarnya keuntungan yang diperoleh pemilik barang, ia akan memperolehnya hanya sekali saja; itu pun jika ada kesepakatan antara pemilik dan pembeli barang. Dalam praktek riba, si pemilik barang atau modal senantiasa akan memperoleh bunga uang, selama pinjaman pokoknya belum dilunasi. Bahkan, semakin lama, hutang yang tidak dapat dilunasi akan semakin bertambah, dan menumpuk, hingga menghabiskan seluruh harta kekayaan peminjam.
3. Dalam jual beli, jerih payah dan pekerjaan seseorang baru akan mendapatkan keuntungan setelah ia mencurahkan tenaga dan pikirannya. Sedangkan dalam praktek riba, seseorang hanya meminjamkan sejumlah uang yang tidak dipakainya, kemudian uang itu berkembang tanpa harus berjerih dan payah.