Euis S Rifki: Aqidah Ummat Islam Diserang, Pemurtadan Terjadi Dimana-mana


Kaum Nasrani selama Islam ada, kata Euis S Rifki Ketua Lembaga Insan Kamil tidak akan pernah berhenti memurtadkan umat Islam dan itu akan terjadi terus menerus. Sekarang, tinggal bagaimana kita menyikapi kondisi tersebut. Caranya, tidak cukup dengan menyalahkan mereka—pelaku pemurtadan.Pasalnya, faktor penyebab justru pada kepedulian ummat islam itu sendiri.
“ Surat Al Baqarah 120 adalah upaya Allah membangunkan umat Islam untuk membangun secara utuh soal spiritual dan keilmuan agar peduli terhadap saudaranya. Kita mengaku Islam tetapi kepedulian terhadap agamanya masih dipertanyakan. Kata kasih justru dijadikan kaum Nasrani sebagai saran untuk memurtadkan kaum muslim oleh orang Kafir,” terang aktivis muslimah kota Bandung ini kepada Warta Ummat beberapa saat lalu.
Di dalam menghadapi pemurtadan, Euis mengatakan, yang pertama untuk menentang pemurtadan adalah melakukan tindakan pencegahan. Pemurtadan itu seperti penyakit. Yang penting menurutnya adalah mencegah orang itu sebelum sakit dari pada sudah sakit.
Baginya, dakwah bukan dipanggil bagi aktivis atau ulama tetapi harus turut peduli terhadap apa yang terjadi di depan mata. Kalau dipanggil itu ada kesan lebih enak dan tak ada tantangannya sehingga membuat aktivis atau dai menjadi kurang sensitif terhadap apa yang terjadi.
“Umat Islam banyak diserang dalam soal aqidah, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan sebagainya yang dirasa menjadi titik kelemahan yang bisa dimasuki oleh mereka. Islam harus menunjukkan sebagai agama yang berguna bagi kaum yang lemah agar terhindar dari kegiatan pemurtadan yang terjadi di mana-mana,” tegas Euis.
Kemudian masih katanya, langkah kedua adalah mereka yang sudah sakit atau korban pemurtadan, baik sakit ringan maupun sakit parah, inilah yang menjadi PR kita. “Di sinilah kita harus berani muncul mengibarkan bendera untuk melakukan advokasi kepada mereka dan mengembalikannya ke pangkuan Islam. Inilah yang diperintahkan Allah agar kita harus mau berjuang dan berkeringat menghadapi pemurtadan ini apapun resikonya,” ujar wanita yang sudah lama menangani kasus pemurtadan ini.
Menyikapi kurangnya kaum wanita yang terjun dalam menangani persoalan pemurtadan lebih banyak ditentukan oleh keberanian untuk menghadapi kasus ini karena berhadapan dengan resiko,ungkap Euis. Tambahnya, banyak wanita yang belum sanggup menghadapi resiko ini karena membutuhkan waktu sampai larut malam dan harus mau berbenturan secara fisik pula. “Tugas ini bagi wanita sangat riskan. Saya bersyukur karena mendukung penuh apa yang kini tengah dilakukannya.” Urainya penuh semangat.
Euis pun mengajak kaum muslimah agar bersama-sama peduli terhadap persoalan pemuratdan ini. Ia pun menghimbau permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam agar diatasi dengan mengupayakan terciptanya kecerdasan di diri kaum Ibu yang bisa mendidik anaknya dengan membentengi aqidahnya agar tidak terkena upaya pemurtadan tadi. Tetapi yang sanggup dengan harta, sisihkan hartanya tetapi idealnya adalah dengan harta dan jiwa.
“Mari kita bersama-sama terjun untuk menghadapi pemurtadan sampai mereka jemu melakukannya,” pungkasnya antusias.*(dendy Abu Mumtaz)