Pembantaian Muslim Rohingya, Episode Sejarah Tergarang

 Barat menutup mata atas proses genosida terhadap warga Muslim etnis Rohingya, Myanmar, dalam rangka mempertahankan kepentingan ekonominya di pasar yang cukup menjanjikan di negara Asia itu.
Seorang pakar politik, Ramzy Baroud menyatakan, "Rohingya saat ini sedang melalui episode paling garang dalam sejarah mereka, dan penderitaan mereka merupakan yang paling pedih dibandingkan berbagai masalah lain di dunia."
"Namun kisah penderitaan mereka secara mencurigakan absen dari prioritas regional dan internasional, atau diremehkan mengingat melimpahnya sumber daya alam hidrokarbon, mineral, permata, dan kayu," tambah Baroud.
Pada 3 Juni, 10 warga etnis Muslim Rohingya tewas ketika segerombolan kelompok ekstrim Rakhines yang sebagian besarnya adalah penganut Budha, menyerang sebuah bus penumpang di negara bagian barat Rakhine Myanmar yang berbatasan dengan Bangladesh.
Menurut keterangan sebuah LSM yang berbasis di Inggris, dari tanggal 10 hingga 28 Juni, 650 Muslim Rohingya tewas, 1.200 hilang, dan lebih dari 80.000 orang lainnya mengungsi akibat kerusuhan, pembakaran, dan siklus serangan balasan.
Baroud juga mengecam kelompok-kelompok pro-demokrasi Myanmar, khususnya Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi atas kebungkaman mereka menyikapi genosida terhadap warga Muslim etnis Rohingya.
Baroud menilai kekerasan brutal yang dihadapi minoritas Muslim Myanmar itu terjadi di saat Amerika Serikat dan Inggris menghentikan kampanye pro-demokrasi mereka melawan junta Burma.
Selain itu, aksi blackout media massa dan pemerintahan Barat juga bergulir setelah perusahaan-perusahaan Barat terjun ke Myanmar untuk menyingkirkan posisi eksklusif Cina terhadap perekonomian Myanmar.
Kalangan bisnis Barat berlomba-lomba menjamah pasar Myanmar setelah Presiden Barack Obama membatalkan larangan investasi di negara tersebut. Pada saat yang sama, Inggris juga telah membuka kantor perdagangannya di Rangoon pada 11 Juli lalu.
Baroud berpendapat bahwa kebungkaman Barat atas kejahatan keji terhadap etnis Muslim Rohingya, sepenuhnya berdasarkan kepentingan ekonomi dan hegemonik mereka di Myanmar.[ian/irn/www.globalmuslim.web.id]