Showing posts with label india. Show all posts

LUCKNOW,- Saat musim dingin tiba, Zakir Khan 47 tahun, adalah salah satu dari ribuan Muslim yang terpaksa keluar dari rumah mereka di distrik Muzaffarnagar di negara bagian Uttar Pradesh, India untuk hidup di kamp pengungsian setelah kerusuhan pecah antara Hindu dan Muslim.

"Kami menderita karena kerusuhan," kata Zakir Khan kepada OnIslam.net, Ahad 8 Desember 2013.

"Hampir semua barang-barang saya dibakar oleh perusuh dan entah bagaimana kami berhasil melarikan diri dari desa."

Masalah Zakir dimulai Agustus lalu ketika bentrokan Hindu-Muslim meletus di Muzaffarnagar, terletak di bagian barat Uttar Pradesh.

Kerusuhan mengakibatkan kematian setidaknya 60 orang dan memaksa sekitar 70.000 Muslim meninggalkan desa-desa mereka, menurut pemerintah negara bagian Uttar Pradesh. Pada 31 Oktober kerusuhan kembali pecah dan mengakibatkan 4 orang meninggal.

Distrik Muzaffarnagar tetap tegang, dengan banyak orang yang melarikan diri dari kekerasan bulan lalu masih tinggal di kamp-kamp pengungsian.

Berlindung di kamp pengungsian, Zakir Khan sekarang tinggal bersama istri dan dua anak-anak mereka di sebuah kamp untuk Muslim korban kerusuhan. Pemerintah India menawarkan kompensasi sebesar 500.000 rupee atau sekitar 8.100 dolar untuk tidak kembali ke desa mereka.

"Sekarang pemerintah menginginkan kami untuk melupakan segala yang kami miliki di desa kami sebagai pengganti dengan beberapa ribu rupee," kata Zakir.

"Harta benda kami jauh lebih berharga daripada uang yang mereka berikan kepada kami sebagai kompensasi."

Zakir tidak sendirian dalam kesengsaraan ini. Korban lain Rahat Siddiqui menyatakan bahwa pihak berwenang meminta korban untuk menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa mereka akan pindah dari kamp pengungsian, tetapi tidak akan kembali ke tempat asal mereka setelah menerima sejumlah kompensasi.

"Kami hidup seperti binatang di kamp pengungsian," kata Rahat Siddiqui kepada  OnIslam.net.

"Tapi sekarang pemerintah ingin kami untuk menerima apa pun yang mereka tawarkan dan melupakan semua harta benda di tempat asal kami."

Setelah berbulan-bulan di kamp pengungsian, umat Islam masih takut, mengingat kenangan korban kematian dan perkosaan terhadap muslimah.

"saya tidak bisa berkata-kata untuk menggambarkan betapa kami diserang dan dipaksa meninggalkan rumah kami," Aslam Mahmood, yang selamat dari kerusuhan namun harus kehilangan dua anggota keluarganya, kepada OnIslam.net.

"Tidak ada seorang pun di sana untuk keamanan kami dan sekarang pemerintah ingin kami untuk mengambil kompensasi kecil dan melupakan hak atas harta benda kami yang akan disita atau diambil alih oleh orang-orang yang menyerang kami untuk meninggalkan tempat itu."

Aktivis dan pengacara Asad Hayat telah menuntut penyelidikan kepada badan investigasi utama, Biro Pusat Investigasi (Central Bureau of Investigation/CBI). Dia juga telah mengajukan masalah penyelidikan ini ke pengadilan.

"Tidak ada aturan pasti untuk distribusi kompensasi oleh pemerintah," kata Hayat.

"Kompensasi ini dimaksudkan hanya untuk orang-orang dari sembilan desa, sedangkan terdapat penungsi dari 162 desa yang tinggal di kamp-kamp pengungsian. Pemerintah bahkan telah gagal untuk mengidentifikasi jumlah besar korban kerusuhan, yang belum mendapatkan bantuan apapun."

Hayat tidak bekerja sendirian. Rihai Manch, sebuah kelompok yang memberikan bantuan hukum bagi sejumlah orang yang tidak bersalah yang dipenjara atas nama terorisme di negara bagian Uttar Pradesh, telah mulai membantu korban kerusuhan di berbagai distrik.

Mereka juga telah merencanakan audiensi publik untuk korban di Lucknow, ibukota Uttar Pradesh, tetapi tidak mendapatkan izin dari pemerintah.

"Para korban berada di bawah tekanan luar biasa untuk menarik laporan mereka. Beberapa dari mereka bahkan telah diancam oleh pemerintah daerah untuk melupakan apa yang telah terjadi terhadap mereka," kata Shahnawaz Alam, juru bicara Rihai Manch. [rahmadi]
[md/www.globalmuslim.web.id]


 India, Sabtu, berhasil melakukan uji-coba rudal balistiknya yang mampu membawa hulu ledak nuklir, Dhanush, dari satu kapal Angkatan Laut di Teluk Benggala di lepas pantai Negara Bagian Orissa di India Timur, kata seorang pejabat.
Rudal tersebut ditembakkan dari satu kapal Angkatan Laut sebagai bagian dari pelatihan Angkatan Laut India, kata pejabat itu --yang tak ingin disebutkan jatidirinya, sebagaimana dilaporkan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu malam.
Dhanush, versi rudal balistik Prithvi --yang mampu memawa nuklir-- untuk Angkatan Laut, memiliki jarak jelajah 350 kilometer dan mampu membawa muatan konvensional serta nuklir lebih dari 500 kilogram.
Perdana Menteri India Manmohan Singh belum lama ini telah menegaskan pentingnya untuk mengembangkan industri pertahanan dalam negeri India dan mengurangi ketergantungan atas pembelian senjata dari luar negeri.[AR].
[www.globalmuslim.web.id]

images (72×72)NEW DELHI,, - Tinggal di tempat penampungan di sebuah gedung sekolah, keluarga Feroz Ahmad menyambut bulan suci Ramadhan dengan rasa duka saat berjuang untuk mendapatkan bantuan di daerah yang terkena banjir di negara bagian Bihar, timur laut India.

"Sulit untuk berpuasa ketika tidak ada pengaturan untuk berbuka puasa saat matahari terbenam untuk mengakhiri puasa sepanjang hari dan sahur," ujar Ahmad dari Bahadurganj di distrik Kishanganj kepada Kantor Berita Indo-Asia (Indo-Asian News Service-IANS) pada Senin, Juli 15, demikian lansironislam.net.

Keluarganya terkena banjir yang melanda distrik Kishanganj, Purnea, Araria dan Katihar di negara bagian Bihar. Banjir telah meredam hampir setengah distrik di Bihar dan memaksa lebih dari 8000 orang mengungsi. Setidaknya 13 orang telah tewas dalam banjir.

Bagi Ahmad, banjir memaksa dia, istri dan empat anak untuk berlindung di sebuah gedung sekolah dengan puluhan tetangga mereka. Dengan bantuan yang langka, para pengungsi harus menunggu selama dua hari untuk mendapatkan bantuan.

Ahmad mengatakan mereka berpuasa dengan beras yang ditumbuk dan gula merah dan air minum yang tidak bersih.

Korban banjir yang lain, Manzar Alam, mengatakan merupakan sebuah tantangan untuk berpuasa Ramadhan dalam situasi seperti ini.

"Kami tidak punya apa-apa untuk dimakan," kata Alam, yang berlindung di tanggul bertingkat tinggi dekat sebuah kantor polisi di distrik Purnea.

Ishrarul Haque, anggota Kongres dari Kishangaj, mengaku saat ini adalah waktu yang sulit bagi korban banjir selama bulan Ramadhan. Ia mendesak pemerintah untuk memastikan bantuan tepat waktu bagi para korban banjir, terutama yang berpuasa Ramadhan. [ahr][www.globalmuslim.web.id]

DELHI, , - Dimasukkan ke balik jeruji besi karena pelanggaran ringan, Muslim menjadi mayoritas narapidana di penjara India, fenomena yang disinyalir karena kurangnya pendidikan dalam minoritas muslim yang cukup besar di India.

"Kita (Muslim) menyebut diri kita sebuah komunitas minoritas," ujar Sultan Ahmad, yang menjabat sebagai Menteri Negara dari partai Kongres Trinamool, kepada OnIslam.net, Rabu 29 Mei.

"Tapi di penjara kita menjadi mayoritas. Ini merupakan situasi yang tidak menguntungkan bagi bangsa serta masyarakat."

Estimasi menunjukkan bahwa orang-orang Islam menjadi mayoritas di penjara India. Di negara bagian Bengal Barat, hampir 50 persen narapidana di penjara adalah Muslim, meskipun mereka  hanya 25 persen dari populasi secara keseluruhan. Di Maharashtra, Muslim membentuk hampir sepertiga dari tahanan penjara, dan seperempat di Uttar Pradesh.

Menurut catatan Biro Kejahatan Nasional (NCRB), Muslim mencapai sekitar 21 persen narapidana   di India pada tahun 2011.

"Masalah ini diangkat ketika saya bersama  Kantor Perdana Menteri (Prime Minister Office/PMO), selama masa jabatan Rajiv Gandhi sebagai perdana menteri," kata Ketua Komisi Nasional untuk Minoritas Wajahat Habibullah.

"Namun, sejauh ini belum ada penelitian yang telah dilakukan untuk memastikan penyebab di balik ketidakberimbangan antara populasi Muslim di masyarakat dan di penjara."

Menurut informasi yang diperoleh berdasarkan Undang-undang Hak atas Informasi ( Right to Information/RTI), dari 1.222 orang yang berada di Penjara Pusat Alipur per Desember 2011, 530-nya adalah Muslim.

Demikian pula, dari 2.200 orang yang terkena vonis pengadilan di penjara Ghazaibad Uttar Pradesh, 530-nya adalah Muslim. Data yang diterima dari penjara di negara bagian lain juga meresahkan.

Para pejabat mencatat bahwa banyak Muslim India dikirim ke balik jeruji karena pelanggaran ringan.

"Sebagian besar Muslim dipenjara atas tuduhan yang ringan," kata Menteri Urusan Minoritas K. Rehman Khan kepada OnIslam.net.

"Mereka tidak mendapatkan bantuan hukum atau pendampingan, juga tidak sadar bahwa mereka berhak mendapatkan bantuan hukum secara percuma.Mereka tidak memiliki kekuatan atau dukungan politik."

Sebuah studi yang dilakukan tahun lalu oleh  Institut Ilmu Sosial Tata (Tiss) mengungkapkan bahwa terjadi bias terhadap Muslim oleh polisi, administrasi dan pihak pengadilan.

Sebagian besar tahanan termasuk dalam studi ini tidak ada hubungannya dengan terorisme atau kejahatan terorganisir.

Sebagian besar tahanan Muslim (71,9 persen) terlibat dalam perselisihan kecil.Persentase pengiriman mereka di balik jeruji besi untuk pertama kalinya atas tuduhan kecil adalah 75,5.

"Sekitar 90 persen Muslim di penjara menghadapi tuduhan seperti perdagangan ilegal minuman keras, pencurian, menjarah dll. Persentase mereka menghadapi tuduhan serius cukup rendah," kata kepala penjara distrik Lucknow DR Maurya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Tiss di penjara di Maharashtra menemukan bahwa 58 persen Muslim yang buta huruf atau telah menerima pendidikan hanya sampai tingkat SD.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 43,6 persen dari tahanan tidak dalam posisi bisa menyewa pengacara dan 61 persen tidak menyadari bahwa ada sebuah LSM di penjara di mana mereka bisa mencari bantuan. [ahr/www.globalmuslim.web.id]

Baru-baru ini, pemerkosaan merupakan fenomena paling menyedihkan dan mengerikan di India, dimana korbannya adalah para gadis India, dan beberapa turis asing. Fenomena itulah yang akhirnya memicu gelombang kemarahan di jalanan.
Dari berbagai peristiwa itu yang paling menonjol adalah kasus perkosaan wanita di sebuah bus, di kota New Delhi, India, dan akhirnya korban pun meninggal pada bulan Desember lalu. Kemudian, diikuti oleh kasus pemerkosaan terhadap seorang turis Swiss, di India, yang diculik saat ia berkeliling bersama dengan suaminya.
Statistik pemerintah menunjukkan bahwa kasus pemerkosaan terjadi setiap 22 menit di India. Sehingga hal itu mendorong parlemen untuk menyetujui undang-undang untuk memperberat sanksi bagi pelaku  pemerkosaan, dan mengkriminalisasikan apapun yang bisa melecehkan perempuan. Dan saat ini tengah menunggu persetujuan Presiden India, Pranab Mukherjee, untuk mulai pemberlakuan undang-undang yang baru itu.
Aktivis hak-hak perempuan India, Rotchera Gupta mengatakan bahwa “keberanian gadis yang diperkosa pada 16 Desember telah mempengaruhi masyarakat. Sehingga puluhan pria dan wanita India bangkit untuk menuntut penghentian segera segala bentuk serangan terhadap perempuan. Dan parlemen pun merespon tuntutan mereka”.
Gadis yang di jalanan India dikenal dengan nama “Damini” itu telah menjadi simbol dari penderitaan sehari-hari perempuan di India, serta menjadi simbol besarnya bencana yang dihadapi oleh korban perkosaan di India.
Seorang mahasiswi salah satu peserta demonstrasi mengatakan bahwa “aksi protes hari ini dilakukan dalam konteks khusus untuk kehidupan sehari-hari perempuan India. Sebab, ayah terpaksa menghubungiku melalui ponsel lebih dari enam kali sehari untuk memastikan keselamatanku, bahwa aku akan sampai di rumah dengan selamat”.
Meskipun sekarang banyak dari kasus-kasus pemerkosaan yang dilaporkan setiap hari di media India, namun hal itu belum jelas, apakah hal itu bukti peningkatan jumlah kejahatan yang sama secara umum. Akan tetapi, tidak ada keraguan bahwa hal itu telah meningkatkan kesadaran, sebab kenyataannya bahwa sudah tidak sedikit perempuan India yang telah memiliki keberanian untuk mengungkapkan pengalaman mereka (islammemo.cc, 26/3/2013).
[www.globalmuslim.web.id]

Seorang ulama Hindu akui Nabi Muhammad adalah orang terhebat dalam sejarah umat manusia– Rasulullah Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam) adalah orang terhebat dalam sejarah umat manusia. Pernyataan demikian tidak mengejutkan bila dikatakan oleh seorang Muslim. Tetapi pernyataan tersebut keluar dari perkataan seorang pendeta Hindu di India. pendeta itu juga mengatakan bahwa belajar dan memahami Islam, kehidupan Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dan ajarannya adalah sumber terbaik.
“Kita sedang berbicara tentang Nabi Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dan kita harus ingat baik-baik dalam ingatan kita bahwa dia adalah individu terhebat dalam sejarah. Jika setiap orang ingin mengetahui tentang Islam, harus menilai Islam dari kehidupan Nabi dan ajarannya,” demikian kata Ulama Hindu terkemuka, Swami Lakhsmi Shankaracharya, seperti dikutip Islamonline.
Ketika memberikan ceramah tentang “Sirah Nabi” yang membahas tentang karakter mulia Nabi Muhammad dalam sebuah konferensi bulan lalu. Swami yang juga merupakan founder Jan Ekta Manch, mengatakan bahwa perdamaian dan perikemanusiaan adalah inti ajaran Islam.
“Ini adalah kewajiban setiap Muslim berdasarkan agama mereka untuk menyelamatkan dan melindungi umat manusia, Nabi Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam) selalu memaafkan musuh-musuhnya dan menunjukkan kesabaran ketika ia dicelakai oleh orang lain, ini adalah moral ajarannya yang membuat Islam sebagai agama internasional,” katanya.
Dia juga mengutip sejarah “Fathu Makkah” (Pembebasan Makkah) ketika musuh-musuh Islam diberikan kebebasan sepenuhnya. Terkait Jihad, dia membenarkan bahwa diizinkan untuk berperang bagi mereka yang diperangi berdasarkan ayat Al-Qur’an surat Al-Hajj [22]: 39, dan juga membenarkan bahwa Islam mengajarkan etika berperang yaitu tidak boleh berlebih-lebihan.
Perlu disebutkan bahwa Swami pada awalnya sangat mengkritik keras Islam dan Jihad. Dia pernah menganggap Islam adalah akar dari terorisme global.Pemikirannya ini dibentuk karena ia mempelajari Islam berdasarkan sumber-sumber yang memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Kemudian ia menulis sebuah buku berjudul “The History of Islamic Terrorism.” Namun, Swami terus mempelajari Islam, ia beralih mencari sumber-sumber shahih. Swami membaca Kitab Suci Al-Quran dari lembar ke lembar dan mempelajari sejarah hidup Nabi Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam).
Akhirnya, ia sadar bahwa ia salah paham terhadap Islam. Swami mengakui kesalahannya dan memutuskan untuk menulis bantahan terhadap sumber-sumber negatif itu dalam sebuah bukunya yang berjudul “Islam – Aatank ya Aadarsh” yang artinya “Islam – Teror atau Jalan yang Ideal.” Dalam buku tersebut, ia mengklarifikasi bahwa Islam adalah agama yang damai dan bahwa Muslim berjihad untuk mempertahankan diri dan menegakkan perdamaian, bukan aksi terorisme sebagaimana yang dituduhkan.
Konferensi itu digelar oleh Jamaat-e-Islami Hind, Bihar, dan kepala daerah organisasi tersebut, Nayyaruzzaman, menjadi pemimpin konferensi tersebut.Dia menekankan pada pengetahuan yang benar tentang Islam dan bertindak sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad.(siraaj/arrahmah/www.globalmuslim.web.id)

Wanita_India_Dibakar_AllahINDIA-Ini contoh dan pelajaran bagi siapapun yang menentang dan membenci syariat Islam dan seluruh perintah-perintah Allah SWT. Sekumpulan wanita di India melakukan aksi protes dengan mencoba membakar jilbab yang sengaja mereka bawa. Namun, apa yang terjadi, Allah SWT., mengadzab wanita ini dan membakarnya di dunia. Api membakar tubuh wanita tersebut. Allahu Akbar!
Dalam sebuah tayangan video yang telah tersebar luas di Youtube, yang diposting oleh Moslim Mowahed, terlihat sekelompok perempuan India melakukan aksi protes terhadap jilbab atau hijab, pakaian yang diwajibkan oleh Allah SWT., kepada Muslimah (wanita Muslim). Perempuan-perempuan India ini, mengenakan pakaian tradisional India (Sari) terlihat di atas tandon (tempat penampungan) air yang cukup tinggi dan mulai berteriak-teriak memprotes hijab atau jilbab.
Tak lama kemudian, nampak seorang dari mereka, dibantu rekannya, langsung meletakkan jilbab hitam yang sudah dipersiapkan, menyiramkan bensis, dan lalu membakarnya. Apa yang terjadi, si perempuan itu yang ternyata langsung membara. Api menjilat seluruh tubuhnya. Si wanita ini pun langsung turun dengan kobaran api yang sudah menyelimuti seluruh tubuhnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
Sementara satu wanita lain pun terbakar dengan api yang menyala-nyala dan masih berada di atas tandon.Teriak dan jerit histeris bersahutan keluar dari para peserta aksi yang sebagian besar wanita India dan ada juga pria dengan memakai pakaian khas agama sikh. Menurut informasi yang adi di video di Youtube yang diposting pada hari Ahad, (03/02/2013) ini, si wanita tadi adalah seorang guru dari Punjab yang akhirnya tewas mengenaskan dalam insiden konyol tersebut.
Sekali lagi, tayangan video ini adalah sebuah contoh dan pelajaran bagi siapapun yang menghina, menentang, dan memerangi syariat Allah SWT., termasuk hijab atau jilbab, maka Allah SWT., pasti akan mengadzabnya, di dunia, apalagi di akhirat nantinya. Allahu Akbar!
Sumber dan Link Video :  http://www.youtube.com/watch?v=YpcFMNd2dwE&feature=youtu.be
[M Fachry/al-mustaqbal.net/www.globalmuslim.web.id]

rayap.jpg (200×224)ANDA mungkin tidak akan percaya dengan kejadian yang menimpa salah satu bank di India ini. Di luar perkiraan, ‘tentara’ rayap mengunyah dan menghabiskan uang senilai 10 juta rupee (hampir senilai Rp 2,15 milyar) yang disimpan dalam peti baja bank.
Polisi India mengungkapkan bahwa seorang manajer bank menemukan kerusakan ketika ia membuka ruang isolasi di sebuah gedung bank tua pada April 2011 silam, polisi Rana Navneet mengatakan kepada The Associated Press.
“Kami mengalami masalah saat penyelidikan, bagaimana rayap dapat menghabiskan sebundel mata uang yang ditumpuk dalam peti baja,” kata Navneet. Uang itu dimasukkan ke dalam peti pada bulan Januari 2011.
Selain itu, rayap juga telah merusak furnitur dan dokumen bank di masa lalu.
Polisi telah mencatat insiden ini sebagai kasus kelalaian, terhadap pejabat bank di Barabanki, sebuah kota di barat daya Lucknow, Uttar Pradesh. Polisi India telah mendaftarkan kasus ini sebagai tindakan kriminal sebelum memulai penyelidikan. [sm/islampos/e247/www.globalmuslim.web.id]

INDIA,  - Kremasi terhadap jasad seorang pemuda Muslim yang hilang oleh polisi India telah memicu sikap antipati di negara itu, di tengah seruan untuk penyelidikan masalah ini.

"Anak saya mengenakan kemeja yang dijahit oleh saya dan ada tanda penjahit di kerahnya yang memiliki nama dan alamat toko saya," kata ayah Shahid, Master Champa kepada kepada  The Indian Express pada hari Senin, 21 Januari sebagaimana dilansir onislam.net. 

"Apakah polisi melihat kasus ini dengan tulus, saya ingin agar setidaknya mampu melakukan upacara terakhir untuk anakku."

Shahid, seorang remaja berusia 20 tahun, anak dari seorang penjahit, hilang dari rumahnya di Sangam Vihar pada 11 Januari. Pada hari yang sama, mayatnya ditemukan oleh Polisi di jalur rel  Stasiun Kereta Api Nizamuddin. Polisi kemudian mengunggah foto wajahnya di situs berita di internet agar dikenali oleh masyarakat. 

Pada tanggal 19 Januari orang tua Shahid yang telah mengetahui berita dari internet kemudian mendatangi rumah sakit. 

"Saya bergegas ke rumah sakit, namun menemukan ia telah dikremasi," kata sang ayah terkejut.

Champa menuntut penjelasan langsung dari polisi atas kremasi terhadap jasad anaknya.

"Pejabat tersebut harus dicopt dengan segera. Bagaimana bisa mereka tidak melihat tanda penjahit saya pada kemeja, yang juga terdapat alamat saya, kata Champa.

Namun polisi berdalih bahwa tanda penjahit tertutup oleh noda darah dan tidak terlihat.

Dalam Islam, kremasi dilarang karena tidak menghormati mayat dan Islam menyerukan untuk menghormati manusia apakah hidup atau mati. Mayat seorang Muslim harus segera dimandikan dan dikafani. Sebelum pemakaman, shalat jenazah harus dilakukan. Penguburan harus dilakukan sesegera mungkin. Adalah makruh untuk menunda penguburan jenazah. [har/
www.globalmuslim.web.id]

Setelah seorang wanita menyatakan diperkosa ramai-ramai di wilayah Punjab, India utara, Polisi India akhirnya menangkap enam orang, temasuk seorang supir bis. Demikian diberitakan surat-surat kabar pada Minggu.
Laporan itu tersiar beberapa pekan setelah seorang mahasiswi di New Delhi diperkosa dan dipukuli di sebuah bis yang bergerak. Korban kemudian dilempar ke jalan dalam keadaan berdarah-darah. Kasus tersebut menyulut amarah di negara itu.
Dalam serangan terakhir, wanita itu naik bis menuju desanya pada Jumat malam. ''Supir dan kernetnya membawanya ke sebuah tempat sepi,'' sebut laporan surat kabar Indian Express.
''Lima orang lagi bergabung dengan mereka dan melecehkan wanita itu di sebuah rumah,'' kata koran itu mengutip inspektur polisi senior Raj Jeet Singh.
Orang-orang itu menurunkan wanita tersebut di dekat desanya pada keesokan pagi. Ia pulang ke rumah sebelum pergi ke kantor polisi untuk mengadukan peristiwa itu.
''Enam dari tujuh orang yang dituduh melakukan kejahatan itu telah ditangkap,'' kata perwira polisi tersebut kepada surat kabar itu.[ach/rol/ant/www.globalmuslim.web.id]

kereta-api.jpg (300×216)KASUS pemerkosaan yang sempat menggegerkan India kembali terulang. Namun, kali ini korban mampu menyelamatkan diri. Dalam insiden terbaru penyerangan terhadap perempuan di India, seorang perempuan berusia 30 tahun terpaksa melompat keluar dari kereta api yang tengah berjalan, untuk menyelamatkan diri.

Korban adalah seorang ibu dari dua anak yang masih remaja. Perempuan itu naik kereta api menuju ke ibukota New Delhi dari Kota di Bihar, India.

Seorang oknum anggota militer diduga telah menganiaya korban dan hendak memperkosanya, saat perempuan itu keluar dari kamar kecil. Pada saat pelaku mendorong ke samping, perempuan itu nekat melompat keluar dari kereta api yang berjalan pada hari Kamis (3/1), seperti yang dilaporkan Times of India.

Saat ini kondisi perempuan itu sangat kritis, dengan luka di kepala dan kakinya, harian India tersebut menambahkan.

Sementara itu, prajurit dari Assam Rifles yang menjadi pelaku telah ditangkap. Menurut laporan, rupanya korban bepergian sendirian dengan kereta yang ia tumpangi. [sm/islampos/e247/toi/www.globalmuslim.web.id]

https://www.google.com/maps/vt/data=Ay5GWBeob_WIPLDYoIWcfVXxvZu9XwJ55OX7Ag,546rGEP2VINbJs2iVlQx1FsMM-uuPx1ideG3oNt_apOiC9kGpagBdCyCnawYtHMgtl-8GE3xICLkqSCDy0qYah0habE
India “Negara Demokratis Terbesar di Dunia”Menyia-nyiakan Kaum Perempuannya
        Pada hari Jumat, 28 Desember 2012, mahasiswi kedokteran India berusia 23 tahun yang menjadi korban dari serangan pemerkosaan brutal 16 Desember oleh enam orang laki-laki di dalam bis di New Delhi, telah meninggal karena luka yang dideritanya. Kasusnya ini telah memicu protes massal di seluruh India menentang kelalaian dan ketidakpedulian pihak kepolisian dan pemerintah India dalam melindungi kaum perempuan dari kekerasan seksual. Kasus perkosaan telah berada pada tingkat epidemik, sebuah fenomena yang terjadi setiap hari dan menjadi kejahatan yang tumbuh tercepat di India, negeri demokrasi terbesar di dunia. Banyak serangan seksual tidak dilaporkan karena sejumlah besar perempuan telah kehilangan kepercayaannya pada sistem India dalam melindungi martabat mereka, sebagai konsekuensi dari besarnya skala persoalan, kultur impunitas (kekebalan) yang diberikan polisi terhadap pelaku, berbagai kasus yang dibiarkan berlarut-larut selama bertahun-tahun di pengadilan, dan tingkat kepastian hukum yang buruk. Menurut Al-Jazeera, seorang perempuan diperkosa setiap 20 menit di India, dan 24,000 kasus perkosaan telah dilaporkan hanya untuk tahun lalu saja. Media juga melaporkan bahwa 80% wanita di Delhi telah mengalami pelecehan seksual, sementara “The Times of India” melaporkan bahwa perkosaan di India telah meningkat secara mengejutkan sebanyak 792% selama 40 tahun terakhir
        Dr. Nazreen Nawaz, Anggota Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrirberkomentar,
“Di saat pemerintah Barat terus meng-ekspor “Demokrasi” pada dunia Islam sebagai sistem terbaik dalam menjamin martabat dan hak-hak perempuan, maka negeri demokratis terbesar di dunia ini justru dengan spektakuler telah gagal dalam melindungi kaum perempuannya.  Kejahatan seksual dengan tingkat yang mengerikan, sikap longgar pihak kepolisian India dalam menjaga martabat perempuan, dan sikap apatis dari pemerintah India dalam menjamin keamanan mereka adalah hasil dari kultur liberal yang secara rutin dan sistematis merendahkan nilai kaum perempuan, yakni kultur yang dibanggakan oleh negara dan diwujudkan dalam industri hiburan Bollywood. Kultur Bollywood ini, bersama dengan industri lain seperti entertainment, periklanan, dan pornografi yang didukung oleh sistem demokrasi sekuler liberal India telah menampilkan kaum perempuan sebagai objek untuk dimainkan memuaskan hasrat kaum lelaki, melakukan seksualisasi masyarakat, mendorong individu untuk mengejar keinginan egois jasmaniah mereka, mempromosikan hubungan di luar nikah, memelihara kultur pergaulan bebas dan memurahkan hubungan antara pria dan wanita. Semua ini telah menumpulkan kepekaan terhadap rasa jijik yang seharusnya dirasakan kaum lelaki, saat martabat kaum perempuannya dinodai. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa India telah mengejar posisi dan status yang sejajar dengan negara-negara liberal lainnya seperti US dan Inggris, yakni berada di antara para pemimpin global kekerasan terhadap perempuan. Sistem demokrat sekuler liberal ini, dimana setengah penduduknya hidup dalam ketakutan adalah bukanlah model yang bisa ditiru oleh dunia Muslim.
        “Adalah Islam, yang diterapkan secara komperehensif oleh sistem Khilafah yang menawarkan sebuah pendekatan yang sehat dan kuat dalam melindungi kehormatan perempuan. Islam menolak kebebasan liberal dan lebih mempromosikan Taqwa (kesadaran akan adanya Tuhan) di dalam masyarakat yang akan memelihara mentalitas dan rasa tanggung jawab dalam memandang dan memperlakukan kaum perempuan. Islam akan melarang upaya seksualisasi terhadap masyarakat termasuk semua bentuk komodifikasi dan eksploitasi tubuh kaum perempuan, sehingga hubungan antara jenis kelamin tidak pernah murahan atau merendahkan kaum perempuan. Islam menerapkan sebuah sistem sosial komprehensif yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan, termasuk cara berpakaian yang sederhana, pemisahan antara laki-laki dan perempuan, dan larangan terhadap hubungan di luar nikah – dimana semuanya mengarahkan pemenuhan hasrat seksual hanya pada kehidupan pernikahan, yang akan melindungi kaum perempuan dan masyarakat. Semua ini diterapkan di bawah payung sistem Khilafah yang mengharuskan sebuah sistem pengadilan yang efisien yang mampu menangani kejahatan dengan cepat, sebagaimana juga menerapkan hukuman yang berat seperti hukuman cambuk untuk fitnah terhadap kaum perempuanatau bahkan hukuman mati bagi pelanggaran atas martabat perempuan. Ini adalah negara dimana setiap perkataan atau tindakan tidak terhormat terhadap kaum perempuan akan dianggap sebagai kriminal dan tidak bisa ditoleransi, dan ini adalah negara yang akan menciptakan sebuah masyarakat yang aman bagi mereka yang belajar, bekerja, bepergian dan berkehidupan. Kami kemudian menyeru kaum perempuan di dunia Islam untuk merangkul Khilafah sebagai sistem yang mengandung prinsip-prinsip yang kredibel, kebijakan dan hukum-hukum yang melindungi martabat dan kesejahteraan mereka.
Dr. Nazreen Nawaz
Central
Media Office
Issue No : 1434 AH /11
Wednesday, 19 Safar 1434 AH 02-01-2013 CE
Press Release

Member of the Central Media Office
of Hizb ut Tahrir
[www.globalmuslim.web.id]
Powered by Blogger.