Terkuaknya kandungan zat radioaktif polonium di beberapa barang milik mendiang Presiden Palestina Yasser Arafat, pekan ini, mencuatkan teori konspirasi baru di balik kematian tokoh karismatik itu.
Laporan yang dirilis Al-Jazeera pekan ini mencuatkan indikasi bahwa Arafat meninggal dunia karena dibunuh. Laporan itu didasarkan pada penelitian dokter di Institut Radiasi Fisika Universitas Lausanne, yang menemukan polonium 210 dalam level tinggi di beberapa barang milik Arafat. Arafat meninggal dunia pada November 2004 silam, dan kematiannya memang masih menyisakan misteri karena sebabnya tidak diketahui dengan jelas.
Saat itu disebutkan bahwa Arafat meninggal karena menderita kelainan darah. Namun, ada juga yang menyebutkan dia meninggal karena AIDS. Sementara pada 2005, The NewYork Times melaporkan bahwa Arafat meninggal karena stroke.Laporan itu didasarkan dari catatan medis. Meski laporan itu menegaskan, dokter tak mampu menjelaskan penyebab utama kematiannya.
Kini, mau tak mau laporan Al-Jazeera yang didasarkan pada investigasi selama sembilan bulan itu,kembali mencuatkan pertanyaan yang muncul sejak delapan tahun lalu itu: apa penyebab kematian Arafat? Pemerintah Palestina telah mendesak dilakukan penyelidikan internasional atas kematian Arafat.Mereka juga telah menyetujui pembongkaran makam Arafat untuk melakukan otopsi.Persetujuan ini dilakukan setelah janda Arafat,Suha, meminta pembongkaran makam itu.
Penyidikan ini dipandang sebagai langkah penting untuk bisa menjawab teka-teki seputar kematian Arafat yang terus menggelayut selama bertahuntahun. Selain itu, langkah ini juga bisa membantu memperbaiki citra Arafat yang selama ini dilabeli teroris oleh Israel, serta menegaskan legalitasnya sebagai seorang pemimpin Palestina yang mengusahakan kemerdekaan dan perdamaian.
Jika memang Arafat meninggal dunia karena dibunuh, pertanyaan selanjutnya adalah siapakah pembunuhnya? Arafat masih menjabat sebagai Presiden Otoritas Nasional Palestina saat meninggal dunia. Dia sedang menjalani isolasi di sebuah kompleks di Ramallah atas perintah militer Israel selama tiga tahun.Arafat sakit selama dua pekan sebelum meninggal. Dia jatuh sakit hanya beberapa jam setelah makan malam terakhir pada 12 Oktober. Dokter awalnya mendiagnosis dia menderita flu.
Tapi tak seperti flu biasa,Arafat tidak mengalami demam dan malah menderita mual, diare, dan sakit perut yang luar biasa. Dokternya di Ramallah tidak bisa mendiagnosis bahwa dia mengalami gangguan darah akut yang dikenal sebagai DIC,yang menyebabkan kematiannya. Arafat kemudian dikirim ke sebuah rumah sakit militer Prancis di Clamart, pinggiran Paris, dengan pesawat pemerintah Prancis.
Di tempat itu,dia kemudian koma dan meninggal dunia pada 11 November 2004 dalam usia 75 tahun karena gangguan darah misterius. Ketidakjelasan penyebab kematian inilah yang mencuatkan pertanyaan mengenai pembunuhan. Tersangka pertama adalah Israel yang tampak membenci Arafat.
Apalagi, mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon telah menyebut Arafat sebagai hambatan perdamaian dan mempertimbangkan penyingkiran Arafat.Pada 2002, kepada koran Maariv, Sharon mengungkapkan penyesalannya karena tidak “menyingkirkan” Arafat pada 1982 saat perang Lebanon meletus. Pada 2003,Wakil Perdana Menteri Israel Ehud Olmert juga menyebutkan,membunuh Arafat adalah salah satu opsi yang ada saat itu.
Tapi ketika itu, pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden George W Bush berhasil menekan Israel untuk mengisolasi Arafat, setelah militer Israel menguasai kembali Tepi Barat pada 2002. Sharon tak puas dengan keputusan itu dan dilaporkan memberi tahu Bush bahwa dia mungkin tak lagi mau tunduk pada AS selama penyingkiran Arafat masih bisa dilakukan.
“Presiden Bush menjawab pengisolasian akan membuat nasib Arafat berada di tangan Yang Kuasa. Sharon memaparkan harus ada orang yang membantu Tuhan,” papar Uri Dan, mantan orang kepercayaan Sharon, kepada The New YorkTimes. Namun, teori lain menyebutkan Arafat meninggal dunia bukan karena dibunuh Israel, melainkan internal Palestina, dalam hal ini adalah Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Teori ini mencuat lantaran tak lama setelah dia meninggal, istri Arafat,secara terbuka menuding petinggi PLO membunuhnya. Sementara laporan Al-Jazeera pada 2009 menyebutkan, Farouk Qaddumi,pembelot senior Fatah di pengasingan, menuding Mahmud Abbas, pengganti Arafat, telah berkonspirasi dengan Israel untuk membunuh Arafat.
Laporan ini menyebabkan Al-Jazeera dilarang tayang di wilayah Palestina. “Untuk membersihkan diri dan melawan tuduhan politik, Abbas merekrut Bassam Abu Sharif,orang kepercayaan Arafat, yang dijuluki Muka Teror,” tulis editorial The Jerusalem Post,pada Rabu (4/7) lalu.“Tapi Abu Sharif justru menuding Israel sebagai dalangnya.”
Misteri Racun
Abu Sharif adalah orang pertama yang mencuatkan teori pembunuhan Arafat dengan racun. Pada 2009, dalam sebuah buku, mantan penasihat Arafat itu sudah mengungkapkan kecurigaannya bahwa Arafat telah diracun.Namun, racun itu bukan polonium,melainkan talium–racun yang tidak berwarna dan tidak berasa. Sharif adalah orang dekat Arafat. Dia pernah terlibat dalam pembajakan sebuah pesawat.
Dia kemudian mengalami cacat akibat bom Mossad pada 1972. Sharif lantas menjadi salah satu arsitek strategi Arafat pada akhir 1980-an untuk membuka negosiasi dengan Israel. “Saya yakin mereka meracuni makanannya tiap hari dan melakukannya di depan mata kita semua,” tulis Sharif dalam Arafat and the Dreamof Palestine. Bahkan,awal tahun ini Sharif kembali mengungkapkan klaim taliumnya berdasarkan tes yang dilakukan pakar toksikologi paling terkenal di Inggris.
Namun, dia tidak menyebut identitasnya. Selain Sharif, kecurigaan atas kematian Arafat yang dinilai tidak wajar juga diungkapkan dokter pribadi Arafat, Ashraf al-Kurdi. Kecurigaan Kurdi bahwa Arafat mati diracun beralasan. Selama Arafat jatuh sakit, dia tidak diizinkan berada di dekatnya sampai 28 Oktober, hari ketika Arafat ditransfer ke Prancis.
Menurut catatan medis Arafat, meski mendiagnosis flu,para dokter Arafat yang dibawa dari Yordania, Tunisia, dan Mesir tidak pernah meresepkan antibiotik sampai 27 Oktober,sehari sebelum dia diterbangkan ke Prancis.Dokter Prancis juga tidak pernah mendiagnosis penyakit lain atau infeksi akibat gangguan darah. Kurdi dan sebagian besar pejabat senior Palestina curiga bahwa Arafat diracuni, tes medis yang dilakukan untuk mencari jejak racun konvensional seperti barbiturate,opitate,dan amfetamin terbukti negatif.
Arafat juga tidak menderita kerusakan ginjal atau liver parah seperti kasus keracunan. Namun, Kurdi tetap yakin Arafat telah diracun. “Saya sekarang yakin dia diracuni,” ujar Kurdi pada September 2005, seperti dikutip dari International Business Times. “Semua gejala menunjukkan itu.”
Penyidikan Al-Jazeera
Laporan Al-Jazeera mengenai kemungkinan penyebab kematian Arafat memang melegakan bagi Suha Arafat,janda mendiang. Setidaknya laporan itu sedikit menjawab pertanyaan yang selama ini berkecamuk di dadanya, bagaimana suaminya yang sehat walafiat itu tibatiba jatuh sakit dan meninggal tidak lama kemudian. Al-Jazeera memang dipandang begitu peduli pada Arafat.
Pada 2009,jaringan televisi satelit itu menurunkan laporan tentang kecurigaan keterlibatan Abbas dan Israel dalam kematian Arafat, dan tahun ini mereka mengeluarkan laporan yang mungkin bisa menguak tabir misteri itu. Wartawan Al-Jazeera, Clayton Swisher, adalah orang yang pertama kali mencetuskan ide untuk mengungkap misteri itu. Swisher yang pernah beberapa kali bertemu Arafat itu merasa “terganggu” karena tidak ada orang yang terusik untuk menyelidiki kematian Arafat.
Dia membandingkannya dengan penyelidikan pembunuhan Presiden AS John F Kennedy yang menyebabkan pembentukan komisi penyidikan kongres, juga Perdana Menteri Lebanon Rafik Hariri yang menyebabkan pembentukan komisi penyelidikan yang dibekingi Perserikatan Bangsa-Bangsa. ( mr.heal / HSI /www.globalmuslim.web.id)

Post a Comment